Kamis, 30 Juli 2026 17:27 WIB

Menkes Apresiasi Program Alih Iptek Bedah Jantung Anak RS M Djamil Bersama KSRelief

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
25

Padang - RS M. Djamil terus memperkuat perannya sebagai rumah sakit rujukan nasional dalam pengembangan layanan bedah jantung anak melalui kolaborasi internasional. Upaya tersebut mendapat perhatian langsung dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin yang melakukan kunjungan kerja ke RS M. Djamil pada Rabu, 29 Juli 2026 malam untuk meninjau pelaksanaan Program Alih Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Operasi Bedah Jantung Anak hasil kerja sama RS M. Djamil dengan King Salman Humanitarian Aid and Relief Center (KSRelief) dan Muslim World League.

Kedatangan Menteri Kesehatan disambut Direktur Utama RS M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua didampingi jajaran direksi dan manajemen rumah sakit. Mengawali kunjungannya, Menteri Kesehatan melakukan ramah tamah bersama tim medis KSRelief, Muslim World League, serta tim dokter RS M. Djamil di Ruang Rapat Direksi. Pertemuan tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kapasitas layanan bedah jantung anak di Indonesia melalui transfer pengetahuan dan keterampilan dari para ahli internasional.

Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Arab Saudi melalui KSRelief dan Muslim World League yang tidak hanya memberikan pelayanan operasi kepada pasien anak Indonesia, tetapi juga membekali tenaga medis Indonesia dengan keterampilan yang akan memberikan manfaat jangka panjang.

"Bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan dokter kita, tetapi juga untuk menyelamatkan nyawa orang Indonesia, khususnya anak-anak penderita penyakit jantung," kata Budi Gunadi Sadikin.

Menurut Menkes, penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Tercatat sekitar 500.000 kematian akibat penyakit jantung koroner terjadi setiap tahun secara global. Karena itu, Kementerian Kesehatan terus mempercepat pemerataan layanan bedah jantung terbuka di berbagai daerah melalui program pengampuan nasional.

"Pada tahun 2019 sebelum program pengampuan berjalan, baru sembilan provinsi yang mampu memberikan layanan bedah jantung terbuka. Setelah program pengampuan dilaksanakan, kini sudah 30 provinsi yang mampu melakukan layanan tersebut. Ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan rumah sakit memberikan hasil yang nyata," ujarnya.

Menteri Kesehatan menambahkan penguatan layanan bedah jantung tidak hanya dilakukan melalui pemerataan rumah sakit yang mampu melaksanakan operasi jantung terbuka, tetapi juga dengan meningkatkan kapasitas rumah sakit rujukan nasional agar mampu menangani kasus-kasus yang semakin kompleks.

"Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita sebagai rumah sakit rujukan nasional juga memiliki target untuk terus meningkatkan kemampuan operasi jantung terbuka. Rumah sakit rujukan harus menjadi pusat pengembangan kompetensi, inovasi, dan transfer ilmu sehingga mampu menangani kasus-kasus dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi sekaligus membimbing rumah sakit jejaring di berbagai daerah," ujar Budi Gunadi Sadikin.

Menurut Menkes, strategi tersebut sejalan dengan program pengampuan Kementerian Kesehatan yang bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap layanan bedah jantung berkualitas. β€œDengan semakin banyak rumah sakit yang memiliki kemampuan melakukan operasi jantung terbuka, termasuk menangani kasus bedah jantung anak yang kompleks, maka angka rujukan ke luar daerah dapat ditekan dan pasien memperoleh penanganan lebih cepat,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Kesehatan juga memberikan tantangan kepada tim bedah jantung anak RS M. Djamil untuk terus meningkatkan kompetensi hingga mampu melakukan tindakan Norwood Stage 1, salah satu prosedur bedah jantung bawaan paling kompleks yang dilakukan pada bayi dengan kelainan jantung kritis atau Hypoplastic Left Heart Syndrome (HLHS).

"Norwood Stage 1 merupakan salah satu operasi bedah jantung anak yang paling sulit. Prosedur ini dikerjakan pada bayi dengan kelainan jantung bawaan yang sangat kompleks sehingga membutuhkan kemampuan tim medis yang benar-benar terlatih. Kalau tim RS M. Djamil nantinya mampu melakukan tindakan ini secara mandiri, artinya kemampuan layanan bedah jantung anak di rumah sakit ini sudah berada pada level yang sangat tinggi. Semakin banyak rumah sakit yang mampu melakukan operasi seperti ini, semakin besar pula kesempatan anak-anak Indonesia dengan kelainan jantung bawaan kompleks mendapatkan penanganan cepat tanpa harus dirujuk ke luar negeri," kata Budi Gunadi Sadikin.

