Bandung - Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan menggelar Workshop Penguatan Pelayanan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) di Provinsi Jawa Barat pada 18 - 20 Agustus 2026, di Bandung, Jawa Barat. Kegiatan yang mengusung tema "Menurunkan Kematian Neonatal dan Mendukung Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Neonatal di Rumah Sakit" ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan utama di bidang kesehatan, termasuk perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota, serta 14 rumah sakit rujukan di wilayah Jawa Barat. Selain itu, kegiatan ini juga turut didukung oleh mitra pembangunan seperti UNICEF dan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, yang menunjukkan komitmen bersama dalam upaya menekan angka kematian neonatal yang masih menjadi tantangan kesehatan nasional.
Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan, dr. Obrin Parulian, M.Kes, dalam sambutannya menekankan bahwa penguatan pelayanan NICU tidak boleh hanya berfokus pada ketersediaan unit atau tempat tidur, melainkan harus mencakup seluruh komponen sistem pelayanan secara menyeluruh. Beliau menyoroti perlunya pergeseran paradigma dari sekadar rumah sakit memiliki NICU menjadi rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan NICU yang aman, bermutu, tepat waktu, dan sesuai dengan kebutuhan klinis bayi. Beberapa aspek kunci yang ditekankan meliputi kesiapan sumber daya manusia, sarana prasarana dan alat kesehatan, tata kelola manajemen rumah sakit, mutu dan keselamatan pasien, serta sistem eskalasi klinis dan rujukan yang efektif apabila diperlukan. Menurut beliau, keberhasilan pelayanan neonatal sangat ditentukan oleh kesiapan berbagai komponen pendukung serta kemampuan rumah sakit dalam merespons kondisi bayi yang mengalami perburukan, sehingga perlu ada pendekatan yang sistematis dan terintegrasi.
Kegiatan workshop ini diikuti oleh 60 orang peserta yang terdiri atas perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, serta empat orang perwakilan dari 14 rumah sakit yang diundang. Setiap rumah sakit mengirimkan unsur Bidang Pelayanan Keperawatan, Bidang Pelayanan Medik, Dokter Anak atau Neonatologi, serta perawat yang bertugas di ruang NICU. Adapun keempat belas rumah sakit yang berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah RSUP Dr. Hasan Sadikin, RSUD Oto Iskandar Di Nata, RSUD Welas Asih, RS Umum Bandung Kiwari, RS Umum Majalaya, RS Oetomo, RS Umum Lira Medika, RSIA Grha Bunda, RSUD Kota Bandung, RS Santosa Hospital Bandung Central, RSUD Karawang, RS Amanda Mitra Keluarga, RS Hermina Arcamanik, dan RS Hermina Pasteur. Dengan komposisi peserta yang multidisplin ini, diharapkan terjadi penguatan kapasitas yang menyeluruh di setiap fasilitas pelayanan kesehatan yang terlibat.
Selama tiga hari pelaksanaan, workshop ini menggunakan metode pembelajaran yang sangat interaktif dan partisipatif, meliputi paparan materi dari narasumber ahli, diskusi kelompok untuk menggali permasalahan di lapangan, simulasi kasus guna mengasah keterampilan klinis, serta pemutaran video sebagai media pembelajaran visual. Para narasumber yang hadir berasal dari berbagai organisasi profesi terkemuka, seperti Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Perawat Anak Indonesia (IPANI), dan Ikatan Ahli Teknologi Elektromedik Indonesia (IKATEMI), serta tim kompeten dari Kementerian Kesehatan. Kehadiran perwakilan dari UNICEF dan Kedutaan Besar Amerika Serikat juga menegaskan dukungan internasional terhadap upaya peningkatan kualitas layanan neonatal di Indonesia. Seluruh peserta diwajibkan mengikuti dan aktif pada setiap tahapan rangkaian proses pembelajaran secara penuh agar tujuan kegiatan dapat tercapai secara optimal.
Materi yang disampaikan dalam workshop ini mencakup berbagai topik penting yang dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang pelayanan NICU. Beberapa materi tersebut antara lain kebijakan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 560 Tahun 2025, penyelenggaraan dan tata kelola pelayanan NICU yang efektif, tatalaksana kondisi neonatal kritis seperti Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Respiratory Distress Syndrome (RDS), dan sepsis, serta asuhan keperawatan spesifik yang mencakup termoregulasi, perawatan metode kanguru pada bayi prematur dan BBLR, pemberian makan, dan keterlibatan keluarga. Selain itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan tentang pencegahan dan pengendalian infeksi di NICU, pengelolaan alat kesehatan, penerapan Perubahan dan Peningkatan Kualitas yang Berkelanjutan (POCQI) serta pengembangan indikator mutu prioritas unit, hingga pelaksanaan audit kematian dan insiden keselamatan pasien.
Salah satu fokus utama dalam kegiatan ini adalah pengenalan dan penerapan Sistem Penilaian Dini dan Respons Cepat Neonatal (SPDR-Neo) serta mekanisme eskalasi klinis berdasarkan kondisi bayi. Hal ini menjadi sangat penting mengingat tantangan dalam pelayanan neonatal dapat muncul di setiap tahap proses pelayanan, mulai dari penilaian awal kondisi bayi, stabilisasi, pemberian tata laksana, pemantauan, deteksi perburukan, eskalasi klinis, hingga rujukan apabila diperlukan. Pada hari ketiga pelaksanaan workshop, para peserta diajak untuk secara aktif menyusun daftar kesenjangan pelayanan neonatal di masing-masing rumah sakit dan wilayah, baik dari aspek pelayanan klinis maupun manajemen. Hasil identifikasi kesenjangan tersebut kemudian dipaparkan dalam diskusi kelompok untuk merumuskan rekomendasi dan rencana tindak lanjut yang konkret dan terukur, sehingga setiap rumah sakit memiliki peta jalan yang jelas dalam meningkatkan kualitas pelayanan NICU-nya.
Dengan terselenggaranya workshop ini, diharapkan terjadi peningkatan pemahaman dan kapasitas dalam penyelenggaraan layanan NICU secara komprehensif di seluruh rumah sakit dan dinas kesehatan yang terlibat. Hal ini diharapkan berdampak pada peningkatan mutu dan keamanan pelayanan neonatal di setiap fasilitas kesehatan, sehingga mampu memberikan pelayanan yang tepat, cepat, dan berkualitas bagi setiap bayi yang membutuhkan. Pada akhirnya, penguatan pelayanan NICU ini merupakan bagian dari upaya nasional yang berkelanjutan untuk menurunkan angka kematian neonatal di Indonesia. Serta dengan diselenggarakannya kegiatan ini para peserta diharapkan agar segera mengiplementasikan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh selama workshop dapat di masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan demi keselamatan dan kesehatan bayi-bayi di Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya. ***