Jakarta - RSAB Harapan Kita menjadi saksi puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 pada Jumat, 31 Juli 2026. Mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", acara ini ditandai dengan langkah bersejarah peluncuran Layanan Terintegrasi Penerbitan Akta Kelahiran, penyerahan inovasi Termometer Pemantauan Suhu Bayi Demam (Bebetemp), serta peninjauan langsung Pemeriksaan Kesehatan Anak.
Kegiatan puncak ini merupakan penutup dari serangkaian acara yang telah berlangsung sejak 23 Juli 2026, yang meliputi lomba mewarnai, pertunjukan sulap edukatif, edukasi kesehatan daring, hingga pemeriksaan kesehatan gratis bagi anak.
Meski tidak dapat hadir secara langsung, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, turut menyampaikan arahannya melalui tayangan video. Beliau menegaskan komitmen nyata pemerintah terhadap kesehatan dan kepastian hak sipil anak Indonesia.
"Dalam hitungan menit, bayi yang baru lahir langsung dihadapkan pada tiga pertanyaan: Apakah hidupnya akan sehat? Apakah ia diakui negara? Dan apakah ada yang menjaga kesehatannya? Hari ini kita jawab ketiganya," tegas Menkes Budi Gunadi Sadikin. Beliau menekankan bahwa generasi emas 2045 harus dimulai dari anak yang sehat dan memiliki identitas resmi sejak tangisan pertamanya. Kehadiran Kementerian Kesehatan pada acara ini diwakili secara langsung oleh Sekretaris Jenderal Kemenkes RI, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, yang turut menyerahkan cinderamata dan meninjau langsung implementasi program di lapangan.
Terobosan utama dalam peringatan HAN 2026 ini adalah kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri untuk menghubungkan ekosistem SATUSEHAT dengan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK).
Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dirjen Dukcapil) Kemendagri, Dr. Drs. H. Teguh Setyabudi, M.Pd., menjelaskan bahwa dokumen kependudukan adalah bentuk perlindungan hukum dari negara yang harus diberikan secara cepat, tepat, dan gratis. "Melalui launching ini, implementasinya nanti akta lahir tidak delay lagi. Anak yang lahir akan langsung mendapatkan akta kelahiran dan Nomor Induk Kependudukan (NIK) melalui Kartu Identitas Anak (KIA) yang berlaku seumur hidup," terangnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, MPH, memaparkan bahwa RSAB Harapan Kita ditunjuk sebagai pionir pelaksana integrasi ini. Mengingat hampir 80% persalinan saat ini terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), fasyankes memiliki peran strategis untuk mempercepat cakupan kepemilikan akta kelahiran yang tahun lalu baru mencapai 50% diterbitkan pada tahun kelahiran yang sama.
Puncak peringatan HAN 2026 juga menjadi panggung apresiasi bagi inovasi karya anak bangsa. Dalam momen tersebut, diserahkan sertifikat inovasi untuk Termometer Pemantauan Suhu Bayi Demam (Bebetemp) oleh Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes, dr. Ockti Palupi R., kepada inovator muda Kathleen Victoria dan Kimberly Georgia. Inovasi ini kemudian diserahkan secara simbolis kepada Direktur Utama RSAB Harapan Kita.
Bebetemp adalah termometer alarm berbasis sensor yang mampu memantau suhu tubuh bayi secara real-time. Alat ini memberikan peringatan otomatis jika terdeteksi suhu tidak normal (di atas 38°C atau di bawah 36°C), memungkinkan orang tua dan tenaga medis mengambil tindakan lebih cepat dan presisi.
Sebagai langkah konkret pencegahan dan pemantauan tumbuh kembang, Kemenkes menggandeng PT Bank Mandiri (Persero) Tbk melalui program Mandiri Bakti Kesehatan Anak. Program yang telah berjalan serentak di 10 rumah sakit di seluruh Indonesia ini memberikan akses pemeriksaan kesehatan gratis, meliputi skrining tumbuh kembang, pemeriksaan gigi dan mata, penilaian status gizi, hingga edukasi pola asuh.
Di RSAB Harapan Kita sendiri, program ini menargetkan 280 anak. Dr. Maria Endang Sumiwi melaporkan bahwa secara nasional, Kemenkes telah menjangkau pemeriksaan terhadap lebih dari 17 juta anak di tahun 2026, mulai dari bayi baru lahir hingga usia remaja, guna memastikan deteksi dini berbagai masalah kesehatan berjalan optimal.
Sinergi lintas kementerian dan lembaga yang terlihat dalam acara ini—dihadiri pula oleh Deputi Bidang Pelayanan Publik KemenPANRB Dr. Otok Kuswandaru, Senior Vice President Bank Mandiri Dessy Wahyuni, perwakilan WHO, World Bank, dan Vital Strategies—menunjukkan komitmen kuat mewujudkan sistem kesehatan dan administrasi yang berpusat pada kesejahteraan anak. Semangat "Sayang Anak, Sayang Indonesia" diharapkan tidak hanya menjadi gaung perayaan, namun terwujud dalam layanan nyata demi menyongsong generasi emas Indonesia 2045. ***