Kamis, 29 Januari 2026 11:55 WIB

Nutrisi Sehat untuk Orang dengan Alzheimer

Responsive image
7
Dwi Setyarini - RS Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Penyakit Alzheimer (AD) adalah penyakit neurodegeneratif progresif dan ireversibel yang ditandai dengan penurunan kemampuan kognitif dan fungsional, kehilangan ingatan dan kemampuan berbahasa secara episodik, gejala neuropsikiatri, dan kematian dini. Saat ini, demensia mempengaruhi sekitar 25 juta orang di seluruh dunia, dan diperkirakan bahwa karena peningkatan harapan hidup pada tahun 2050, akan ada setidaknya 115,4 juta orang yang menderita penyakit ini. Penyakit ini bermanifestasi pada tingkat biokimia, yaitu berupa akumulasi endapan peptida amiloid-beta (A?) dan pembentukan kekusutan neurofibriler protein di otak. Telah ditunjukkan bahwa penerapan langkah-langkah tertentu dapat memperlambat perkembangannya, di antaranya pendekatan nutrisi menjadi semakin penting (Miculas et al., 2023).

Temuan terbaru menunjukkan bahwa timbulnya dan perkembangan penyakit Alzheimer (AD) sangat berkorelasi dengan gaya hidup, termasuk pola makan. Intervensi nutrisi yang tepat mungkin merupakan pendekatan yang baik untuk menunda penurunan neurokognitif dan mengurangi risiko timbulnya dan perkembangan AD. Dengan mengikuti pola makan sehat, asupan tinggi protein nabati, probiotik, kacang-kacangan, dan asam lemak tak jenuh ganda omega-3 serta asupan rendah lemak jenuh, protein hewani, dan gula olahan dapat menurunkan risiko gangguan neurokognitif (Pistollato et al., 2018 ; Abduljawad et al., 2022). Selain itu, vitamin dan mineral memiliki banyak fungsi vital, termasuk memodulasi kesehatan otak dan fungsi kognitif. Oleh karena itu, pemberian suplemen mikronutrien ini dapat membantu mempertahankan aktivitas kognitif yang memadai atau bahkan mencegah demensia (Karthika dkk., 2022).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi makanan yang kaya antioksidan dan anti inflamasi seperti yang ditemukan dalam buah-buahan, kacang-kacangan, sayuran dan ikan dapat mengurangi penurunan kognitif terkait usia dan risiko terkena berbagai penyakit neurodegeneratif. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat atau mencegah oksidasi sehingga mampu melindungi dari efek radikal bebas oksigen reaktif.  Makanan dengan kandungan antioksidan tinggi dapat menjadi pelindung saraf untuk melawan kematian sel. Contoh antioksidan vitamin umumnya vitamin A, vitamin E, dan vitamin C (Zeng dan Wang, 2001). Selain itu antioksidan dari tumbuhan seperti senyawa polifenol atau fenol, golongan flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol dan asam organik (Melzer, et al., 2021).

Selain, antioksidan, terdapat kandungan makanan yang berperan dalam perlindungan otak. Salah satunya, asam lemak omega-3 khususnya asam docosahexaenoic (DHA) yang ada pada bahan makanan salmon, tuna, dan sarden serta biji chia. Vitamin B kompleks (khususnya B6, B12 dan folat) berperan dalam metabolisme homosistein. Sumber alami vitamin B termasuk daging, ikan, telur, sayuran hijau, dan biji-bijian.

Bagi penderita Alzheimer atau demensia, nutrisi yang buruk dapat meningkatkan gejala perilaku dan menyebabkan penurunan berat badan. Berikut tips nutrisi dasar yang dapat membantu meningkatkan kesehatan penderita Alzheimer :