Usai ramah tamah, Menteri Kesehatan bersama tim medis KSRelief dan tim dokter RS M. Djamil meninjau langsung proses operasi bedah jantung anak yang sedang berlangsung di Instalasi Bedah Sentral Lantai 1 IGD. Menkes menyaksikan secara langsung kolaborasi antara dokter Indonesia dan tim ahli dari Arab Saudi dalam melakukan tindakan operasi terhadap pasien anak dengan kelainan jantung bawaan.

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke ruang Intensive Care Unit (ICU). Di lokasi tersebut, Menteri Kesehatan berdialog dengan dokter spesialis, perawat, serta tim medis dari KSRelief tentang proses penanganan pasien pascaoperasi, sistem pelayanan intensif, hingga proses transfer ilmu yang berlangsung selama program berlangsung.

Rangkaian kunjungan berlanjut ke ruang rawat inap di Lantai III Gedung Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu (IPJT). Di sana, Menteri Kesehatan menyempatkan diri berbincang dengan sejumlah pasien anak beserta keluarga yang tengah menjalani masa pemulihan. Ia memberikan semangat kepada para pasien dan berharap seluruh proses pengobatan berjalan lancar sehingga anak-anak dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

Direktur Utama RS M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan kunjungan Menteri Kesehatan menjadi penyemangat bagi seluruh tenaga kesehatan di RS M. Djamil untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat pengembangan layanan bedah jantung anak sebagai salah satu layanan unggulan rumah sakit.

"Kunjungan Bapak Menteri Kesehatan merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan layanan bedah jantung anak di RS M. Djamil. Program alih ilmu pengetahuan dan teknologi ini tidak hanya memberikan manfaat bagi pasien yang saat ini menjalani operasi, tetapi juga meningkatkan kompetensi tim medis kami sehingga ke depan semakin banyak anak Indonesia yang dapat memperoleh pelayanan bedah jantung berkualitas tanpa harus dirujuk ke luar negeri," ujar Dovy.

Sementara itu, Ketua Tim Pelaksanaan Alih Iptekdok KSRelief RS M. Djamil, dr. Ardiansyah, Sp.BTKV, MARS, FICS, FISQua, FIATCVS menjelaskan sejak program dimulai pada Sabtu (25/7), hingga Rabu (29/7) telah terlaksana 23 operasi bedah jantung anak dengan berbagai tingkat kompleksitas kasus.

"Sebagian besar pasien yang kami tangani merupakan kasus kompleks dan beberapa di antaranya belum pernah dikerjakan sebelumnya di RS M. Djamil. Pada program ini kami juga berhasil melakukan prosedur yang sebelumnya belum pernah dilakukan di sini, yaitu Arterial Switch Operation (ASO) dan Aortic Root Replacement atau Bentall pada pasien anak. Operasi masih akan berlangsung hingga Kamis dan kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut sehingga kemampuan tim bedah jantung anak RS M. Djamil semakin berkembang," jelasnya.

Kesan positif juga disampaikan salah seorang anggota tim KSRelief, dr. Aljohara Hamzah. Ia mengaku terkesan dengan budaya kerja yang dibangun RS M. Djamil selama pelaksanaan misi kemanusiaan tersebut.

"Kami melihat seluruh tim bekerja dengan penuh kepedulian terhadap pasien. Tidak hanya kompetensi medis yang sangat baik, tetapi juga hospitality yang luar biasa dari seluruh tenaga kesehatan di RS M. Djamil. Hal ini memberikan kenyamanan bagi kami selama berada di sini," katanya.

Dalam pelaksanaan program ini, tim medis KSRelief menurunkan sebanyak 15 personel yang terdiri atas Consultant Cardiac Surgery, Cardiac Surgery Registrar, Perfusionist, Anesthesia Consultant, Consultant Cardiologist, ICU Consultant, nurse, ICU nurse, serta Senior Respiratory Therapist. Kehadiran tim multidisiplin tersebut menjadi bagian penting dalam proses transfer ilmu dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan RS M. Djamil sehingga diharapkan mampu memperkuat kemandirian layanan bedah jantung anak di Indonesia pada masa mendatang.Β ***