Seminar World Patient Safety RS M Djamil Pelajari Hospital Comprehensive Assessment
Padang - Hospital Comprehensive Assessment (HCA) hadir sebagai pendekatan penilaian kesehatan organisasi rumah sakit yang lebih komprehensif dengan mengintegrasikan lima pilar utama, yakni compliance, quality, performance, outcome, dan sustainability. Pendekatan ini diharapkan mampu membantu rumah sakit memahami kondisi organisasinya secara menyeluruh, mengidentifikasi risiko, serta mendorong perbaikan berkelanjutan yang berdampak nyata terhadap mutu dan keselamatan pasien.
Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Utama Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit (LAM-KPRS), dr. Andi Wahyuningsih Attas, Sp.An.T.I, Subsp.T.I.(K), MARS, dalam Seminar World Patient Safety yang berlangsung di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil, Jumat, 16 Oktober 2026.
Dalam pemaparannya, dr. Andi menjelaskan HCA menawarkan perspektif yang lebih luas dalam melihat kesiapan dan kesehatan organisasi rumah sakit. Penilaian tidak hanya berfokus pada pemenuhan standar akreditasi dan regulasi, tetapi juga mencakup kualitas pelayanan, kinerja organisasi, hasil yang dicapai, serta kemampuan rumah sakit mempertahankan dan meningkatkan hasil tersebut secara berkelanjutan.
“HCA hadir dengan perspektif yang lebih komprehensif. Compliance terhadap standar akreditasi dan regulasi menjadi fondasi, kemudian diintegrasikan dengan quality, performance, outcome, dan sustainability. Dengan demikian, rumah sakit tidak hanya dinilai dari kepatuhannya terhadap standar, tetapi juga dari bagaimana standar tersebut diterapkan dalam operasional dan memberikan dampak nyata bagi pelayanan,” jelasnya.
Seminar hari kedua World Patient Safety di RS M. Djamil tersebut turut dihadiri Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bersama jajaran direksi, manajemen, dan civitas hospitalia.
Ia menegaskan HCA tidak dimaksudkan untuk menggantikan survei akreditasi maupun diposisikan sebagai mock survey. HCA merupakan organizational health assessment atau penilaian kesehatan organisasi yang menggunakan standar akreditasi dan regulasi sebagai fondasi kepatuhan, kemudian menghubungkannya dengan aspek mutu, kinerja, hasil pelayanan, dan keberlanjutan perbaikan.
“Melalui pendekatan tersebut, rumah sakit diharapkan dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi aktual organisasinya. Penilaian tidak berhenti pada pemenuhan dokumen atau keberadaan kebijakan, tetapi turut melihat bagaimana kebijakan dan standar diterapkan dalam proses pelayanan sehari-hari, bagaimana kinerja organisasi berjalan, serta sejauh mana upaya yang dilakukan menghasilkan perubahan positif,” tuturnya.
Secara umum, sebutnya, HCA bertujuan memperoleh gambaran komprehensif mengenai kesehatan organisasi dan kesiapan rumah sakit melalui penilaian terhadap lima pilar utama. Pada aspek compliance, penilaian diarahkan untuk melihat kepatuhan rumah sakit terhadap standar akreditasi, regulasi eksternal, serta regulasi internal yang menjadi pedoman penyelenggaraan pelayanan dan tata kelola organisasi.
Sementara itu, aspek quality berfokus pada mutu dan keselamatan pelayanan, termasuk integrasi atau koordinasi antarunit serta ketepatan waktu dalam proses pelayanan. Aspek ini menjadi penting karena mutu pelayanan rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh kemampuan masing-masing unit, tetapi juga oleh keterhubungan proses kerja, komunikasi antarprofesi, dan koordinasi yang efektif dalam memenuhi kebutuhan pasien.
Pada pilar performance, HCA menilai kinerja rumah sakit secara lebih luas, meliputi aspek klinis, operasional, sumber daya manusia, fasilitas, digital, hingga keuangan. Penilaian tersebut diharapkan dapat membantu rumah sakit memahami efektivitas pemanfaatan sumber daya, mengenali hambatan dalam proses kerja, serta melihat keterkaitan antara tata kelola organisasi dan kualitas pelayanan yang diberikan.
Selanjutnya, pilar outcome menitikberatkan pada hasil yang dicapai rumah sakit. Penilaian mencakup clinical outcome, patient safety outcome, patient experience, staff outcome, dan financial outcome. Dengan melihat berbagai dimensi hasil tersebut, rumah sakit dapat mengevaluasi apakah proses dan kebijakan yang diterapkan benar-benar memberikan manfaat bagi pasien, tenaga kesehatan, dan keberlangsungan organisasi.
