RS M Djamil Peringati World Stroke Day 2026 Tekankan Pentingnya Penanganan Cepat Stroke
Padang - RS M. Djamil terus berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan dan penanganan stroke secara cepat dan tepat. Pada Kamis (29/10), rumah sakit Kementerian Kesehatan RI ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni) memperingati World Stroke Day 2026 atau Hari Stroke Sedunia di Poliklinik Saraf RS M. Djamil.
Kegiatan ini mengangkat tema “Every Minute Counts” atau “Setiap Menit Berharga” sebagai pengingat bahwa kecepatan dalam mengenali gejala dan mendapatkan penanganan medis sangat menentukan keselamatan serta kualitas hidup pasien stroke. Dalam kegiatan edukasi kesehatan tersebut, dr. Gunawan Septa Dinata, Sp.N, FINA, memaparkan pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang faktor risiko stroke, pengenalan gejala awal, penanganan pada fase akut, hingga upaya mencegah stroke berulang.
dr. Gunawan menegaskan stroke bukan hanya persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan segera. Tetapi juga penyakit yang sebagian besar faktor risikonya dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup dan pengelolaan kondisi kesehatan secara teratur.
“Stroke bisa dicegah. Salah satu langkah terpenting adalah mengenali dan mengendalikan faktor risikonya. Tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, serta pola hidup yang tidak sehat perlu mendapat perhatian. Pencegahan harus dimulai sebelum stroke terjadi, bukan setelah seseorang mengalami serangan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sekitar 84 persen beban stroke di dunia berkaitan dengan 23 faktor risiko yang dapat diubah. Angka tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan memiliki peran besar dalam mengurangi kejadian stroke. “Masyarakat diimbau untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, menjaga tekanan darah, mengendalikan kadar gula dan kolesterol, berhenti merokok, menerapkan pola makan seimbang, serta membiasakan aktivitas fisik sesuai kemampuan,” ajaknya.
Menurutnya, kesadaran terhadap faktor risiko perlu diikuti dengan tindakan nyata dan konsisten. Seseorang yang memiliki hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi perlu menjalani pengobatan dan kontrol sesuai anjuran dokter. “Kondisi yang tidak menimbulkan keluhan bukan berarti faktor risiko tersebut sudah terkendali. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi langkah penting untuk mengurangi kemungkinan terjadinya stroke,” tuturnya.
Selain pencegahan, dr. Gunawan menekankan kecepatan mengenali gejala merupakan kunci utama dalam penanganan stroke. Dalam dunia medis dikenal prinsip “Time is Brain” atau waktu adalah otak. Pada stroke iskemik, yaitu stroke yang terjadi akibat sumbatan pembuluh darah otak, sekitar 1,9 juta sel saraf dapat mati setiap menit ketika aliran darah tidak segera dipulihkan.
“Dalam penanganan stroke, setiap menit sangat berharga. Semakin lama pasien tidak mendapatkan penanganan, semakin besar risiko kerusakan jaringan otak. Karena itu, jangan menunggu gejala hilang dengan sendirinya. Jika muncul tanda-tanda stroke, segera bawa pasien ke rumah sakit agar dapat diperiksa dan memperoleh penanganan yang sesuai,” jelas dr. Gunawan.
Ia mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala stroke melalui prinsip SeGeRaKe RS. Masyarakat perlu segera mengenali tanda-tanda yang mencurigakan, seperti wajah yang mendadak tidak simetris, kelemahan atau kebas pada salah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan, gangguan penglihatan mendadak, serta kehilangan keseimbangan atau sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba. Gejala dapat muncul secara mendadak dan tidak selalu disertai rasa sakit.
Apabila gejala tersebut ditemukan, masyarakat tidak dianjurkan menunggu hingga kondisi pasien membaik atau gejalanya menghilang. Meskipun keluhan mereda dalam waktu singkat, pasien tetap perlu mendapatkan pemeriksaan medis segera karena gejala tersebut dapat menandakan gangguan aliran darah ke otak yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Langkah berikutnya adalah mencatat waktu mulai munculnya gejala atau waktu terakhir pasien diketahui berada dalam kondisi normal. Informasi ini sangat penting bagi dokter untuk menentukan pilihan penanganan yang tepat. Apabila waktu munculnya gejala tidak diketahui secara pasti, keluarga perlu menyampaikan kapan terakhir kali pasien terlihat normal sebelum ditemukan mengalami keluhan.
“Ketika membawa pasien ke rumah sakit, keluarga sebaiknya mengingat atau mencatat kapan gejala pertama kali muncul. Jika pasien ditemukan dalam keadaan sudah mengalami gejala, catat kapan terakhir kali pasien terlihat normal. Informasi ini sangat membantu tim medis dalam menentukan apakah pasien memenuhi syarat untuk mendapatkan terapi tertentu,” tutur dr. Gunawan.
