Gangguan muskuloskeletal atau Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan masalah kesehatan kerja yang banyak dialami oleh pekerja di berbagai sektor. MSDs meliputi keluhan pada otot, tendon, saraf, sendi, dan tulang yang timbul akibat paparan beban kerja fisik maupun faktor psikososial secara berulang dan berkepanjangan (1).
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), MSDs termasuk penyebab utama disabilitas global, terutama pada pekerja usia produktif (2). Gangguan ini menurunkan produktivitas, meningkatkan angka absensi, dan menambah beban biaya kesehatan bagi pekerja maupun perusahaan.
Sebagai perawat yang bekerja di lingkungan rumah sakit, saya sering menemukan rekan sejawat yang mengeluhkan nyeri punggung bawah, nyeri bahu, atau kekakuan leher akibat aktivitas mengangkat pasien atau posisi kerja yang tidak ergonomis. Kondisi serupa juga dialami pekerja industri, transportasi, dan perkantoran. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor risiko MSDs dan strategi pencegahan yang dapat diterapkan.
Faktor Risiko MSDs di Tempat Kerja
1. Faktor Biomekanik
Paparan aktivitas fisik berlebihan merupakan faktor risiko utama. Pekerjaan yang melibatkan mengangkat beban berat, membungkuk, memutar tubuh, atau melakukan gerakan berulang dapat menimbulkan stres biomekanik pada sistem muskuloskeletal. Perawat yang sering mengangkat atau memindahkan pasien tanpa bantuan alat berisiko tinggi mengalami cedera punggung (3).
2. Faktor Ergonomi
Desain tempat kerja yang tidak sesuai postur tubuh memperparah risiko MSDs. Kursi tanpa penyangga, meja kerja terlalu rendah atau tinggi, serta monitor komputer yang tidak sejajar dengan pandangan mata dapat menyebabkan ketegangan otot leher dan punggung. Pada pekerja industri, penggunaan mesin bergetar seperti bor atau gergaji listrik juga meningkatkan risiko cedera tangan dan pergelangan (4).
3. Faktor Psikososial
MSDs tidak hanya dipengaruhi faktor fisik, tetapi juga faktor psikososial. Stres kerja, beban mental tinggi, kurangnya kontrol terhadap pekerjaan, dan rendahnya dukungan sosial terbukti meningkatkan kejadian MSDs (5). Kondisi ini memperburuk persepsi nyeri dan menghambat proses pemulihan.
4. Faktor Individu
Karakteristik individu seperti usia, jenis kelamin, status kebugaran, dan riwayat kesehatan turut memengaruhi kerentanan terhadap MSDs. Pekerja dengan indeks massa tubuh tinggi cenderung lebih berisiko mengalami nyeri punggung atau sendi (6).
5. Faktor Lingkungan
Lingkungan kerja dingin, bising, kurang cahaya, atau lembab juga menjadi faktor risiko tambahan. Kondisi suhu dingin, misalnya, dapat menyebabkan otot menjadi lebih kaku dan mudah cedera (7).
Dampak MSDs terhadap Pekerja dan Organisasi
MSDs menimbulkan dampak luas, baik pada individu maupun organisasi. Pada individu, keluhan nyeri dapat mengganggu aktivitas harian, menurunkan kualitas tidur, serta memengaruhi kesehatan mental (8). Pada organisasi, MSDs menyebabkan meningkatnya absensi, penurunan produktivitas, hingga biaya kompensasi medis yang tinggi (9).
Di sektor kesehatan, keluhan MSDs yang dialami tenaga perawat berpotensi menurunkan mutu pelayanan kepada pasien. Hal ini berbahaya karena keselamatan pasien sangat bergantung pada kondisi fisik tenaga kesehatan (10).
Strategi Pencegahan MSDs di Tempat Kerja
1. Intervensi Ergonomi
Penerapan ergonomi merupakan strategi pencegahan utama. Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:
a. Penyesuaian desain meja dan kursi sesuai tinggi tubuh pekerja.
b. Penempatan monitor komputer sejajar dengan pandangan mata.
c. Penggunaan alat bantu mekanis saat mengangkat beban atau memindahkan pasien.
d. Mengatur posisi tubuh agar tetap netral saat bekerja (11).
2. Latihan Fisik dan Peregangan
Latihan peregangan sederhana dapat dilakukan selama jeda istirahat kerja untuk mengurangi ketegangan otot. Program olahraga rutin, seperti yoga atau pilates, terbukti membantu memperbaiki fleksibilitas dan kekuatan otot. Latihan fisik terstruktur di tempat kerja juga efektif menurunkan prevalensi nyeri punggung dan leher (12).
3. Edukasi Kesehatan Kerja
Pekerja perlu diberikan edukasi mengenai teknik kerja yang benar, cara mengangkat beban dengan aman, serta pentingnya peregangan. Program promosi kesehatan kerja yang berkelanjutan terbukti meningkatkan kesadaran dan menurunkan risiko MSDs (13).
