Kamis, 29 Januari 2026 14:30 WIB

Obesitas pada Remaja dan Cara Mencegahnya

Responsive image
17
Novarina Majid - RS Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Obesitas adalah kondisi ketika tubuh memiliki kelebihan lemak berlebihan akibat asupan energi (makanan/minuman) jauh melebihi pengeluaran (aktivitas fisik). Pada remaja, obesitas biasanya ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) relatif terhadap usia dan jenis kelamin. Remaja termasuk dalam kategori obesitas apabila IMT-nya melebihi batas normal berdasarkan kurva pertumbuhan yang relevan. Kondisi ini bukan sekadar soal berat badan atau penampilan, melainkan masalah kesehatan serius yang dapat memengaruhi masa remaja dan dewasa.

Kenapa obesitas pada remaja ya, ini lho penyebabnya:

  1. Kebanyakan Makan Junk Food. Sering jajan burger, ayam crispy, minuman manis, boba tiap hari. Kalorinya tinggi banget, tapi sering nggak bikin kenyang lama.
  2. Kurang Gerak/ Mager. Banyak duduk, nonton, scrolling medsos, rebahan sepanjang hari. Aktivitas fisik minim bikin kalori numpuk jadi lemak.
  3. Kecanduan Gadget. Main HP berjam-jam bikin lupa gerak, lupa minum, kadang makan cuma buat temen scroll.
  4. Pola Tidur Berantakan. Begadang tiap malam, bangun kesiangan. Kurang tidur bikin hormon pengatur nafsu makan kacau, jadinya gampang lapar dan craving makanan manis.
  5. Hobi Ngemil Tanpa Sadar. Ngemil keripik, coklat, atau minuman manis saat nugas atau nonton. “Cuma sedikit kok”, padahal kalau dijumlahin lumayan banget kalorinya.
  6. Stres & Emosi. Banyak tugas, drama pertemanan, overthinking. Kadang stres bikin orang pelarian ke makanan (emotional eating).
  7. Kurang Makan Sayur & Buah. Lebih milih makanan cepat saji dibanding makanan bergizi. Akhirnya tubuh kekurangan serat dan nutrisi yang penting buat ngatur berat badan.
  8. Faktor Keluarga / Genetik. Kalau orang tua atau keluarga punya riwayat obesitas, risiko remaja juga lebih tinggi. Tapi tetap bisa dicegah kok.

Dampak obesitas pada remaja tidak hanya fisik, seperti peningkatan risiko penyakit metabolik (misalnya sindrom metabolik, gangguan gula darah, kolesterol, dan lainnya). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa remaja obes berisiko lebih tinggi terhadap sindrom metabolik dibanding remaja dengan berat badan normal.            

Dampak lainnya bisa berupa penurunan kepercayaan diri, masalah psikologis, dan kesulitan mengikuti aktivitas fisik atau sosial karena keterbatasan fisik. Karena itu, pencegahan obesitas pada remaja sangat penting. Berikut beberapa langkah yang direkomendasikan:

1. Terapkan pola makan sehat dan seimbang: kurangi makanan cepat saji, gorengan, dan cemilan tinggi gula/lemak; perbanyak buah, sayur, sumber protein sehat; batasi minuman manis; dan atur porsi makan. Contoh pola makan sehat dan seimbang:

  • Sarapan: Roti gandum + telur / oatmeal + buah + air putih
  • Camilan pagi: Buah (apel/pisang/pepaya) / yogurt plain
  • Makan Siang: ½ piring nasi, ¼ piring lauk (ayam/ikan/tahu/tempe), ¼ piring sayur
  • Camilan Sore: Kacang panggang / potongan buah / smoothie tanpa gula
  • Makan Malam: Ikan/ayam + sayur + sedikit nasi; hindari makan larut malam
  • Minuman: Air putih 6–8 gelas/hari; kurangi minuman manis

2. Pastikan aktif bergerak setiap hari. Minimal 60 menit aktivitas fisik ringan hingga sedang, seperti jalan cepat, bersepeda, olahraga ringan; hindari gaya hidup terlalu sedentari.

3. Batasi waktu layar/gadget untuk hiburan. Terlalu banyak waktu duduk dan menonton bisa memicu pola makan tidak sehat dan mengurangi aktivitas fisik.

4. Tidur cukup dan teratur. Pola tidur yang baik membantu menjaga metabolisme dan kadar hormon.

5. Edukasi gizi dan kesadaran akan pentingnya hidup sehat. Baik di rumah, sekolah, maupun komunitas; peran lingkungan sangat besar dalam membentuk kebiasaan sehat

 

Referensi :

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Obesitas pada Remaja di Indonesia — review literatur 2016–2024 menunjukkan konsumsi cepat saji, gaya hidup sedentari, dan kurang pengetahuan gizi sebagai faktor risiko utama. Journal Universitas Pahlawan+1

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Obesitas pada Remaja di SMP Islam Plus Daarul Jannah Tahun 2024 — penelitian kuantitatif (2024) menemukan hubungan signifikan antara konsumsi fast food & rendah aktivitas fisik dengan obesitas. Journal Universitas Pahlawan

Mencegah obesitas: peran aktivitas fisik pada remaja awal — penelitian menunjukkan aktivitas fisik rutin penting untuk mencegah obesitas di usia remaja. ejournal.stikku.ac.id

Sindrom metabolik pada remaja obes: prevalensi dan hubungannya dengan kualitas diet — menyoroti risiko kesehatan jangka panjang seperti sindrom metabolik bila remaja obes terus-menerus menjalani pola makan buruk. Jurnal Universitas Gadjah Mada