Adapun pilar sustainability menilai kemampuan rumah sakit dalam mempertahankan hasil yang telah dicapai sekaligus menjalankan continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan. “Aspek ini menjadi perhatian penting karena peningkatan mutu tidak cukup dilakukan melalui program sesaat, melainkan membutuhkan sistem yang mampu menjaga konsistensi pelaksanaan, mengevaluasi hasil, dan menyesuaikan perbaikan dengan perubahan kebutuhan pelayanan,” paparnya.
Menurut dr. Andi, penerapan HCA juga memiliki tujuan khusus untuk mengidentifikasi kesenjangan antara standar dan pelaksanaan, memetakan risiko, menemukan akar masalah, serta menentukan area yang perlu menjadi prioritas perbaikan. Hasil penilaian selanjutnya menjadi dasar dalam menyusun rekomendasi dan rencana tindak lanjut yang terukur, sehingga upaya perbaikan dapat dilaksanakan secara lebih terarah dan dievaluasi efektivitasnya.
Dalam pelaksanaannya, HCA berpegang pada sejumlah prinsip, yaitu comprehensive, integrated, risk-based, data-driven, outcome-driven, patient-centered, dan improvement-oriented. “Prinsip-prinsip tersebut menegaskan penilaian harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi, berorientasi pada risiko dan data, memperhatikan hasil yang dicapai, menempatkan pasien sebagai pusat pelayanan, serta diarahkan pada perbaikan yang berkelanjutan,” tegasnya.
Ia meminta untuk mendukung pelaksanaan HCA, rumah sakit diharapkan menunjuk seorang koordinator HCA yang bertanggung jawab membantu kelancaran proses penilaian. Rumah sakit juga perlu menyediakan data dan akses ke unit-unit terkait sesuai ketentuan, serta memastikan keterlibatan direksi dalam entry conference dan exit conference.
Keterlibatan pimpinan menjadi penting untuk memastikan bahwa proses penilaian memperoleh dukungan organisasi yang memadai, mulai dari penyediaan informasi hingga pembahasan hasil dan penentuan arah tindak lanjut. Selain itu, HCA melihat kondisi operasional normal atau normal operating condition, sehingga penilaian diharapkan dapat menggambarkan pelaksanaan pelayanan sebagaimana berlangsung dalam aktivitas sehari-hari.
“Rumah sakit diharapkan memberikan dukungan penuh agar proses HCA dapat berjalan efektif dan objektif, serta mampu menggambarkan kondisi nyata di lapangan. Dengan pemahaman yang baik terhadap kondisi organisasinya, rumah sakit dapat mengenali area yang sudah berjalan optimal dan bagian yang masih membutuhkan penguatan,” ungkap dr. Andi.
Ia berharap HCA dapat menjadi pendekatan yang membantu rumah sakit memahami kondisi organisasinya secara lebih mendalam, sekaligus menjembatani standar akreditasi dengan realitas operasional pelayanan. “Melalui kerangka lima pilar tersebut, rumah sakit diharapkan mampu membangun budaya perbaikan yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan standar, tetapi juga pada pencapaian hasil yang dapat dirasakan oleh pasien, staf, organisasi, dan sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan,” harapnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Layanan LAM-KPRS, Dr. dr. Andry, MM, MHKes, memaparkan instrumen lima pilar HCA sebagai bagian dari pengenalan metode penilaian yang dapat digunakan untuk memahami kondisi organisasi rumah sakit secara sistematis. Pemaparan ini memberikan gambaran tentang bagaimana kelima pilar tersebut diterjemahkan ke dalam instrumen yang membantu rumah sakit menilai kepatuhan, mutu, kinerja, hasil, dan keberlanjutan pelayanan.
Kegiatan seminar kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Peserta dibagi ke dalam kelompok berdasarkan unit kerja masing-masing untuk melakukan pengisian instrumen lima pilar HCA. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh kesempatan untuk memahami penerapan instrumen secara langsung, mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam unit kerja, serta mendiskusikan tantangan yang mungkin dihadapi dalam proses penilaian.
Dua perwakilan unit selanjutnya memaparkan hasil pengisian instrumen di hadapan narasumber, jajaran direksi, dan peserta seminar. Sesi ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk membahas hasil penilaian, memperoleh masukan, serta memperkuat pemahaman tentang pentingnya melihat kinerja unit tidak hanya dari sisi kepatuhan, tetapi juga dari kualitas proses, hasil yang dicapai, dan kemampuan mempertahankan perbaikan.
Melalui seminar dan praktik pengisian instrumen tersebut, RS M. Djamil diharapkan semakin memperkuat kesiapan dalam memahami dan mengevaluasi kesehatan organisasinya secara menyeluruh. Pendekatan HCA diharapkan dapat mendukung pengembangan tata kelola yang lebih terintegrasi, pengambilan keputusan berbasis data, serta penyusunan langkah perbaikan yang terukur dan berkelanjutan. Pada akhirnya, penguatan mutu dan keselamatan pasien membutuhkan lebih dari sekadar pemenuhan standar. ***