Jumat, 30 Januari 2026 09:40 WIB

Konsep Terkini dan Manajemen FAT Embolism Syndrom

Responsive image
16
Deny Dwi Hartanto - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Fat Embolism (FE) secara luas didefinisikan sebagai keberadaan butiran lemak di dalam sirkulasi sistemik yang dapat menyumbat pembuluh darah kapiler. Meskipun fenomena emboli lemak sering terjadi setelah trauma, Fat Embolism Syndrome (FES) adalah manifestasi klinis yang jauh lebih jarang namun serius, yang ditandai dengan disfungsi organ multipel, terutama pada sistem pernapasan, neurologis, dan kulit (1).

Secara epidemiologi, FE ditemukan pada hampir semua pasien dengan fraktur tulang panjang; studi menunjukkan bahwa hingga 98% pasien dengan fraktur batang femur memiliki butiran lemak dalam sirkulasi mereka. Namun, FES klinis hanya terjadi pada sekitar 0,9% hingga 1,29% pasien dengan fraktur tulang panjang tunggal atau multipel (2). Kondisi ini paling sering ditemukan pada pria muda berusia 10-40 tahun, yang kemungkinan berkaitan dengan aktivitas berisiko tinggi yang menyebabkan trauma energi tinggi. Pada anak-anak, insidennya lebih rendah karena komposisi lemak sumsum tulang yang berbeda—mengandung lebih sedikit jaringan adiposa dan lebih banyak jaringan hematopoietik (1,3).

Patogenesis FES melibatkan kaskade kompleks yang dijelaskan melalui dua teori utama:

  1. Teori Mekanik (Gauss): Teori ini menyatakan bahwa trauma menyebabkan peningkatan tekanan intramedula yang signifikan. Tekanan ini mendorong tetesan lemak keluar dari sumsum tulang ke dalam sinus vena yang rusak di lokasi fraktur. Lemak kemudian bermigrasi ke sirkulasi paru, menyebabkan obstruksi fisik pada kapiler paru dan meningkatkan tekanan arteri pulmonalis (1,4).
  2. Teori Biokimia (Lehman dan Moore): Teori ini menjelaskan fase kedua atau "second hit". Lemak yang terperangkap di paru-paru dipecah oleh lipase lipoprotein menjadi asam lemak bebas (Free Fatty Acids/FFA) yang bersifat toksik. FFA ini menyebabkan kerusakan langsung pada sel endotel vaskular, memicu peradangan hebat, kebocoran kapiler, dan edema interstitial. Hal ini menjelaskan mengapa gejala klinis sering kali tertunda 24-72 jam setelah trauma awal (2,4).

Gejala FES biasanya muncul dalam jendela waktu 12 hingga 72 jam setelah cedera. Gejala ini sering muncul dalam bentuk "Trias Klasik":

  1. Disfungsi Pernapasan (96% kasus): Ini adalah gejala awal yang paling umum. Pasien menunjukkan takipnea, dispnea, dan hipoksemia berat. Pada kasus yang parah, kondisi ini berkembang menjadi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang membutuhkan dukungan ventilator (1,3).
  2. Gangguan Neurologis (59-80% kasus): Pasien mungkin mengalami perubahan status mental, mulai dari kebingungan, agitasi, delirium, hingga koma. Gejala ini sering kali tidak sebanding dengan tingkat hipoksia, yang menunjukkan adanya mikro-emboli lemak yang mencapai otak melalui shunt intrapulmonal atau patent foramen ovale (PFO) (2).
  3. Ruam Petekie (20-50% kasus): Merupakan tanda yang paling spesifik (patognomonik). Ruam berupa bintik merah kecil yang muncul di dada bagian atas, leher, aksila, dan konjungtiva. Ruam ini bersifat sementara dan biasanya menghilang dalam waktu satu minggu (1,4).

Diagnosis FES tetap didasarkan pada temuan klinis karena tidak ada uji laboratorium tunggal yang "emas". Dua sistem skor yang paling umum digunakan adalah:

  • Kriteria Gurd dan Wilson: Diagnosis memerlukan minimal satu kriteria mayor (petekie, hipoksemia <60 mmHg, atau depresi SSP) dan empat kriteria minor (takikardia, demam, anemia, trombositopenia, atau perubahan pada retina) (4).
  • Skor Schonfeld: Memberikan nilai poin untuk berbagai gejala. Skor lebih dari 5 dianggap diagnostik untuk FES. Poin tertinggi diberikan untuk ruam petekie (5 poin) dan infiltrat pada foto rontgen dada (4 poin) (3).
  • Pencitraan: MRI otak, khususnya urutan Diffusion-Weighted Imaging (DWI), sangat sensitif dalam mendeteksi FES serebral, dengan pola khas yang dikenal sebagai "starfield pattern" (bintik-bintik putih kecil yang tersebar di seluruh materi putih dan abu-abu) (2,15).

