Jumat, 20 Februari 2026 08:57 WIB

Saat Terbaik Mengkonsumsi Zat Besi

Responsive image
15
Aninditya Laras Pangestuti - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Zat besi adalah sumber ratusan protein dan enzim serta bermanfaat dalam badan. Zat besi berperan penting dalam metabolisme energi, fungsi kekebalan tubuh dan proses otak. Fungsi yang paling penting adalah perannya sebagai transporter oksigen ke seluruh tubuh. Normalnya, setiap harinya manusia membutuhkan zat besi sekitar 20-25 mg untuk menghasilkan sel darah merah. Kurangnya asupan zat besi dapat menyebabkan anemia. Penyebab anemia yang paling sering terjadi adalah tidak terpenuhinya angka kebutuhan zat besi dikarenakan kurangnya asupan zat besi sehingga menyebabkan defisiensi zat besi dalam tubuh. Gejala kekurangan zat besi antara lain cepat merasa lelah dan lemah, sesak napas, takikardi, perubahan status mental, hipotermia, dan peningkatan risiko infeksi.

Suplemen zat besi yang banyak tersedia di pasaran pada umumnya dalam bentuk Ferrous Sulfat, Ferrous Glisinat, dan Ferrous Fumarat. Untuk memaksimalkan penyerapan zat besi, saat yang paling tepat adalah diminum saat perut kosong (1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan) dengan air putih atau dengan tambahan asupan vit C (suplemen atau buah jeruk). Beberapa jenis zat besi bisa menyebabkan mual, jika mual terjadi maka zat besi bisa diminum 2 jam sesudah makan. Hindari mengkonsumsi suplemen zat besi bersamaan dengan kalsium, antasida, dan kafein karena dapat mengganggu penyerapan suplemen zat besi.

Alternatif lain untuk suplementasi oral zat besi adalah melalui infus intravena.  Suplemen zat besi melalui intravena ini diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi berikut :

1.    Tidak dapat minum suplemen zat besi oral

2.    Wanita hamil yang mengalami muntah dan mual secara signifikan

3.    Pasien yang telah menjalani operasi bypass lambung

4.    Pasien yang mengalami malabsorpsi yang mencegah penyerapan zat besi (anemia perniosa, celiac disease)

5.    Pasien peradangan kronis (SLE, rheumatic arthritis)

Suplemen zat besi dapat mengurangi penyerapan obat lain dengan membentuk kompleks yang tidak larut dengan obat metildopa/levodopa, fluoroquinolon, penisilin, atau tetrasiklin. Juga hindari mengonsumsi suplemen zat besi bersama susu, kalsium, antasida, makanan tinggi serat, atau kafein.

Monitoring kadar zat besi dalam darah sangat penting untuk mengetahui efektivitas suplemen ataupun kepatuhan pasien dalam minum suplemen zat besi. Monitoring ini dilakukan setelah mengonsumsi suplemen zat besi selama beberapa bulan. Untuk pasien yang menerima zat besi secara intravena, kadar zat besi seharusnya berada dalam batas normal setelah enam minggu terapi. Suplementasi zat besi dapat dihentikan setelah terdapat cadangan zat besi dan transferrin yang cukup dalam tubuh. 

 

Referensi:

2023, Nguyen, Minhthao. Tadi, Prasana. Iron Suplementation. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557376/

2021. Syahrizal, Remaja Sehat Bebas Anemia. Opini Hari Gizi Nasional, Repositori Universitas Andalas.

Sumber gambar:

https://cdn.rri.co.id/berita/Sibolga/o/1770438980285-High_Resolution_Stock_Photography_and_Images/wuukn6enz5vqzca.jpeg

https://res.cloudinary.com/dk0z4ums3/image/upload/v1637550651/attached_image/stamina-prima-berkat-makanan-mengandung-zat-besi.jpg

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQd0VjufSJNBBH1ZSawXy8k5Rv383YJfgrkmw&s