Rabu, 28 Januari 2026 16:14 WIB

Child Grooming Luka yang Tak Terlihat Tapi Membekas Lama

Responsive image
15
dr Lahargo Kembaren SpKJ - RS Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Belajar dari Broken Strings – Aurelie Moeremans, buku Broken Strings membuka mata banyak orang bahwa luka masa kecil tidak selalu datang dari kekerasan fisik. Sebagian luka justru lahir dari hubungan yang terlihat hangat, peduli, dan baik, namun perlahan berubah menjadi jerat. Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai child grooming.

Tidak semua bahaya datang dengan wajah menyeramkan. Kadang ia datang dengan senyum dan perhatian.

Apa itu Child Grooming?

Child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang disengaja, di mana pelaku membangun kepercayaan, kedekatan emosional, dan ketergantungan pada anak, dengan tujuan mengeksploitasi baik secara emosional, psikologis, maupun seksual.

Yang berbahaya, grooming bukan peristiwa instan, tetapi proses bertahap. Pelaku sering tampak sebagai sosok orang dewasa yang paling peduli, kakak/mentor yang paling mengerti, figur aman ketika anak merasa kesepian. Grooming bukan soal sentuhan dulu, tapi soal kepercayaan yang dicuri perlahan.

Tipe-tipe Child Grooming

a. Emotional Grooming

Pelaku memposisikan diri sebagai satu-satunya yang mengerti, tempat curhat rahasia, serta pelindung dari dunia yang tidak adil.

Anak dibuat merasa lebih aman dengan pelaku dibanding orang tua, bersalah jika menjauh, ataupun takut kehilangan kedekatan.

“Jika anak merasa hanya satu orang yang mengerti dirinya, itu alarm, bukan romantika.”

b. Authority Grooming

Pelaku menggunakan posisi kuasa seperti guru, pelatih, pembina rohani, ataupun senior atau mentor. Anak akan diajarkan: jangan melawan, ini demi kebaikanmu, ataupun kamu harus patuh.

“Otoritas tanpa batas bisa berubah dari membimbing menjadi mengendalikan.”

c. Digital / Online Grooming

Terjadi melalui chat pribadi, media sosial, maupun game online.

Biasanya dimulai dari pujian berlebihan, perhatian intens, hadiah virtual, maupun rahasia berdua.

“Di dunia digital, perhatian berlebihan bukan selalu cinta, bisa jadi perangkap.”

d. Gradual Boundary Crossing

Pelaku perlahan mengubah topik pembicaraan, menormalisasi hal yang tidak pantas, membuat anak bingung antara nyaman dan tidak nyaman.

Anak sering berpikir:

“Aku nggak yakin ini salah… tapi rasanya aneh.”

Ketidaknyamanan yang diabaikan hari ini bisa menjadi luka besar di masa depan.

 

Mengapa Orang Melakukan Grooming?

Child grooming bukan karena cinta, melainkan karena:

-  Kebutuhan akan kontrol, pelaku merasa berkuasa saat bisa mengendalikan emosi dan keputusan anak.

-  Distorsi Kognitif, Pelaku membenarkan perilaku:

“Aku menyayangi, bukan menyakiti”

“Anaknya yang duluan nyaman”

-  Defisit Empati, kesulitan merasakan penderitaan korban, fokus pada kepuasan diri.

-  Pengulangan Pola, sebagian pelaku dulunya juga korban, namun luka yang tidak disembuhkan berubah menjadi pola menyakiti. Luka yang tidak disadari bisa berubah menjadi luka yang diwariskan.

Dampak Child Grooming pada Korban

Dampaknya sering tidak langsung terlihat, namun muncul bertahun-tahun kemudian:

  • Psikologis, seperti kebingungan emosi, rasa bersalah berlebihan, sulit percaya orang lain, trauma relasional.
  • Relasi, seperti mudah terjebak hubungan tidak sehat, sulit mengenali batasan, takut menolak.
  • Diri Sendiri, seperti harga diri rendah, merasa “aku yang salah”, kesulitan berkata tidak
  • Banyak korban baru menyadari: “Oh… itu ternyata bukan kedekatan yang sehat.”

“Grooming tidak hanya mencuri masa kecil, tapi juga memengaruhi cara seseorang mencintai dirinya sendiri dan berelasi dengan orang lain.”

 

Peran Parenting dalam Pencegahan Child Grooming

Parenting adalah faktor protektif utama.

a.     Bangun Ruang Aman, Bukan Ruang Takut

Anak perlu tahu: Ia boleh bercerita tanpa dihakimi. Ia tidak akan dimarahi karena jujur

“Anak yang aman bercerita, lebih sulit dimanipulasi.”

b.     Ajarkan Bahasa Emosi Sejak Dini

Bantu anak mengenali:

Nyaman vs tidak nyaman

Rahasia baik vs rahasia berbahaya

“Anak yang bisa menamai perasaannya, lebih kuat melindungi dirinya.”

c.      Normalisasi Bicara tentang Batasan

Ajarkan:

- Tubuh adalah miliknya

- Boleh berkata tidak

- Tidak semua orang dewasa selalu benar

“Menghormati anak bukan membuatnya manja, tapi membuatnya aman.”

d.     Terlibat, Bukan Mengintai

Kenali:

- Lingkar pertemanan

- Aktivitas online

- Figur signifikan dalam hidup anak

- Tanpa mengontrol berlebihan, tapi hadir konsisten.

“Kedekatan orang tua adalah benteng pertama, bukan pengawasan ketat.”

 

Penutup

Broken Strings mengingatkan kita bahwa luka masa kecil sering kali tidak bersuara, tapi beresonansi panjang dalam hidup dewasa. Child grooming bukan hanya isu kriminal, tapi isu relasional, psikologis, dan parenting. “Perhatian yang sehat membebaskan. Perhatian yang berbahaya mengikat.”

 

Referensi:

Craven, S., Brown, S., & Gilchrist, E. (2006). Sexual grooming of children: Review of literature and theoretical considerations. Journal of Sexual Aggression, 12(3), 287–299. https://doi.org/10.1080/13552600601069414

Winters, G. M., Jeglic, E. L., & Kaylor, L. E. (2020). Prevention of sexual grooming of children: An evidence-based review. Journal of Child Sexual Abuse, 29(7), 831–857. https://doi.org/10.1080/10538712.2020.1760853

van der Kolk, B. A. (2014). The body keeps the score: Brain, mind, and body in the healing of trauma. New York, NY: Viking.