  • Berikan makanan seimbang dengan beragam jenis makanan , seperti : sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, produk susu rendah lemak, dan makanan berprotein rendah lemak.
  • Batasi makanan dengan kandungan lemak jenuh dan kolesterol tinggi. Kurangi konsumsi lemak yang buruk untuk kesehatan jantung, seperti mentega, lemak padat, lemak babi, dan potongan daging berlemak.
  • Kurangi konsumsi gula olahan. Gula olahan mengandung kalori tetapi kekurangan vitamin, mineral, dan serat. Mengatasi keinginan makan manis, pilihan makanan yang lebih sehat adalah buah atau makanan panggang yang dimaniskan dengan jus. Namun perlu diingat bahwa pada tahap akhir Alzheimer, jika kehilangan nafsu makan menjadi masalah, menambahkan gula ke makanan dapat mendorong makan.
  • Batasi makanan dengan kandungan natrium tinggi dan kurangi penggunaan garam. Terlalu banyak mengkonsumsi natrium akan mempengaruhi tekanan darah. Sebagai alternatif, gunakan rempah-rempah atau herba untuk membumbui makanan.
  • Menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan asupan cairan yang cukup, dengan minum segelas kecil air atau cairan lain sepanjang hari atau makanan dengan kandungan air tinggi, seperti buah-buahan, sup, milkshake, dan smoothie.

Kemungkinan penyebab nafsu makan buruk pada penderita Alzheimer :

  1. Tidak mengenali makanan yang disajikan.
  2. Menggunakan gigi palsu yang tidak pas.
  3. Obat-obatan seperti pemberian obat baru atau perubahan dosis dapat mempengaruhi nafsu makan.
  4. Kurang berolahraga dan aktivitas fisik akan mengurangi nafsu makan.
  5. Penurunan kemampuan mencium bau dan mengecap rasa. Penderita Alzheimer/demensia mungkin tidak mau makan karena makanan mungkin tidak lagi berbau atau terasa seenak dulu.

Pada tahap pertengahan dan akhir penyakit Alzheimer, masalah menelan dapat menyebabkan tersedak dan penurunan berat badan. Hal ini dapat dicegah dengan tips berikut :

  • Siapkan makanan agar mudah dikunyah atau ditelan . Haluskan makanan, potong menjadi potongan kecil seukuran sekali gigit, atau sajikan makanan lunak (saus apel, keju cottage, dan telur orak-arik).
  • Waspadai tanda-tanda tersedak . Hindari makanan yang sulit dikunyah, usahakan duduk tegak dengan kepala sedikit menjorok ke depan. Jika kepala penderita miring ke belakang, gerakkan ke posisi depan. Di akhir makan, periksa mulut orang tersebut untuk memastikan makanan telah tertelan.
  • Atasi penurunan nafsu makan . Jika seseorang mengalami penurunan nafsu makan, dapat dicoba menyiapkan beberapa makanan favoritnya, pertimbangkan untuk meningkatkan aktivitas fisik, atau merencanakan beberapa kali makan kecil daripada tiga kali makan besar.

Referensi:

Miculas, D., Negru, P., Bungau, S., Behl, T., Hassan, S., and Tit, D. (2023). Pharmacotherapy evolution in Alzheimer’s disease: current framework and relevant directions. Cells 12, 1–26. doi: 10.3390/cells12010131

Pistollato, F., Calderon Iglesias, R., Ruiz, R., Aparicio, S., Crespo, J., Dzul Lopez, L., et al. (2018). Nutritional patterns associated with the maintenance of neurocognitive functions and the risk of dementia and Alzheimer’s disease: a focus on human studies. Pharmacol. Res. 131, 32–43. doi: 10.1016/j.phrs.2018.03.012

Abduljawad, A., Elawad, M., Elkhalifa, M., Ahmed, A., Hamdoon, A., Salim, L., et al. (2022). Alzheimer’s disease as a major public health concern: role of dietary saponins in mitigating neurodegenerative disorders and their underlying mechanisms. Molecules 27, 1–23. doi: 10.3390/molecules27206804

Karthika, C., Appu, A., Akter, R., Rahman, M., Tagde, P., Ashraf, G., et al. (2022). Potential innovation against Alzheimer’s disorder: a tricomponent combination of natural antioxidants (vitamin E, quercetin, and basil oil) and the development of its intranasal delivery. Environ. Sci. Pollut. Res. 29, 10950–10965. doi: 10.1007/s11356-021-17830-7

Melzer, T. M., Manosso, L. M., Yau, S. Y., Gil-Mohapel, J., & Brocardo, P. S. (2021). In pursuit of healthy aging: Effects of nutrition on brain function. In International Journal of Molecular Sciences (Vol. 22, Issue 9). MDPI AG. https://doi.org/10.3390/ijms22095026