Anemia merupakan kondisi medis yang umum di mana darah seseorang kekurangan sel darah merah yang sehat atau hemoglobin. Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh ketika seseorang terkena anemia, mereka mungkin merasa lelah, lemah, dan sesak napas. Anemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kekurangan zat besi, vitamin B12, atau folat; kehilangan darah; dan kerusakan sumsum tulang. Dalam upaya untuk meningkatkan diagnosis awal dan akurasi klasifikasi penyakit anemia. Anemia merupakan salah satu penyakit tidak menular yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin dibawah normal yang menyebabkan pengangkutan oksigen ke seluruh tubuh berkurang. Kekurangan oksigen mengakibatkan penderita anemia mengalami gejala berupa pucat, letih lesu, pusing atau sakit kepala, dan mata ber kunang-kunang. Menurut World Health Organization (WHO) angka kejadian anemia di seluruh dunia masih tinggi, diperkirakan sebanyak 1,3 milyar penduduk dunia menderita anemia dengan prevalensi sebesar (32,9%). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi anemia pada balita hingga remaja mencapai angka yang mengkhawatirkan, yakni 23,8% pada usia 0-4 tahun, 15,3% pada usia 5-14 tahun, dan 15,5% pada usia 15-24 tahun. Anemia masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Anemia merupakan salah satu permasalahan yang memerlukan penyelesaian, hal ini dikarenakan kejadian anemia dapat menurunkan produktivitas kerja dan tingkat kesejahteraan hidup keluarga.
Jenis Anemia
Berikut ini adalah jenis-jenis anemia yang umum terjadi berdasarkan penyebabnya :
1. Anemia akibat kekurangan zat besi.
Kekurangan zat besi membuat tubuh tidak mampu menghasilkan hemoglobin (Hb). Kondisi ini bisa terjadi akibat kurangnya asupan zat besi dalam makanan, atau karena tubuh tidak mampu menyerap zat besi, misalnya akibat penyakit celiac.
2. Anemia pada masa kehamilan.
Jika dibandingkan wanita dewasa yang tidak hamil, kadar hemoglobin ibu hamil biasanya akan sedikit lebih rendah. Namun, kondisi tersebut wajar terjadi karena kebutuhan hemoglobin meningkat saat hamil sehingga dibutuhkan lebih banyak zat pembentuk hemoglobin, yaitu zat besi, vitamin B12, dan asam folat.
3. Anemia akibat perdarahan.
Anemia dapat disebabkan oleh perdarahan berat yang terjadi secara perlahan dalam waktu lama atau terjadi seketika. Penyebabnya bisa cedera, gangguan menstruasi, wasir, peradangan pada lambung, kanker usus, atau efek samping obat, seperti Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS).
Anemia karena perdarahan juga bisa jadi merupakan gejala cacingan akibat infeksi cacing tambang yang menghisap darah dari dinding usus..
4. Anemia Aplastik
Anemia aplastik terjadi ketika kerusakan pada sumsum tulang membuat tubuh tidak mampu lagi menghasilkan sel darah merah dengan optimal. Kondisi ini diduga disebabkan oleh infeksi, penyakit autoimun, paparan zat kimia beracun, serta efek samping obat antibiotik dan obat untuk mengatasi rheumatoid arthritis.
5. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik terjadi ketika penghancuran sel darah merah lebih cepat daripada pembentukannya. Kondisi ini dapat diturunkan dari orang tua, atau didapat setelah lahir akibat kanker darah, infeksi bakteri atau virus, penyakit autoimun, bisa juga karena efek samping obat, seperti paracetamol, penisilin, dan obat antimalaria.
6. Anemia akibat penyakit kronis.
Beberapa penyakit dapat memengaruhi proses pembentukan sel darah merah, terutama bila berlangsung dalam jangka panjang. Beberapa di antaranya adalah penyakit Crohn, penyakit ginjal, kanker, rheumatoid arthritis, dan HIV/AIDS.
7. Anemia sel sabit (sickle cell anemia).
Anemia sel sabit disebabkan oleh mutasi (perubahan) genetik pada hemoglobin. Akibatnya, hemoglobin menjadi lengket dan berbentuk tidak normal, yaitu seperti bulan sabit. Seseorang bisa terserang anemia sel sabit jika kedua orang tuanya sama-sama mengalami mutasi genetik tersebut.
Hasil Penelitian
Dari beberapa studi dan penelitian ditemukan hasil sebagai berikut :
Referensi :
Dwi Sarwani Srirejeki, dkk. 2024. Analisis Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Anemia pada Petani di Desa Linggasari Kabupaten Banyumas. Jurnal Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang.
Asmin E., Salulinggi A., Titaley CR., Bension J. Hubungan Pengetahuan dan Kepatuhan Ibu Hamil Konsumsi Tablet Tambah Darah dengan Kejadian Anemia di Kecamatan Leitimur Selatan dan Teluk Ambon. J Epidemiol Kesehat Komunitas. 2021;6(1) : 229-36.
Harahap NR. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri. Nurs Arts. 2018;12(2):78-90.
World Health Organization. 2020. Global Anemia Report. Geneva : WHO Press.
Smith, J., & Zhang, L. 2021. Epidemiology of Anemia and Its Impact on Global Health. Journal of Medical Science, 25(3), 456-468.
K. Wardhani, dkk. Perbandingan Algoritma Naive Bayes dan Desicion Tree dalam Pengujian Data Anemia Menggunakan. Inotek, vol. 8, 2024.
Y. Maulina, A. Gunaryati, and R. T. Aldisa. 2016. Sistem Pakar Diagnosis Awal Penyakit Anemia Menggunakan Metode Naïve Bayes dan Certainty Factor, STRING.