Sukoharjo β RSO Soeharso sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan spesialistik dan subspesialistik di bidang muskuloskeletal dituntut untuk menyelenggarakan pelayanan yang bermutu, aman, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Kompleksitas tindakan ortopedi, termasuk prosedur pembedahan, penggunaan alat medis, serta risiko infeksi, menjadikan penerapan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) sebagai aspek yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari sistem pelayanan rumah sakit. Manajer Tim Kerja Pendidikan Dan Pelatihan RSO Soeharso Surakarta menyelenggarakan workshop Road To STARKES, pada Senin - Jum'at, 6 - 10 April 2026 di ruang Auditorium Lantai 3 Gedung Perkantoran.
Workshop dibuka oleh Plt. Direktur Medik dan Keperawatan, Dr. dr. Mujaddid Idulhaq, Sp.OT(K), M.Kes. Dengan narasumber internal sesuai dengan kompentensi masing masing terdiriΒ Nur Ma'arif,.S.Kep. Ners,.M.Kep, Kenwi Hastara Dewi, S.Kep, Ners.,MM, Ali Rosjidi, S.Kep, dan Yuni Astuti Tri Indrati, S.Kep. Ners. Dan materi yang disampaikan pengenalan PMKP, Patient Safety, Alat Pelindung Diri (APD), dan Praktik Penggunaan APD dan Hand Hygiene Sesuai Standar Keselamatan Pasien.
Keselamatan pasien (Patient Safety) merupakan prioritas utama dalam setiap proses pelayanan kesehatan. Risiko terjadinya kejadian tidak diharapkan, seperti kesalahan prosedur, infeksi terkait pelayanan kesehatan, maupun cedera akibat tindakan medis, perlu dicegah melalui pemahaman dan penerapan standar keselamatan pasien secara konsisten oleh seluruh sumber daya manusia rumah sakit. Dalam pelayanan ortopedi, risiko tersebut semakin meningkat karena adanya tindakan invasif, penggunaan implant, serta perawatan pasien dengan keterbatasan mobilitas, ungkap Nur Ma'arif,.S.Kep. Ners,.M.Kep.
Selain keselamatan pasien, keselamatan tenaga kesehatan juga harus menjadi perhatian utama. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat dan sesuai standar merupakan langkah penting dalam mencegah penularan infeksi dan melindungi tenaga kesehatan dari paparan bahaya biologis, kimia, maupun fisik. Kurangnya pemahaman dan kepatuhan terhadap penggunaan APD dapat berdampak pada meningkatnya risiko infeksi silang dan menurunnya mutu pelayanan.***