Penggunaan formalin sebagai Bahan Tambahan Pangan (BTP) dilarang sesuai dengan Permenkes RI Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan (BTP). Formalin yang dikenal sebagai formaldehida telah lama digunakan sebagai pengawet konvensional di berbagai fasilitas komersial dan industri, seperti tekstil, pertanian, pemupukan industri, dan pengawetan spesimen di laboratorium rumah sakit. Karena ketersediaannya yang mudah dan kemampuannya untuk memperpanjang umur simpan, formalin sering disalahgunakan sebagai pengawet makanan.
Mengingat sifatnya yang karsinogenik, penggunaan formalin dalam makanan dapat membahayakan kesehatan. Ketika terhirup atau terkena kulit, senyawa ini dapat menimbulkan berbagai gejala mulai dari iritasi hingga gangguan sistemik yang serius, termasuk kanker. Berbagai metode dan penelitian sebelumnya telah diupayakan untuk menghilangkan formalin dan menurunkan kadarnya dalam makanan. Perendaman dengan jus lidah buaya diketahui mampu mengurangi kadar formalin dalam tahu hingga 58,64%, sedangkan penggunaan perasan jeruk nipis 6% efektif dalam menurunkan kadar formalin pada udang rebon. Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa teknik pencucian dan perendaman menggunakan air mengalir selama 60 menit dapat mengurangi konsentrasi formalin pada ikan asin sepat sebesar 6,91%.
Tidak hanya berbahaya jika terhirup atau terkena langsung, formalin juga sangat berisiko bila digunakan sebagai campuran dalam makanan. Konsumsi makanan yang mengandung formalin dapat mengiritasi saluran pencernaan, memicu mual, muntah, dan nyeri perut, serta berisiko merusak organ tubuh bila terjadi berulang.
Bahayanya bagi Kesehatan
Formalin biasa digunakan pada kayu yang dipakai untuk membuat perabotan rumah tangga, seperti lemari pakaian, tempat tidur, atau dinding. Oleh karena itu, rumah bisa menjadi sumber paparan formalin dengan kadar paling tinggi, terutama rumah yang baru selesai dibangun atau baru saja direnovasi.
Formalin pun terkandung dalam produk pembersih rumah tangga, pestisida, dan bahan pengawet sampel jaringan di laboratorium. Selain itu, formalin juga dapat ditemukan pada kompor gas dan asap rokok.
Formalin bisa memicu beragam masalah kesehatan bila terpapar terus-menerus dalam jumlah besar. Paparan formalin yang terlalu tinggi bisa memicu sakit kepala, batuk, dan iritasi pada kulit. Sementara itu, paparan formalin dalam jangka panjang dapat menyebabkan masalah kesehatan serius berikut :
1.Infeksi Saluran Pernapasan
Formalin yang terhirup dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Penderita masalah pernapasan, seperti bronkitis dan asma, bahkan bisa mengalami gejala yang makin parah setelah menghirup formalin.
Penderita penyakit pernapasan kronis lainnya juga lebih rentan terhadap paparan formalin. Radang tenggorokan, batuk, dan mimisan, hingga sesak napas, termasuk gejala-gejala yang dapat timbul jika Anda terpapar senyawa kimia ini.
2.Kanker
Formalin juga diketahui sebagai salah satu zat pemicu kanker, terutama kanker paru-paru, kanker tenggorokan, kanker nasofaring, dan leukemia. Semakin tinggi kadar formalin yang masuk ke tubuh, makin tinggi pula risiko terkena kanker tersebut. Perlu diketahui juga bahwa anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang dianggap lebih sensitif terhadap formalin sehingga lebih mudah sakit setelah terpapar zat ini.
Cara Mengurangi dan Mencegah Paparan Formalin
Untuk mengurangi dan mencegah paparan formalin, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan, yaitu :
1. Jaga sirkulasi udara di dalam rumah tetap segar dengan cara memanfaatkan ventilasi atau membuka jendela lebar-lebar, terutama pada pagi hingga sore hari.
2. Pastikan suhu di dalam rumah pada suhu terendah yang masih nyaman, jika memungkinkan Anda bisa menggunakan Air Conditioner (AC).
3. Ajak anggota keluarga, terlebih anak-anak dan orang lanjut usia untuk sering menghirup udara segar di luar, terutama jika mereka menderita masalah pernapasan seperti asma.
4. Hindari merokok di dalam ruangan dan akan lebih baik lagi jika Anda menghentikan kebiasaan merokok.
5. Jika Anda sedang menggunakan insektisida atau produk pembersih, pastikan menggunakannya di luar ruangan.
6. Letakkan perabotan yang mengandung formalin, misalnya kursi kayu yang baru cat, di ruangan terbuka untuk diangin-anginkan sekitar 2-3 hari sebelum digunakan di dalam ruangan.
7. Cuci tangan dan bersihkan tubuh dengan air dan sabun setelah menggunakan insektisida atau produk pembersih.
8. Cuci bahan makanan dengan benar sebelum dimasak.
9. Masaklah makanan hingga matang, karena kandungan formalin bisa hilang pada saat proses pemanasan makanan.
10. Saat membeli daging, hindari daging yang terasa keras karena kemungkinan sudah diberi formalin.
Referensi :
Abdurraafi’ Maududi Dermawan, dkk. 2024. Edukasi Bahaya Formalin, Cara Identifikasi dan Upaya Penurunan Risiko pada Produk Pangan di MAN 3 Pontianak. Jurnal Pengabdian Masyarakat, Politeknik ‘Aisyiyah Pontianak.
Rezania Asyfiradayati, dkk. 2018. Identifikasi Kandungan Formalin pada Bahan Pangan (Mie Basah, Bandeng Segar dan Presto, Ikan Asin, Tahu) di Pasar Gede Kota Surakarta. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Arumsari, G. 2017. Perilaku Penggunaan Formalin pada Pedagang dan Produsen Mie Basah dan Tahu di Provinsi DKI Jakarta. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas. Universitas Andalas : Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas.
Protano, et.al. 2021. The Carcinogenic Effects of Formaldehyde Occupational Exposure : A Systematic Review. Cancers, 14(1), pp. 165.
Kwak, K., Domyung, P., & Park, J. 2020. Occupational Exposure to Formaldehyde and Risk of Lung Cancer : a Systematic Review and Meta-Analysis. National Library of Medicine, 63(4), pp. 312-327.
American Cancer Society. Determining If Something is a Carcinogen.
American Cancer Society. Formaldehyde and Cancer Risk.