4. Manajemen Psikososial
Perusahaan perlu memperhatikan faktor psikososial melalui pengaturan beban kerja, memberikan dukungan sosial, serta menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Konseling dan pelatihan manajemen stres juga dapat membantu pekerja mengelola beban mental (14).
5. Kebijakan Perusahaan
Kebijakan yang mendukung keselamatan dan kesehatan kerja sangat penting. Perusahaan sebaiknya menyediakan alat bantu ergonomis, melaksanakan pemeriksaan kesehatan berkala, serta mengintegrasikan program kesehatan kerja dalam kebijakan organisasi (15).
Peran Perawat dalam Pencegahan MSDs
Perawat memiliki peran penting dalam pencegahan MSDs. Pertama, perawat perlu menjaga kesehatan diri sendiri dengan menerapkan prinsip ergonomi dan melakukan latihan fisik secara teratur. Kedua, perawat berperan sebagai edukator dengan memberikan penyuluhan kepada pasien, keluarga, maupun masyarakat tentang pencegahan MSDs. Ketiga, perawat dapat menjadi advokat bagi terciptanya lingkungan kerja yang sehat melalui keterlibatan dalam komite K3 rumah sakit (16).
MSDs merupakan masalah kesehatan kerja yang sering terjadi dan berdampak luas. Faktor risikonya meliputi aspek biomekanik, ergonomi, psikososial, individu, dan lingkungan. Upaya pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif melalui penerapan ergonomi, latihan fisik, edukasi kesehatan, manajemen psikososial, dan dukungan kebijakan perusahaan.
Sebagai perawat, kita dituntut tidak hanya menjaga kesehatan diri sendiri, tetapi juga berperan aktif dalam mengedukasi dan mengadvokasi masyarakat agar terhindar dari MSDs. Dengan upaya yang sistematis dan berbasis bukti, angka kejadian MSDs dapat ditekan, sehingga kualitas hidup pekerja meningkat dan produktivitas organisasi tetap terjaga.
Referensi
1. Punnett L, Wegman DH. Work-related musculoskeletal disorders: the epidemiologic evidence and the debate. J Electromyogr Kinesiol. 2004;14(1):13–23.
2. WHO. Musculoskeletal conditions [Internet]. 2021 [cited 2025 Sep 23]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/musculoskeletal-conditions
3. Trinkoff AM, Lipscomb JA, Geiger-Brown J, Brady B. Musculoskeletal problems of the neck, shoulder, and back and functional consequences in nurses. Am J Ind Med. 2002;41(3):170–8.
4. Palmer KT, Harris EC, Coggon D. Carpal tunnel syndrome and its relation to occupation: a systematic literature review. Occup Med. 2007;57(1):57–66.
5. Bongers PM, Kremer AM, ter Laak J. Are psychosocial factors, risk factors for symptoms and signs of the shoulder, elbow, or hand/wrist? A review. Am J Ind Med. 2002;41(5):315–42.
6. da Costa BR, Vieira ER. Risk factors for work-related musculoskeletal disorders: a systematic review. Am J Ind Med. 2010;53(3):285–323.
7. Burdorf A, Sorock G. Positive and negative evidence of risk factors for back disorders. Scand J Work Environ Health. 1997;23(4):243–56.
8. Griffiths KL, Mackey MG, Adamson BJ. Impact of computerized work environment on musculoskeletal symptoms. J Occup Rehabil. 2007;17(4):743–65.
9. Bevan S. Economic impact of musculoskeletal disorders (MSDs) on work in Europe. Best Pract Res Clin Rheumatol. 2015;29(3):356–73.
10. Smith DR, Choe MA, Jeon MY, Chae YR, An GJ, Jeong JS. Epidemiology of musculoskeletal symptoms among Korean hospital nurses. Int J Occup Saf Ergon. 2005;11(4):431–40.
11. van der Beek AJ, Dennerlein JT, Huysmans MA, Mathiassen SE, Burdorf A, van Mechelen W, et al. Framework for interventions preventing MSDs. Scand J Work Environ Health. 2017;43(6):526–39.
12. Rodrigues EV, Gomes ARS, Tanhoffer AIP, Leite N. Effects of exercise on pain of musculoskeletal disorders: a systematic review. Acta Ortop Bras. 2014;22(6):334–8.
13. Waters TR, Putz-Anderson V, Garg A, Fine LJ. Revised NIOSH equation for manual lifting tasks. Ergonomics. 1993;36(7):749–76.
14. Leka S, Jain A, Cox T, Kortum E. European framework for psychosocial risk management. J Occup Health. 2011;53(2):137–43.
15. EU-OSHA. Work-related musculoskeletal disorders: prevalence, costs and demographics in the EU. Bilbao: European Agency for Safety and Health at Work; 2019.
16. Oakman J, Macdonald W, Bartram T, Keegel T, Kinsman N. Workplace interventions to improve work ability: a systematic review and meta-analysis. Scand J Work Environ Health. 2018;44(2):134–46.
Sumber gambar: