RS M Djamil Tegaskan Pentingnya Pendekatan Multidisiplin dalam Pelayanan Pasien
Padang - RS M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sekaligus memperkuat pengembangan keilmuan kedokteran. Komitmen tersebut kembali terlihat melalui keterlibatan RS M. Djamil dalam Pertemuan Ilmiah Berkala (PIB) XXVI Ilmu Penyakit Dalam yang digelar pada Sabtu, 26 September 2026.
Direktur Medik dan Keperawatan RS M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), hadir sekaligus memberikan sambutan pada kegiatan ilmiah yang diselenggarakan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas bersama RS M. Djamil dan Perhimpunan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Sumatera Barat tersebut.
Pertemuan ilmiah yang mengusung tema “Transforming Patient Care in Internal Medicine Through Multidisciplinary Approaches”. Tema tersebut menekankan pentingnya transformasi pelayanan pasien penyakit dalam melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu dan profesi kesehatan.
Dalam sambutannya, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman mengatakan tema yang diangkat pada PIB XXVI sangat relevan dengan tantangan pelayanan kesehatan saat ini. “Tema ini sangat relevan dengan perkembangan pelayanan kesehatan saat ini. Pasien datang dengan kondisi yang semakin kompleks sehingga penanganannya tidak dapat dilakukan oleh satu disiplin ilmu saja. Dibutuhkan kolaborasi, komunikasi dan koordinasi yang baik antara berbagai disiplin agar pelayanan yang diberikan benar-benar berorientasi pada kebutuhan pasien,” ujar Bestari.
Ia menambahkan, pendekatan multidisiplin bukan hanya berkaitan dengan keterlibatan banyak dokter dari berbagai bidang spesialisasi. Lebih dari itu, pendekatan tersebut juga mencakup kolaborasi antara dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya, akademisi serta berbagai unsur yang terlibat dalam proses pelayanan pasien.
“Transformasi pelayanan bukan sekadar menghadirkan teknologi atau metode baru. Transformasi harus mampu memberikan dampak nyata terhadap pengalaman dan keselamatan pasien. Karena itu, setiap inovasi dan pengembangan keilmuan harus kita arahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan,” katanya.
Ia menyebut forum seperti PIB memiliki arti penting karena menjadi ruang bagi para dokter dan tenaga kesehatan untuk memperbarui pengetahuan, berbagi pengalaman klinis serta mendiskusikan berbagai perkembangan dalam penanganan penyakit. “Rumah sakit pendidikan memiliki tanggung jawab untuk terus membangun budaya belajar. Pelayanan, pendidikan dan penelitian harus berjalan bersama. Dengan demikian, perkembangan ilmu yang diperoleh melalui forum ilmiah dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ujar Bestari.
RS M. Djamil, sebutnya, sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan memiliki peran strategis dalam pengembangan pelayanan kesehatan, khususnya di Sumatera Barat dan wilayah sekitarnya. Kompleksitas kasus yang ditangani di rumah sakit rujukan menjadi tantangan sekaligus peluang untuk terus memperkuat kolaborasi antarprofesi dan antardisiplin.
Dalam konteks tersebut, ilmu penyakit dalam memiliki posisi penting karena banyak pasien yang datang dengan lebih dari satu masalah kesehatan. Kondisi komorbiditas atau penyakit penyerta membutuhkan proses penilaian dan pengambilan keputusan klinis yang komprehensif.
“Pasien adalah pusat dari seluruh proses pelayanan. Ketika kita menempatkan pasien sebagai pusat, maka kolaborasi menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar pilihan. Kita perlu memastikan seluruh tenaga kesehatan dapat bekerja dalam satu sistem yang terintegrasi,” katanya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K), FACS, FFSTEd, mengatakan perkembangan ilmu kedokteran berlangsung sangat cepat. Kondisi tersebut membuat tenaga medis dan akademisi dituntut untuk terus belajar serta memperbarui kompetensinya.
“Perkembangan ilmu kedokteran sangat cepat. Karena itu, dokter tidak boleh berhenti belajar. Pertemuan ilmiah menjadi ruang untuk bertukar pengetahuan, menyampaikan hasil penelitian, membahas pengalaman klinis dan bersama-sama mencari pendekatan terbaik dalam memberikan pelayanan kepada pasien,” ujar Sukri.
Ia mengatakan pendekatan multidisiplin menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya kompleksitas masalah kesehatan. Penanganan pasien membutuhkan keterlibatan berbagai bidang keilmuan agar setiap aspek kondisi pasien dapat dinilai secara menyeluruh.
“Pelayanan pasien yang baik membutuhkan kerja tim. Masing-masing disiplin memiliki kompetensi dan perspektif yang berbeda, dan ketika semuanya dipadukan dengan komunikasi serta koordinasi yang baik, maka pelayanan kepada pasien dapat menjadi lebih komprehensif,” katanya.
Sukri juga menekankan pentingnya keterhubungan antara pendidikan, penelitian dan pelayanan. “Perkembangan keilmuan yang dibahas dalam forum akademik tidak boleh berhenti pada ruang seminar, tetapi perlu diterapkan dalam praktik pelayanan dengan tetap memperhatikan bukti ilmiah, keselamatan pasien dan kebutuhan masyarakat,” tukasnya. ***