Jakarta – Tidur merupakan bentuk fisiologis dan berulang dari penurunan kesadaran, di mana terjadi penurunan fungsi kognitif secara global sehingga otak tidak merespon secara penuh terhadap stimulasi sekitar. Saat terlelap, otak akan membersihkan racun-racun tidak berguna yang terbentuk ketika kita berpikir seharian. Oleh karena itu, memiliki kualitas tidur yang baik dapat membantu menjaga kesehatan otak.
Dalam rangka memperingati Hari Tidur Sedunia yang jatuh pada tanggal 13 Maret 2026, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON Mahar Mardjono Jakarta) mengadakan edukasi kesehatan pada Kamis, 5 Maret 2026, yang berlangsung di Poli Rawat Jalan Lantai 2 Gedung A. Kegiatan ini mengangkat tema “Tidur Berkualitas untuk Otak yang Sehat” dengan menghadirkan narasumber ahli dari RSPON Mahar Mardjono Jakarta, yaitu dr. Asnelia Devicaesaria, SpN, Subsp. NGD(K). Acara yang berlangsung sekitar satu jam ini disimak dengan antusias oleh para pasien dan caregiver yang berada di area tunggu antrean poli rawat jalan.
Dalam paparannya, dr. Asnelia menjelaskan bahwa terdapat tujuh pilar kesehatan otak melalui tidur. Pilar-pilar tersebut meliputi memperkuat memori dengan mengkonsolidasi pembelajaran, mengatur stres dan perasaan melalui regulasi emosi, mengaktifkan pertahanan otak dalam sistem imun, memulihkan sel otak yang rusak melalui perbaikan jaringan, mengatur neurotransmitter esensial untuk keseimbangan hormon, menajamkan kognisi dengan meningkatkan konsentrasi dan fokus, serta menurunkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson melalui proteksi neurodegeneratif.
Lebih lanjut, dr. Asnelia menerangkan bahwa kebutuhan jam tidur ideal berbeda menurut usia. Untuk orang dewasa usia 18–64 tahun, durasi tidur yang dianjurkan adalah 7–9 jam per malam, sedangkan untuk lansia usia 65 tahun ke atas, durasi tidur yang dianjurkan adalah 7–8 jam per malam. Indikator penentu kualitas tidur yang baik juga meliputi minim gangguan tanpa terpotong oleh suara, cahaya, atau ketidaknyamanan fisik; fase tidur yang seimbang antara fase restorasi fisik (NREM) dan fase kognitif (REM); kontinuitas tidur yang terjaga tanpa sering terbangun di tengah malam; serta perasaan segar dan pulih saat bangun sehingga siap beraktivitas.
Di akhir sesi, dr. Asnelia menyampaikan bahwa untuk mencapai tidur yang berkualitas, kita perlu menciptakan rutinitas dan lingkungan fisik yang mendukung tidur nyenyak. Hal ini dapat dimulai dengan menerapkan jadwal tidur yang konsisten, yaitu tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari termasuk di akhir pekan. Selain itu, optimasi suhu dan cahaya dengan menjaga kamar tetap gelap, tenang, dan sejuk di suhu ideal 18–22 derajat Celcius sangat dianjurkan. Penggunaan kasur dan bantal yang suportif dan nyaman juga penting untuk menghindari rasa tidak nyaman atau sakit saat tidur. Masyarakat juga diimbau untuk menghindari konsumsi kafein serta melakukan rutinitas relaksasi 30 menit sebelum tidur, seperti meditasi ringan, dan menghindari paparan polusi cahaya biru dari perangkat gadget. Melalui edukasi ini, diharapkan masyarakat dapat memahami pentingnya tidur berkualitas untuk menjaga kesehatan otak dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.***