RS M Djamil Ingatkan Pentingnya Pembatasan Cairan Bagi Pasien Cuci Darah
Padang - Menjalani hemodialisis atau cuci darah tidak hanya membutuhkan perawatan medis secara rutin, tetapi juga kedisiplinan pasien dalam mengatur asupan cairan sehari-hari. Pemahaman yang tepat tentang pembatasan cairan menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah kelebihan cairan dan menjaga kondisi tubuh tetap stabil. Untuk mendukung hal tersebut, RS M. Djamil terus berkomitmen meningkatkan pengetahuan pasien melalui edukasi kesehatan yang berkelanjutan.
Komitmen itu diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan kesehatan kelompok yang dilaksanakan di Unit Hemodialisa Instalasi Diagnostik Terpadu pada Jumat, 9 Oktober 2026. RS M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan menghadirkan edukasi tentang Pembatasan Cairan pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis.
Kegiatan tersebut menghadirkan enam narasumber, yakni Ns. Aida, S.Kep, Ns. Dalimanto, S.Kep, Kurnia Rahmadani, Amd.Kep, Dede Indah Diani, AMK, Dira Vellicia, Amd.Kep, dan Lara Nur Anggraini, Amd.Kep. Para narasumber memberikan penjelasan tentang pentingnya mengatur asupan cairan, cara menghitung kebutuhan cairan harian, hingga berbagai langkah praktis untuk mengendalikan rasa haus selama menjalani terapi hemodialisis.
Dalam pemaparannya, Ns. Dalimanto, S.Kep menjelaskan pembatasan cairan merupakan upaya mengatur jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh, termasuk cairan yang terkandung dalam makanan maupun buah-buahan. Bagi pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis, pengaturan tersebut perlu mendapat perhatian khusus karena kemampuan ginjal dalam membuang kelebihan cairan telah mengalami penurunan.
“Pembatasan cairan bukan hanya tentang mengurangi jumlah air yang diminum, tetapi juga memperhatikan cairan yang masuk melalui makanan dan buah-buahan. Pasien perlu memahami jumlah cairan yang diperbolehkan setiap hari agar keseimbangan cairan tubuh tetap terjaga selama menjalani hemodialisis,” jelasnya.
Ia menyampaikan, pembatasan cairan memiliki sejumlah tujuan penting, di antaranya membantu mencegah kondisi ginjal semakin memburuk, menjaga kenaikan berat badan tetap terkendali di antara jadwal hemodialisis, mengetahui kebutuhan cairan harian, serta membantu pasien mengatasi rasa haus dengan cara yang tepat.
Pada pasien yang menjalani hemodialisis, kelebihan cairan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. “Penumpukan cairan berisiko menyebabkan pembengkakan pada bagian tubuh tertentu, meningkatkan tekanan darah, serta menambah beban kerja jantung. Dalam kondisi yang lebih berat, kelebihan cairan juga dapat menyebabkan sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru,” tuturnya.
Karena itu, pasien perlu memahami bahwa kepatuhan terhadap pembatasan cairan merupakan bagian penting dari perawatan sehari-hari. Pengaturan asupan cairan yang baik dapat membantu mengendalikan kenaikan berat badan di antara dua sesi hemodialisis dan mengurangi risiko komplikasi akibat penumpukan cairan.
Ns. Dalimanto menjelaskan pembatasan cairan dapat dilakukan dengan mencatat dan menghitung jumlah cairan yang masuk serta jumlah urine yang dikeluarkan setiap hari. Pencatatan tersebut membantu pasien mengetahui pola asupan cairan dan menyesuaikannya dengan anjuran tenaga kesehatan.
Secara umum, salah satu rumus yang dapat digunakan sebagai panduan awal untuk menghitung kebutuhan cairan harian pasien hemodialisis adalah jumlah urine yang dikeluarkan selama 24 jam ditambah sekitar 500 mililiter. “Namun, jumlah tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi klinis, sisa fungsi ginjal, serta rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan yang merawat pasien,” ucapnya.
