RS M Djamil Berikan Edukasi tentang Varises dan CVI
Padang - Keluhan pada kaki seperti bengkak, nyeri, perubahan warna kulit hingga munculnya luka yang sulit sembuh tidak selalu boleh dianggap sebagai gangguan ringan. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan aliran darah pada pembuluh vena yang dikenal sebagai Chronic Venous Insufficiency (CVI) atau insufisiensi vena kronis.
Hal tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan RS M. Djamil dalam kegiatan edukasi kesehatan yang digelar di Instalasi Diagnostik Terpadu pada Senin, 28 September 2026. Edukasi kesehatan tersebut dilaksanakan melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan dengan menghadirkan Ns. Syamsi Yanti, S.Kep, Ns. Nidya Sari, S.Kep, Ns. Anggi Fashal, S.Kep dan Ns. Sri Ulfanora, S.Kep sebagai narasumber.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penjelasan tentang varises, Chronic Venous Insufficiency, faktor risiko, tanda-tanda yang perlu diwaspadai hingga langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan tungkai.
Ns. Syamsi Yanti, S.Kep menjelaskan varises merupakan kondisi ketika pembuluh darah vena mengalami pelebaran dan berkelok-kelok, yang umumnya terjadi pada tungkai. Kondisi ini berkaitan dengan kelemahan katup vena sehingga aliran darah yang seharusnya kembali menuju jantung tidak berjalan dengan lancar.
“Varises adalah pelebaran dan berkelok-keloknya pembuluh darah vena, biasanya pada tungkai, akibat kelemahan katup vena sehingga aliran darah balik tidak lancar,” jelas Ns. Syamsi Yanti.
Ia mengatakan, CVI terjadi ketika pembuluh darah vena pada tungkai tidak mampu mengembalikan darah ke jantung secara optimal. “Gangguan tersebut dapat menimbulkan keluhan pada tungkai yang perlu diperhatikan, terutama apabila gejala semakin berat atau berulang,” tuturnya.
Menurut Ns. Syamsi Yanti, terdapat faktor yang membuat seseorang lebih rentan mengalami CVI. Faktor tersebut terdiri dari kondisi yang tidak dapat dikendalikan dan faktor gaya hidup yang masih dapat diubah. Faktor yang tidak dapat dikendalikan di antaranya pertambahan usia, riwayat keluarga, jenis kelamin perempuan dan kehamilan.
“Faktor-faktor tersebut merupakan kondisi yang tidak dapat dihilangkan, sehingga perhatian terhadap gejala dan penerapan kebiasaan hidup sehat menjadi penting,” ucap Ns. Syamsi Yanti.
Sementara itu, terdapat pula faktor yang berkaitan dengan gaya hidup dan dapat dikendalikan. Di antaranya kebiasaan berdiri atau duduk terlalu lama, kurang aktivitas fisik, kelebihan berat badan dan kebiasaan merokok.
Kebiasaan duduk maupun berdiri dalam waktu lama membuat tungkai berada dalam posisi yang sama dalam periode panjang. “Karena itu, masyarakat dianjurkan melakukan pergerakan secara berkala dan tidak membiarkan tubuh berada dalam satu posisi terlalu lama,” ucapnya.
Aktivitas fisik juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tungkai. Tidak harus selalu berupa olahraga berat, masyarakat dapat memulainya dengan aktivitas sederhana seperti berjalan ringan secara teratur sesuai kemampuan.
“Selain aktivitas fisik, pengelolaan berat badan dan menghindari kebiasaan merokok juga menjadi bagian dari manajemen gaya hidup yang dapat dilakukan untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan,” tuturnya.
Ia menekankan pihaknya juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan keluhan pada kaki yang semakin berat maupun sering kambuh. Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan diperlukan untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan yang sesuai.
“Segera konsultasi ke fasilitas kesehatan untuk evaluasi dan penanganan jika Anda mengalami keluhan semakin berat atau sering kambuh, terjadi bengkak dan nyeri yang menetap, terdapat perubahan warna kulit kaki, atau muncul luka di tungkai yang tidak kunjung sembuh,” ujar Ns. Syamsi Yanti.
Perhatian juga perlu diberikan apabila muncul tanda-tanda yang mengarah pada infeksi. “Kemerahan, rasa panas, nyeri berlebih maupun demam merupakan kondisi yang perlu segera dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan,” sebutnya.
Dalam edukasi tersebut, para narasumber turut menjelaskan tiga pilar perawatan mandiri yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiganya mencakup modifikasi postur dan gerak, dukungan eksternal serta manajemen gaya hidup.
Modifikasi postur dan gerak dapat dilakukan dengan menghindari kebiasaan duduk atau berdiri terlalu lama. Masyarakat dapat membiasakan diri mengubah posisi dan melakukan gerakan ringan secara berkala, terutama ketika menjalani aktivitas yang mengharuskan berada dalam posisi tertentu untuk waktu yang panjang.
Pilar kedua adalah dukungan eksternal. Dukungan tersebut menjadi salah satu bagian dalam perawatan yang dapat digunakan sesuai kondisi masing-masing. Penggunaannya perlu memperhatikan kondisi individu dan, bila diperlukan, dilakukan berdasarkan anjuran tenaga kesehatan.
“Sementara pilar ketiga adalah manajemen gaya hidup. Aktivitas fisik teratur, menjaga berat badan, tidak merokok serta membangun kebiasaan hidup sehat menjadi bagian yang dapat dilakukan secara konsisten,” tambah Ns. Nidya Sari, S.Kep.
Untuk membantu masyarakat tetap aktif, Ns. Nidya Sari, S.Kep juga memperagakan latihan kaki sederhana yang dapat dilakukan di rumah. Latihan tersebut dapat dilakukan selama sekitar lima menit dengan pengulangan 10 hingga 15 kali, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“Gerakan pertama dilakukan dengan menggerakkan pergelangan kaki ke atas dan ke bawah sebanyak 10 hingga 15 kali. Setelah itu, pergelangan kaki diputar searah jarum jam sebanyak 10 hingga 15 kali.” ungkapnya.
Gerakan kemudian dilanjutkan dengan memutar pergelangan kaki berlawanan arah jarum jam sebanyak 10 hingga 15 kali. Latihan sederhana tersebut dapat dilakukan secara rutin dalam posisi yang nyaman.
“Selain latihan pergelangan kaki, berjalan ringan secara teratur juga dianjurkan sesuai kemampuan. Aktivitas sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari rutinitas untuk menjaga tubuh tetap aktif,” ujarnya.
Ia menekankan kesehatan kaki juga berkaitan erat dengan kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari. Kaki yang mengalami keluhan secara terus-menerus dapat mengganggu kenyamanan dan aktivitas apabila tidak diperhatikan.
Karena itu, kebiasaan sederhana seperti bergerak secara berkala, melakukan latihan kaki, berjalan ringan sesuai kemampuan dan menerapkan gaya hidup sehat dapat menjadi bagian dari perhatian terhadap kesehatan tungkai.
Edukasi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dari langkah yang besar. Gerakan sederhana yang dilakukan secara rutin dan perhatian terhadap perubahan kondisi tubuh dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas hidup. “Kaki sehat, langkah lebih ringan, aktivitas lebih menyenangkan,” ucapnya. ***