Jumat, 30 Januari 2026 10:16 WIB

Dislokasi Sendi Glenohumeral

Responsive image
27
Ayu Farica Putri - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Dislokasi sendi glenohumeral adalah kondisi ketika kaput humerus keluar dari kavitas glenoidalis skapula sehingga hubungan anatomis normal sendi bahu terganggu. Dislokasi ini paling sering terjadi ke arah anterior dan merupakan dislokasi sendi besar yang paling sering dijumpai dalam praktik klinis ortopedi.

Dislokasi bahu menyumbang sekitar 45–50 persen dari seluruh kasus dislokasi sendi. Insidensinya berkisar antara 11–26 per 100.000 populasi per tahun. Sekitar 95–98% kasus merupakan dislokasi anterior. Distribusi usia bersifat bimodal, dengan insidensi tinggi pada pria muda usia 15–30 tahun akibat trauma energi tinggi (olahraga atau kecelakaan), serta pada kelompok usia lanjut akibat trauma energi rendah seperti jatuh. Angka kekambuhan sangat tinggi pada pasien usia muda, terutama yang kembali ke aktivitas olahraga kontak.

Sendi glenohumeral merupakan sendi dengan mobilitas tertinggi dalam tubuh manusia, namun memiliki stabilitas intrinsik yang rendah karena kavitas glenoidalis yang dangkal. Stabilitas sendi bahu bergantung pada:

  • Stabilisator statis: labrum glenoidale, kapsul sendi, dan ligamen glenohumeral
  • Stabilisator dinamis: otot rotator cuff dan otot scapular stabilizer

Dislokasi anterior umumnya terjadi akibat kombinasi abduksi, rotasi eksternal, dan ekstensi, yang menyebabkan kaput humerus terdorong keluar dari kavitas glenoidalis bagian anterior-inferior. Cedera yang sering menyertai meliputi:

  • Lesi Bankart: avulsi labrum glenoid anterior-inferior
  • Lesi Hill-Sachs: defek impaksi pada bagian posterolateral kaput humerus
    Cedera neurovaskular, terutama saraf aksilaris, juga dapat terjadi akibat mekanisme trauma maupun saat reduksi.

Pasien biasanya datang dengan keluhan nyeri hebat pada bahu, deformitas bahu (square shoulder), keterbatasan gerak aktif maupun pasif, serta posisi lengan dalam abduksi dan rotasi eksternal. Pada palpasi, kaput humerus dapat teraba di anterior.
Pemeriksaan neurovaskular wajib dilakukan, terutama evaluasi:

  • Fungsi saraf aksilaris (sensibilitas regio deltoid lateral)
  • Nadi perifer dan perfusi distal

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiologi.

  • Foto polos: proyeksi AP, scapular Y, dan aksilar (gold standard untuk menentukan arah dislokasi)
  • CT-scan: digunakan bila dicurigai fraktur kaput humerus atau glenoid, atau untuk evaluasi defek tulang
  • MRI: berguna untuk menilai cedera jaringan lunak seperti labrum dan rotator cuff, terutama pada kasus kronis atau rekuren

Manajemen Terapi

a. Dislokasi Akut

  • Reduksi tertutup sesegera mungkin, idealnya <24>
  • Teknik reduksi yang umum digunakan:
    • Hippocratic
    • Traction–countertraction
    • Kocher
    • Stimson
    • Milch
  • Imobilisasi menggunakan sling atau Velpeau bandage selama 1–3 minggu (bergantung usia dan kondisi pasien)
  • Rehabilitasi bertahap untuk mengembalikan ROM dan kekuatan otot rotator cuff

b. Dislokasi Kronis

Dislokasi yang tidak direduksi >3 minggu disebut dislokasi kronis. Penatalaksanaan bergantung pada usia, aktivitas pasien, defek tulang, dan kondisi rotator cuff.
Pilihan terapi meliputi:

  • Open reduction dengan stabilisasi (Bankart repair, Latarjet)
  • Arthroplasty (hemiarthroplasty atau reverse shoulder arthroplasty) pada pasien usia lanjut atau defek besar

Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:

  • Dislokasi berulang
  • Cedera saraf (terutama saraf aksilaris)
  • Cedera vaskular
  • Kekakuan sendi (adhesive capsulitis)
  • Osteoartritis pascatrauma
  • Kegagalan implan atau infeksi pascaoperasi

Prognosis

Prognosis umumnya baik bila reduksi dilakukan dini dan rehabilitasi adekuat. Faktor yang memperburuk prognosis meliputi usia muda, aktivitas olahraga kontak, adanya defek tulang glenoid atau Hill-Sachs besar, serta keterlambatan penanganan. Angka kekambuhan tinggi pada pasien usia <25>

Kesimpulan

Dislokasi sendi glenohumeral merupakan kondisi ortopedi yang sering terjadi akibat karakteristik sendi bahu yang sangat mobile namun kurang stabil. Diagnosis yang cepat, reduksi yang tepat, serta rehabilitasi terstruktur sangat penting untuk mencegah komplikasi dan kekambuhan. Pemilihan terapi harus disesuaikan dengan usia, aktivitas, dan kondisi anatomi pasien untuk mendapatkan hasil fungsional yang optimal.

 

Referensi:

Cutts S, Prempeh M, Drew S. Anterior shoulder dislocation. Ann R Coll Surg Engl. 2009.

Christofi T, et al. Management of shoulder dislocations. Trauma. 2018.

Hendey GW. Managing anterior shoulder dislocation. Ann Emerg Med. 2016.

Alkaduhimi H, et al. Closed shoulder reduction techniques. Arch Orthop Trauma Surg. 2017.

Pak T, Kim AM. Anterior Glenohumeral Joint Dislocation. StatPearls. 2023.

Smoak JB, et al. Chronic glenohumeral dislocations treated with arthroplasty. JSES Rev Rep Tech. 2021.

Sumber Gambar:

https://files.mickeymed.com/articles/804110shoulder-joint.jpg

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSo2jfSsXTV611ot4OvdVEzYeQTpcp977zNkA&s

https://www.osmifw.com/wp-content/uploads/2015/11/shoulder-joint-anatomy-2-glenhumeral.jpg