Padang - RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang holistik, tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga kesehatan mental pasien. Pada Rabu, 15 April 2026, rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan menggelar kegiatan edukasi kesehatan bertajuk “Bersahabat dengan Masa Kemoterapi” yang dilaksanakan di Ruang Kemoterapi.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari bidang psikiatri, yakni Dr. dr. Yaslinda Yaunin, Sp.KJ, yang memberikan pemahaman kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kesiapan mental dalam menjalani proses pengobatan, khususnya kemoterapi. Dalam pemaparannya, ia menekankan pada dasarnya setiap penyakit memiliki peluang untuk diobati, kecuali kondisi yang berkaitan dengan proses penuaan seperti pikun. Oleh karena itu, pasien diharapkan tetap memiliki harapan dan semangat dalam menjalani terapi.
“Setiap penyakit itu ada obatnya, kecuali penyakit karena proses penuaan seperti pikun. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga semangat dan tidak kehilangan harapan dalam menjalani pengobatan,” ujar Dr. dr. Yaslinda.
Ia menjelaskan setiap individu yang menghadapi peristiwa buruk, termasuk diagnosis penyakit serius, umumnya akan melalui beberapa tahapan reaksi mental. Tahapan tersebut meliputi fase menyangkal (denial), fase marah (anger), fase tawar-menawar (bargaining), fase depresi (depression), hingga akhirnya mencapai fase menerima (acceptance). Proses ini merupakan hal yang wajar dan menjadi bagian dari perjalanan emosional seseorang dalam beradaptasi dengan kondisi yang dihadapi.
“Reaksi seperti kaget, marah, hingga merasa putus asa adalah hal yang normal. Namun yang penting adalah bagaimana kita bisa sampai pada tahap menerima dan mulai beradaptasi dengan kondisi tersebut,” jelasnya.
Dalam upaya bangkit dari situasi tersebut, sebutnya, pasien dianjurkan untuk berkonsultasi dengan tenaga ahli dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi atau bujukan dari pihak yang tidak memiliki kompetensi di bidang kesehatan. Dukungan dari orang-orang terdekat juga menjadi faktor penting, sehingga pasien disarankan untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga atau orang yang dipercaya. Namun demikian, jika seseorang merasa perlu waktu untuk menyendiri, hal tersebut juga diperbolehkan selama dapat membantu proses pemulihan emosional.
“Jangan mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya. Konsultasikan penyakit kepada tenaga medis yang berkompeten, dan perkuat dukungan dari keluarga maupun orang terdekat,” tambah Dr. dr. Yaslinda.
Selain itu, penting bagi individu untuk tidak memendam perasaan duka secara berlarut-larut. Mengungkapkan perasaan melalui cerita atau curhat kepada orang terdekat dapat menjadi langkah awal yang baik dalam mengurangi beban psikologis. Pengelolaan stres juga perlu dilakukan dengan cara yang positif. Seperti melakukan aktivitas yang disenangi, menjaga pola makan dengan gizi seimbang, serta memastikan waktu istirahat yang cukup.
“Tipe bangkit dari kondisi sulit adalah dengan mengelola stres secara sehat, melakukan aktivitas yang disukai, makan dengan gizi seimbang, serta istirahat yang cukup. Hindari menyalahkan diri sendiri atau melakukan hal yang bisa membahayakan diri maupun orang lain,” tuturnya.
Ia menegaskan melalui kegiatan ini, berharap edukasi yang diberikan dapat meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga tentang pentingnya kesehatan mental selama menjalani kemoterapi, sehingga proses pengobatan dapat dijalani dengan lebih optimal. ”Kegiatan edukasi ini juga menjadi bagian dari upaya rumah sakit dalam menciptakan layanan yang lebih humanis dan berpusat pada pasien. Dengan menghadirkan pendekatan yang tidak hanya medis tetapi juga psikologis, RSUP Dr. M. Djamil terus berupaya mendukung proses penyembuhan pasien secara menyeluruh, baik dari sisi fisik maupun mental, sehingga kualitas hidup pasien dapat tetap terjaga selama masa pengobatan,” tukas Dr. dr. Yaslinda. ***