Pasien juga dianjurkan untuk mengukur setiap cairan yang dikonsumsi, termasuk air putih, teh, susu, kuah, dan minuman lainnya. “Makanan yang mengandung banyak air juga perlu diperhitungkan sesuai dengan panduan diet yang diberikan. Dengan melakukan pencatatan secara teratur, pasien dapat lebih mudah memantau asupan cairan dan menghindari konsumsi yang berlebihan,” ungkap Ns. Dalimanto.
Selain mengukur cairan yang diminum, pengaturan konsumsi garam juga menjadi perhatian dalam edukasi tersebut. Asupan garam berlebihan dapat meningkatkan rasa haus sehingga mendorong pasien minum lebih banyak. “Oleh sebab itu, pasien dianjurkan membatasi makanan tinggi garam, seperti makanan olahan, makanan yang diasinkan, serta makanan dengan tambahan penyedap atau bumbu yang mengandung natrium tinggi,” tuturnya.
Pengendalian gula darah juga menjadi bagian penting, khususnya bagi pasien yang memiliki diabetes. Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan rasa haus dan memengaruhi jumlah urine yang dikeluarkan. Dengan menjaga pola makan, mematuhi pengobatan, dan memantau gula darah sesuai anjuran tenaga kesehatan, pasien dapat membantu mengendalikan kondisi kesehatannya secara lebih optimal.
Tantangan lain yang sering dihadapi pasien dalam menjalankan pembatasan cairan adalah rasa haus yang muncul sepanjang hari. Kondisi ini dapat membuat pasien kesulitan mematuhi batas asupan cairan, terutama ketika cuaca panas atau setelah mengonsumsi makanan asin.
Untuk mengatasi hal tersebut, Ia pun membagikan sejumlah tips sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah menggunakan gelas berukuran kecil atau mengisi gelas hanya setengahnya ketika minum. Pasien juga dapat membagi jatah cairan harian menjadi beberapa porsi kecil agar tetap dapat minum secara berkala tanpa melampaui batas yang dianjurkan.
“Pasien disarankan mengatur waktu minum di antara waktu makan dan memilih minuman dingin apabila lebih membantu meredakan rasa haus. Penggunaan sedotan juga dapat menjadi pilihan bagi sebagian pasien untuk membantu mengontrol jumlah cairan yang diminum. Namun, jumlah keseluruhan cairan yang dikonsumsi tetap harus diperhitungkan dalam batas harian,” sebutnya.
Cara lain yang dapat dicoba adalah membuat es batu berukuran kecil dengan tambahan sedikit lemon atau jahe untuk memberikan sensasi segar. Pasien juga dapat mengonsumsi buah dingin dalam porsi yang sesuai, dengan memperhatikan kandungan kalium dan batas cairan yang ditetapkan. “Buah seperti apel dan anggur dapat menjadi pilihan sepanjang sesuai dengan anjuran diet pasien,” ucapnya.
Selain itu, mengisap irisan jeruk yang telah dibekukan atau mencelupkannya ke dalam air dapat membantu merangsang produksi air liur sehingga mulut terasa lebih segar. Berkumur dengan air dingin tanpa menelannya juga dapat membantu mengurangi rasa kering di mulut. Apabila bibir terasa kering, penggunaan pelembap bibir dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kenyamanan.
“Mengunyah permen karet bebas gula yang mengandung xylitol juga dapat membantu merangsang produksi air liur dan mengurangi rasa tidak nyaman akibat mulut kering. Sementara itu, konsumsi minuman berkafein perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi rasa haus dan kebiasaan minum pada sebagian orang. Penggunaan obat bersama makanan hanya boleh dilakukan apabila sesuai dengan petunjuk penggunaan obat atau arahan tenaga kesehatan,” paparnya.
Berbagai tips tersebut diharapkan dapat membantu pasien menjalani pembatasan cairan dengan lebih nyaman. Meski demikian, setiap pasien memiliki kondisi kesehatan dan kebutuhan cairan yang berbeda. Karena itu, pasien tidak dianjurkan menentukan batas cairan sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan yang menangani. ***