Masyarakat juga diimbau segera menghubungi layanan ambulans melalui nomor 119 atau layanan kegawatdaruratan setempat yang tersedia. Pasien perlu dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas pemeriksaan CT scan dan layanan penanganan stroke agar diagnosis dapat ditegakkan dengan cepat serta terapi yang sesuai dapat diberikan.
dr. Gunawan menjelaskan pada pasien stroke iskemik yang memenuhi kriteria medis, obat penghancur bekuan darah atau trombolitik dapat diberikan dalam jendela waktu tertentu, umumnya hingga 4,5 jam sejak gejala muncul. Namun, pemberian terapi tersebut harus melalui pemeriksaan dan penilaian dokter, termasuk memastikan jenis stroke dan menyingkirkan kemungkinan perdarahan otak. Pada pasien tertentu, pemeriksaan lanjutan juga dapat membantu dokter mempertimbangkan pilihan terapi lain sesuai kondisi klinis.
“Golden period atau periode emas penanganan stroke tidak boleh disia-siakan. Semakin cepat pasien tiba di rumah sakit dan mendapatkan evaluasi, semakin besar peluang untuk memperoleh terapi yang tepat. Namun, keputusan pemberian obat tetap bergantung pada hasil pemeriksaan, jenis stroke, waktu kejadian, dan kondisi pasien,” tambahnya.
Ia menegaskan masyarakat tidak boleh menjadikan batas waktu terapi sebagai alasan untuk mengurungkan niat membawa pasien ke rumah sakit apabila gejala sudah berlangsung lebih dari 4,5 jam. Pasien tetap membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis sesegera mungkin karena terdapat berbagai intervensi yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Selain menekankan pentingnya penanganan pada fase akut, edukasi World Stroke Day 2026 di Poliklinik Saraf RS M. Djamil juga memberikan perhatian terhadap pencegahan stroke berulang. Para penyintas stroke memiliki risiko mengalami serangan kembali, terutama apabila faktor risiko tidak dikendalikan dan pengobatan tidak dijalankan secara konsisten.
dr. Gunawan menyampaikan risiko kekambuhan perlu menjadi perhatian serius. Sejumlah data menunjukkan bahwa stroke berulang dapat terjadi sejak bulan-bulan awal setelah serangan pertama. Dalam materi edukasi, risiko stroke berulang pada penyintas stroke dipaparkan sekitar 2–3 persen dalam 30 hari pertama, 9 persen dalam enam bulan pertama, dan 10–16 persen dalam satu tahun pertama. Angka tersebut merupakan gambaran risiko yang dapat berbeda menurut karakteristik pasien, penyebab stroke, serta penanganan yang diterima.
“Setelah mengalami stroke, pasien tetap membutuhkan perhatian dan pendampingan. Penanganan tidak berhenti ketika pasien keluar dari rumah sakit. Pengendalian faktor risiko, kepatuhan minum obat, kontrol rutin, dan rehabilitasi merupakan bagian penting untuk mencegah serangan berulang serta membantu pasien kembali menjalani aktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Ia mengingatkan para penyintas stroke agar mengonsumsi obat sesuai resep dan petunjuk dokter. Obat untuk mengendalikan tekanan darah dan kolesterol, serta obat antiplatelet atau antikoagulan pada pasien dengan indikasi tertentu, harus digunakan sesuai kebutuhan medis. Pasien tidak boleh menghentikan, mengganti, atau mengubah dosis obat secara mandiri hanya karena merasa kondisi tubuhnya sudah membaik.
Kontrol kesehatan secara berkala juga perlu dilakukan untuk memantau tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan faktor risiko lainnya. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar bagi dokter untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan dan menentukan penyesuaian terapi apabila diperlukan. Keluarga dapat berperan membantu pasien mengingat jadwal minum obat, menghadiri kontrol, serta menerapkan kebiasaan hidup sehat di rumah.
Di samping pengobatan, rehabilitasi merupakan bagian penting dalam proses pemulihan penyintas stroke. Fisioterapi membantu melatih kekuatan, keseimbangan, dan kemampuan bergerak. Terapi wicara dapat membantu pasien yang mengalami gangguan berbicara, berbahasa, atau menelan, sedangkan terapi okupasi mendukung pasien agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan.
Program rehabilitasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing pasien. Dengan latihan yang terarah, pendampingan tenaga kesehatan, serta dukungan keluarga, penyintas stroke diharapkan dapat memaksimalkan fungsi tubuh yang masih dimiliki dan meningkatkan kemandirian dalam menjalani kehidupan.
Penerapan gaya hidup sehat juga tidak kalah penting. “Penyintas stroke dan masyarakat secara umum dianjurkan berhenti merokok, membatasi konsumsi garam, menerapkan pola makan bergizi seimbang, aktif bergerak sesuai kemampuan, serta menjaga berat badan ideal. Pengendalian diabetes, hipertensi, dan kolesterol perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk menekan risiko terjadinya stroke pertama maupun stroke berulang,” tukasnya.***