Dislokasi sendi glenohumeral adalah kondisi ketika kaput humerus keluar dari kavitas glenoidalis skapula sehingga hubungan anatomis normal sendi bahu terganggu. Dislokasi ini paling sering terjadi ke arah anterior dan merupakan dislokasi sendi besar yang paling sering dijumpai dalam praktik klinis ortopedi.
Dislokasi bahu menyumbang sekitar 45–50 persen dari seluruh kasus dislokasi sendi. Insidensinya berkisar antara 11–26 per 100.000 populasi per tahun. Sekitar 95–98% kasus merupakan dislokasi anterior. Distribusi usia bersifat bimodal, dengan insidensi tinggi pada pria muda usia 15–30 tahun akibat trauma energi tinggi (olahraga atau kecelakaan), serta pada kelompok usia lanjut akibat trauma energi rendah seperti jatuh. Angka kekambuhan sangat tinggi pada pasien usia muda, terutama yang kembali ke aktivitas olahraga kontak.
Sendi glenohumeral merupakan sendi dengan mobilitas tertinggi dalam tubuh manusia, namun memiliki stabilitas intrinsik yang rendah karena kavitas glenoidalis yang dangkal. Stabilitas sendi bahu bergantung pada:
Dislokasi anterior umumnya terjadi akibat kombinasi abduksi, rotasi eksternal, dan ekstensi, yang menyebabkan kaput humerus terdorong keluar dari kavitas glenoidalis bagian anterior-inferior. Cedera yang sering menyertai meliputi:
Pasien biasanya datang dengan keluhan nyeri hebat pada bahu, deformitas bahu (square shoulder), keterbatasan gerak aktif maupun pasif, serta posisi lengan dalam abduksi dan rotasi eksternal. Pada palpasi, kaput humerus dapat teraba di anterior.
Pemeriksaan neurovaskular wajib dilakukan, terutama evaluasi:
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiologi.
Manajemen Terapi
a. Dislokasi Akut
b. Dislokasi Kronis
Dislokasi yang tidak direduksi >3 minggu disebut dislokasi kronis. Penatalaksanaan bergantung pada usia, aktivitas pasien, defek tulang, dan kondisi rotator cuff.
Pilihan terapi meliputi:
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
Prognosis
Prognosis umumnya baik bila reduksi dilakukan dini dan rehabilitasi adekuat. Faktor yang memperburuk prognosis meliputi usia muda, aktivitas olahraga kontak, adanya defek tulang glenoid atau Hill-Sachs besar, serta keterlambatan penanganan. Angka kekambuhan tinggi pada pasien usia <25>
Kesimpulan
Dislokasi sendi glenohumeral merupakan kondisi ortopedi yang sering terjadi akibat karakteristik sendi bahu yang sangat mobile namun kurang stabil. Diagnosis yang cepat, reduksi yang tepat, serta rehabilitasi terstruktur sangat penting untuk mencegah komplikasi dan kekambuhan. Pemilihan terapi harus disesuaikan dengan usia, aktivitas, dan kondisi anatomi pasien untuk mendapatkan hasil fungsional yang optimal.
Referensi:
Cutts S, Prempeh M, Drew S. Anterior shoulder dislocation. Ann R Coll Surg Engl. 2009.
Christofi T, et al. Management of shoulder dislocations. Trauma. 2018.
Hendey GW. Managing anterior shoulder dislocation. Ann Emerg Med. 2016.
Alkaduhimi H, et al. Closed shoulder reduction techniques. Arch Orthop Trauma Surg. 2017.
Pak T, Kim AM. Anterior Glenohumeral Joint Dislocation. StatPearls. 2023.
Smoak JB, et al. Chronic glenohumeral dislocations treated with arthroplasty. JSES Rev Rep Tech. 2021.
Sumber Gambar:
https://files.mickeymed.com/articles/804110shoulder-joint.jpg
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSo2jfSsXTV611ot4OvdVEzYeQTpcp977zNkA&s
https://www.osmifw.com/wp-content/uploads/2015/11/shoulder-joint-anatomy-2-glenhumeral.jpg