Selasa, 11 Agustus 2026 16:54 WIB

Kemenkes dan RSAB Harapan Kita Gelar Rakor Pengampuan KIA 2026 Sinergi Nasional Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi Menuju Indonesia Emas 2045

Responsive image
Humas - RS Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta
35

Jakarta - Dalam upaya mengakselerasi pemerataan layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di seluruh pelosok negeri, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama RSAB Harapan Kita menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Pengampuan Layanan KIA Tahun 2026. Acara yang berlangsung secara luring selama tiga hari, mulai 5 hingga 7 Agustus 2026 di Jakarta ini, mempertemukan seluruh jaringan rumah sakit pengampu, baik tingkat Paripurna, Utama, maupun Madya dari berbagai daerah di Indonesia.

Mewakili Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, acara ini resmi dibuka oleh Direktur Pelayanan Klinis Kemenkes RI, dr. Obrin Parulian, M.Kes. Dalam sambutannya, dr. Obrin menegaskan bahwa pengampuan ini didorong oleh visi besar negara untuk menyediakan akses layanan kesehatan yang setara, berkualitas, dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia, bukan hanya di kota-kota besar.

"Poin paling penting dalam pengampuan kesehatan ibu dan anak adalah pemerataan akses untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Ini bukan sekadar menurunkan angka kematian, tetapi bagaimana kita mempersiapkan generasi penerus dengan baik demi menyongsong visi Indonesia Emas di 2045," tegas dr. Obrin.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, Sp.A, Subsp.ETIA (K), dalam laporan kegiatannya menyampaikan antusiasme yang tinggi dari rumah sakit berjejaring yang hadir. Beliau menekankan bahwa Rakor luring pertama ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi implementasi program pengampuan KIA.

"Tugas kita sebagai pengelola rumah sakit adalah memastikan semua regulasi dan program dari Kemenkes benar-benar sampai dan dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Kita bertugas menjaga agar seluruh ibu dan bayi, baik yang ada di kota besar maupun di daerah, memiliki hak akses pelayanan kesehatan yang sama bila mengalami kendala kesehatan," papar dr. Reni.

Selama tiga hari pelaksanaan, Rakor ini diisi dengan berbagai agenda strategis, mulai dari penyusunan roadmap pengampuan KIA 2026-2029, pemenuhan SDM kesehatan, alokasi alat kesehatan, hingga berbagi pengalaman praktik baik (success story) dari RS pengampu paripurna. Para peserta juga melakukan pemetaan langsung (desk) untuk menyusun rencana kegiatan pengampuan KIA di regional masing-masing.

Pada hari ketiga yang sekaligus menjadi puncak acara, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan, dr. Azhar Jaya, S.H., SKM, MARS, hadir langsung untuk memberikan arahan strategis dan menutup kegiatan. Beliau memberikan penekanan kuat mengenai pentingnya mengejar ketertinggalan indikator kesehatan Indonesia di tingkat Asia Tenggara.

dr. Azhar menargetkan penurunan AKI menjadi sekitar 70-an (dari posisi 144) dan AKB menjadi 9 (dari posisi 14). Untuk mencapainya, Kementerian Kesehatan akan mulai menerapkan evaluasi yang berfokus pada output klinis fasilitas kesehatan. Setiap level rumah sakit akan diukur kompetensinya dengan standar nasional yang jelas, salah satunya dalam penanganan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).

"Nanti output dari Bapak/Ibu semua akan diukur. Rumah sakit tingkat Kabupaten/Kota (Madya) harus bisa menangani BBLR di atas 1.800 gram. Tingkat Provinsi (Utama) di atas 1.000 gram, dan untuk tingkat RSAB atau RSCM (Paripurna) harus bisa menangani di atas 500 gram. Akreditasi ke depan bukan sekadar dokumen, melainkan mengevaluasi fasilitas kesehatan secara keseluruhan, termasuk kesiapan sarana, prasarana, alat kesehatan, hingga manajemennya," tegas dr. Azhar. Beliau juga mengajak seluruh pimpinan rumah sakit untuk tidak resisten terhadap evaluasi, karena tujuannya murni untuk perbaikan layanan yang menyeluruh.

Arahan ini diakhiri dengan agenda krusial, yaitu Penandatanganan Komitmen Nasional oleh seluruh perwakilan rumah sakit yang hadir, sebagai simbol kesiapan menjalankan program pengampuan secara masif dan terstruktur.

Kegiatan Rakor ini mendapat apresiasi positif dari para peserta. Arie Restiati, M.Si, Kepala Urusan Pengembangan Layanan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, menilai forum ini sangat krusial sebagai ruang diskusi pencapaian dan kendala di wilayah masing-masing. "Harapannya, kolaborasi antara rumah sakit pengampu dan jejaring semakin kuat sehingga layanan KIA merata dan mudah diakses," tuturnya.

Kesiapan untuk menyukseskan program ini juga diutarakan oleh perwakilan RSUD Welas Asih Jawa Barat, dr. Anthony Wijaya, Sp.OG, dan Direktur Utama RSUD ODSK Provinsi Sulawesi Utara, dr. David Christian Kolibu, M.M.RS.

"Kami berterima kasih kepada Kemenkes, karena melalui pertemuan ini kami mendapatkan banyak ilmu baru tentang bagaimana mengembangkan potensi rumah sakit, berkoordinasi, serta memberikan pengampuan kepada rumah sakit Madya di daerah kami agar angka kematian ibu dan anak dapat ditekan secara signifikan," tutup dr. David. ***