Rabu, 07 Oktober 2026 18:27 WIB

RS M Djamil Kenalkan Senam Intradialisis bagi Pasien Hemodialisis

RS M Djamil Kenalkan Senam Intradialisis bagi Pasien Hemodialisis
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 24 kali dilihat

Padang - Menjalani hemodialisis bukan berarti pasien harus selalu pasif selama berada di ruang perawatan. Di sela proses terapi yang berlangsung cukup lama, aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara tepat dan terarah dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh pasien.

Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam kegiatan edukasi kesehatan bagi pasien di Unit Hemodialisa Instalasi Diagnostik Terpadu RS M. Djamil, Rabu, 6 Oktober 2026. Kegiatan yang diselenggarakan melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan RS M. Djamil tersebut mengangkat tema senam intradialisis.

Edukasi menghadirkan sejumlah tenaga kesehatan sebagai narasumber, yakni Ns. Rosana Situmorang, S.Kep, Ns. Agung Kurniawan, S.Kep, Ns. Yuliafitri, S.Kep, Ns. Nengsih Indra, S.Kep, serta Alfakhry Dzaki, Amd.Kep. Para narasumber memberikan pemahaman kepada pasien tentang pentingnya aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kondisi pasien selama menjalani hemodialisis.

Ns. Rosana Situmorang, S.Kep menjelaskan, senam intradialisis merupakan bentuk latihan fisik ringan yang dapat dilakukan pasien ketika sedang menjalani proses hemodialisis. Gerakan yang diberikan bukan merupakan olahraga berat, melainkan aktivitas sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi pasien.

“Senam intradialisis merupakan latihan fisik ringan yang dilakukan selama proses hemodialisis. Gerakannya sederhana dan disesuaikan dengan kondisi pasien, sehingga pasien tetap dapat melakukan aktivitas fisik dengan memperhatikan keamanan selama menjalani terapi,” jelas Ns. Rosana.

Menurutnya, pasien yang menjalani hemodialisis secara rutin memiliki kebutuhan untuk tetap menjaga kemampuan fisiknya. Durasi terapi yang cukup panjang dan frekuensi hemodialisis yang dilakukan secara berkala dapat membuat waktu pasien untuk beraktivitas menjadi terbatas. Oleh karena itu, pasien perlu mendapatkan pemahaman bahwa aktivitas fisik tetap dapat dilakukan dengan cara yang tepat.

“Pasien hemodialisis menjalani terapi secara rutin dan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam satu kali tindakan. Karena itu, aktivitas fisik ringan yang aman dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu pasien tetap bergerak selama proses hemodialisis,” ujarnya.

Dalam edukasi tersebut, pasien diperkenalkan dengan sejumlah gerakan sederhana yang dapat dilakukan selama menjalani terapi. Gerakan dilakukan dengan memperhatikan posisi pasien dan kondisi akses vaskular agar tidak mengganggu proses hemodialisis.

Ia juga menekankan senam intradialisis tidak dapat dilakukan dengan memaksakan kemampuan tubuh. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda sehingga jenis, intensitas dan pelaksanaan aktivitas fisik perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

“Pasien tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti semua gerakan. Yang paling penting adalah tetap memperhatikan kondisi tubuh. Jika muncul keluhan atau rasa tidak nyaman, segera sampaikan kepada petugas,” kata Ns. Rosana.

Pesan tersebut menjadi penting karena aktivitas fisik selama hemodialisis tetap membutuhkan pengawasan dan kehati-hatian. Pasien perlu memahami batas kemampuan tubuh serta mengikuti arahan tenaga kesehatan yang mendampingi selama proses terapi.

Tidak hanya memberikan penjelasan, kegiatan edukasi juga diisi dengan praktik gerakan senam intradialisis. Pasien diajak mengikuti gerakan secara langsung sehingga lebih mudah memahami bagaimana aktivitas tersebut dilakukan dengan benar.

Suasana edukasi berlangsung interaktif. Pasien mendapatkan kesempatan untuk memperhatikan gerakan yang diperagakan oleh narasumber sekaligus memahami hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan aktivitas fisik selama hemodialisis.

“Harapannya, pasien mendapatkan pengetahuan yang bisa diterapkan selama menjalani hemodialisis. Pasien tetap bisa bergerak, tetapi tentu dengan gerakan yang aman, sesuai kemampuan dan mengikuti arahan tenaga kesehatan,” tutur Ns. Rosana. ***