Manajemen Terapi

Manajemen FES berfokus pada pencegahan dan perawatan suportif, karena tidak ada agen farmakologis khusus untuk "melarutkan" lemak yang sudah bermigrasi.

  • Pencegahan Utama: Stabilisasi dini fraktur tulang panjang adalah langkah pencegahan yang paling efektif. Fiksasi operatif dalam 24 jam pertama secara dramatis menurunkan risiko FES dibandingkan dengan penundaan operasi. Penggunaan teknik Damage Control Orthopaedics (DCO) sangat disarankan bagi pasien dengan cedera multipel yang tidak stabil (2).
  • Dukungan Pernapasan: Pemberian oksigenasi yang adekuat sangat penting. Pasien dengan hipoksemia berat mungkin memerlukan ventilasi mekanis dengan Positive End-Expiratory Pressure (PEEP) untuk menjaga alveoli tetap terbuka (1).
  • Resusitasi Cairan: Mempertahankan volume intravaskular yang cukup sangat penting untuk menjaga perfusi organ dan membantu pembersihan asam lemak bebas dari sirkulasi (24).
  • Teknik Bedah Terkini: Penggunaan sistem Reamer–Irrigator–Aspirator (RIA) selama pemasangan nail intrameduler terbukti efektif mengurangi tekanan intramedula dan jumlah lemak yang masuk ke aliran darah (20,21).
  • Kortikosteroid: Meskipun penggunaan steroid (seperti Methylprednisolone) dapat mengurangi respon inflamasi paru, penggunaannya tetap kontroversial dan tidak direkomendasikan secara rutin kecuali pada kasus risiko sangat tinggi, karena potensi efek sampingnya terhadap penyembuhan luka (1).

Komplikasi dan Prognosis

Komplikasi jangka panjang dari FES meliputi kerusakan paru permanen akibat peradangan kronis dan defisit kognitif atau neurologis fokal pada pasien yang mengalami emboli serebral berat.

Namun, dengan kemajuan teknologi ICU saat ini, prognosis FES secara keseluruhan cukup baik. Angka kematian telah turun menjadi kurang dari 10% di pusat-pusat trauma modern. Sebagian besar pasien yang bertahan hidup akan mengalami pemulihan fungsi paru yang lengkap dalam beberapa minggu. Pemulihan neurologis juga sering kali terjadi secara bertahap, meskipun beberapa pasien mungkin tetap memiliki gejala kognitif ringan (1,2).

Fat Embolism Syndrome adalah tantangan klinis yang signifikan dalam ortopedi. Kewaspadaan klinis yang tinggi diperlukan untuk mendeteksi gejala awal pada pasien risiko tinggi, terutama mereka dengan fraktur femur atau pelvis. Pencegahan melalui fiksasi fraktur dini tetap menjadi strategi utama. Dengan manajemen suportif yang agresif di ICU, sebagian besar pasien dapat mencapai pemulihan yang baik dari komplikasi yang semula mengancam jiwa ini.

Referensi:

  1. Luff D, Hewson DW. Fat embolism syndrome. BJA Education. 2021;21(9):322–8.
  2. Rothberg DL, et al. Fat Embolism Syndrome. In: Rockwood and Green's Fractures in Adults. 9th ed. Wolters Kluwer; 2019.
  3. Dharmayuda A, Kesuma AANR, Laksana KM. Sindroma emboli lemak pada kasus trauma orthopedi: sebuah tinjauan pustaka. Intisari Sains Medis. 2020.
  4. Gurd FB, Wilson RI. The fat embolism syndrome. Journal of Bone and Joint Surgery. 1974;56-B(3):408–16.
  5. Laubach M, et al. In vivo study to assess fat embolism resulting from the Reamer-Irrigator-Aspirator 2 system. Arch Orthop Trauma Surg. 2024.
    (Referensi lainnya merujuk pada dokumen sumber "FES FIX BISMILLAH.docx"
  6. https://www.bjaed.org/cms/10.1016/j.bjae.2021.04.003/asset/e610d38c-8ba0-41e2-8b59-e985bf08caa7/main.assets/gr1_lrg.jpg
  7. https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTHQK65bdR8GclYcH3LEurGZq6oVjxmxtoOhA&s