Makassar – Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar resmi menjalin kerja sama dengan Kolegium Kesehatan Anak Indonesia terkait Penyelenggaraan Program Fellowship Ilmu Kesehatan Anak pada Jumat, 12 Juni 2026.
Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) kedua belah pihak yang dilaksanakan di Ruang Rapat Lt. 5 Gedung Private Care Centre RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan anak dan pemerataan dokter spesialis berkompetensi khusus, terutama di wilayah Indonesia Timur.
Direktur Utama RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Annas Ahmad, Sp.B, FICS, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Kolegium Kesehatan Anak atas kepercayaan yang diberikan. Kerja sama ini dinilai memperkuat posisi RS Wahidin Sudirohusodo sebagai rumah sakit rujukan nasional sekaligus pusat pendidikan kedokteran.
"Melalui pendidikan fellowship ini, kita berharap lahir dokter-dokter spesialis anak yang unggul, profesional, berintegritas, serta mampu menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan anak yang semakin kompleks," ujar dr. Annas dalam sambutannya di Makassar.
Annas menyoroti tantangan nyata terkait distribusi tenaga medis. Saat ini, konsentrasi dokter spesialis anak masih berpusat di kota besar seperti Makassar, sementara daerah lain ke arah Papua masih sangat minim.
Menanggapi kebutuhan tersebut, RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo menyatakan komitmen penuh untuk menyukseskan program ini dengan memperkuat layanan klinis, tata kelola pendidikan, dukungan tenaga pendidik, sarana prasarana, hingga evaluasi dan monitoring yang berkelanjutan.
"Semoga penandatanganan kerja sama ini menjadi awal yang baik bagi kolaborasi yang produktif, memberikan manfaat besar bagi pendidikan kedokteran, serta peningkatan mutu layanan anak," tambah dr. Annas.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Kolegium Kesehatan Anak, dr. Fatima Safira Alatas, Ph.D, Sp.A(K), menjelaskan bahwa program fellowship ini didesain singkat selama 6 bulan. Hal ini menjadi solusi cepat untuk mengisi kekosongan dokter sub-spesialis (konsultan) di daerah yang biasanya harus menempuh pendidikan formal selama 2 tahun.
"Mortalitas dan morbiditas anak, terutama neonatus (bayi baru lahir), di Indonesia masih sangat tinggi. Jauh di atas negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura yang sudah di bawah 5 persen," jelas dr. Fatima. Selain angka kematian bayi, persoalan stunting yang masih tinggi juga menjadi alasan kuat kolegium membuka 14 peminatan fellowship.
Fatima mengungkapkan, wilayah Sulawesi merupakan salah satu daerah dengan animo tertinggi, khususnya untuk peminatan Neonatologi. Melalui PKS ini, RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo ke depan dapat langsung membuka peminatan fellowship lainnya sesuai kebutuhan daerah dan kesiapan sarana prasarana.
"Mudah-mudahan ke depan semakin banyak fellowship yang bisa dilaksanakan di RS Wahidin, supaya mutu pelayanan RSUD-RSUD di wilayah Sulawesi semakin bagus. Ini menjadi berkah bagi anak-anak Indonesia untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang lebih baik," pungkas dr. Fatima.***