Jumat, 30 Januari 2026 14:30 WIB

Fenomena Bali Belly yang Masih Sering Terjadi pada Wisatawan di Pulau Bali

Responsive image
23
Dini Yulia SKM MARS - RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah

Bali Belly sebenarnya adalah istilah populer untuk menyebut traveler’s diarrhea atau gangguan pencernaan yang dialami wisatawan saat berkunjung ke Pulau Bali. Meskipun namanya spesifik membawa nama "Bali", kondisi ini bisa terjadi di mana saja di dunia dengan standar sanitasi yang berbeda dari negara asal wisatawan.

Sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit yang masuk ke tubuh melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Penyebab paling umum meliputi:

Bakteri: E. coli, Salmonella, dan Campylobacter.

Virus: Norovirus atau Rotavirus.

Parasit: Giardia dan Cryptosporidium.

Mengapa sangat umum terjadi di Bali? Ada beberapa faktor yang membuat fenomena ini sering dibicarakan:

1.      Perbedaan Flora Bakteri: Tubuh wisatawan (terutama dari negara Barat) sering kali belum memiliki kekebalan terhadap jenis bakteri lokal di Indonesia.

2.      Kualitas Air: Air kran di Bali tidak untuk dikonsumsi langsung. Kontaminasi bisa terjadi melalui es batu yang dibuat dari air mentah atau buah/sayur yang dicuci dengan air tersebut.

3.      Pengaruh Iklim & Curah Hujan : Iklim lembab dan panas di Bali adalah lingkungan ideal bagi bakteri untuk berkembang biak pada makanan yang tidak disimpan dengan benar. Periode hujan dapat menyebabkan:

a.      Kontaminasi sumber air : air hujan dapat membawa limbah, bakteri, dan sedimen ke sumber air minum.

b.      Pertumbuhan patogen lebih cepat : suhu hangat + lembab = kondisi ideal untuk bakteri & virus gastrointestinal berkembang.

c.      Gangguan sanitasi lingkungan : drainase di beberapa area wisata dan kampung masih campur, sehingga hujan bisa memicu sebaran patogen.

d.      Lonjakan kasus diare musiman : di beberapa wilayah tropis, puncak kasus biasanya pada Musim Hujan.

4.      Wisata Kuliner (Street Food): Meski menggoda, standar higienitas di beberapa warung kaki lima terkadang belum memenuhi standar kesehatan internasional. Beberapa sumber risiko juga misalnya seperti konsumsi sayur mentah, seafood yang tidak segar.

Adapun beberapa gejala yang sering muncul dalam 2–24 jam setelah terpapar, meliputi: kram perut dan kembung, diare intensitas tinggi, mual dan muntah, terkadang disertai demam ringan dan lemas (dehidrasi).

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menghindarinya, adalah sebagai berikut :

  • Aturan "Boil it, Cook it, Peel it, or Forget it": Hanya makan makanan yang dimasak matang dan buah yang dikupas sendiri.
  • Air Minum: Menggunakan air kemasan bahkan untuk menyikat gigi.
  • Kebersihan Tangan: Menggunakan hand sanitizer sebelum makan.
  • Penanganan Cepat : Jika sudah terkena, kuncinya adalah rehidrasi (oralit atau minuman elektrolit). Banyak apotik di Bali sudah sangat terbiasa menangani keluhan ini dan menyediakan obat-obatan seperti activated charcoal (Norit) atau antibiotik jika diperlukan dengan resep dokter.

 

Referensi :

Antari, N. P. Y., & Darmadi, J. L. (2024). Characteristics of traveler's diarrhea in foreign travelers visiting beaches in Badung Regency, Bali. Journal of Travel Medicine and Health, 15(1), 12-18.

Darmawan, G., et al. (2023). Factors related to the incidents of travelers' diarrhea in international travelers in the Jimbaran area. Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease, 11(2), 85-92.

Putra, I. G. N. S., & Sukmawati, M. (2020). Traveler's diarrhea risk factors on foreign tourists in Denpasar Bali-Indonesia. Bali Medical Journal, 9(1), 324-328. https://doi.org/10.15562/bmj.v9i1.1745

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). CDC Yellow Book 2024: Health Information for International Travel. Oxford University Press.

Leung, A. K., et al. (2019). Travelers' diarrhea: A clinical review. Engineering, 5(2), 225-233.

Riddle, M. S., Connor, B. A., Beeching, N. J., et al. (2017). Guidelines for the prevention and treatment of travelers’ diarrhea: A graded expert panel report. Journal of Travel Medicine, 24(suppl_1), S57–S74. https://doi.org/10.1093/jtm/tax026