Selasa, 07 April 2026 15:12 WIB

Relasi yang Sehat untuk Anak Muda di Masa Kini

Responsive image
10
dr Lahargo Kembaren SpKJ - RS Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Relasi toksik yang berujung pada terjadinya kekerasan bahkan cedera dan kematian sering kali kita lihat di generasi muda saat ini. Kurangnya panduan dan role model menyebabkan generasi Z masa kini kehilangan arah tentang bagaimana menjalin relasi yang sehat.

Generasi Z adalah generasi yang tumbuh di era digital, di mana relasi banyak dibangun lewat DM, story, dan notifikasi. Kedekatan bisa terasa instan, tapi kedalaman relasi, emotional bounding belum tentu terbangun. Di sisi lain, tekanan sosial, fear of missing out (FOMO), dan budaya validasi online membuat banyak anak muda sulit membedakan mana hubungan yang sehat dan mana yang melelahkan secara emosional. Tidak jarang banyak anak muda jaman sekarang yang terikat dengan hubungan yg toksik dengan pasangannya.

Relasi yang sehat bukan tentang seberapa sering bersama menghabiskan waktu dengan senang gembira, tetapi seberapa aman, bertumbuh, dan dihargai dalam menjalankannya

 

Ciri-Ciri Relasi yang Sehat :

1. Saling Menghargai Batasan (Boundaries)

Dalam relasi sehat:

- Tidak ada paksaan membuka password.

- Tidak ada tekanan untuk selalu online.

- Tidak ada manipulasi emosional seperti “kalau kamu sayang, kamu harus…”

- Boundaries bukan tanda tidak cinta, justru itu adalah tanda cinta yang matang.

 

2. Bisa Jadi Diri Sendiri

Relasi atau hubungan yang sehat membuat seseorang merasa:

- Aman mengekspresikan pendapat.

- Tidak takut salah.

- Dapat menjadi versi terbaik diri sendiri

- Tidak harus berpura-pura demi diterima.

- Jika seseorang merasa harus terus “menyesuaikan diri” agar tidak ditinggalkan, itu tanda relasi mulai tidak sehat.

 

3. Konflik Tidak Berujung Ancaman

Dalam hubungan sehat:

- Konflik dibicarakan, bukan didiamkan.

- Tidak ada ancaman putus setiap kali berbeda pendapat.

- Tidak ada kekerasan verbal atau fisik dan seksual

- Konflik itu wajar. Yang menentukan kualitas hubungan adalah cara menyelesaikannya.

 

4. Tidak Bergantung Secara Emosional Berlebihan

- Cinta bukan tentang: “Aku nggak bisa hidup tanpa kamu.”

- Cinta yang sehat lebih seperti: “Aku memilih bersamamu, karena itu keinginanku dan itu membuatku lebih baik”

- Ketergantungan emosional ekstrem sering menjadi pintu masuk posesif, cemburu berlebihan, dan kontrol emosi yang tidak sehat.

 

Tantangan Khas Gen Z dalam Relasi

- Validasi digital ? merasa hubungan harus terlihat “sempurna” di media sosial.

- Overthinking karena chat ? salah tafsir tanda baca, last seen, atau slow response, centang 2 tapi tidak dibalas

- Fear of abandonment ? takut ditinggal sehingga rela mengorbankan nilai hidup yang dimiliki

- Paparan toxic relationship online ? menganggap drama sebagai tanda cinta.

- Gen Z sangat ekspresif secara emosional, tetapi sering belum mendapat keterampilan regulasi emosi yang cukup.

 

Tips Psikologis untuk Anak Muda (Gen Z)

 

1. Kenali Diri Sebelum Menjalin Relasi

Tanya diri:

- Apa kebutuhan emosional saya?

- Apa nilai hidup saya?

- Apa yang tidak bisa saya toleransi?

Relasi sehat dimulai dari self-awareness.

 

2. Belajar Regulasi Emosi

Sebelum mengirim chat panjang saat marah:

- Jeda 30 menit.

- Tarik napas.

- Tulis dulu, jangan langsung kirim.

Emosi yang tidak diatur sering merusak relasi yang sebenarnya bisa diperbaiki.

 

3. Bedakan Cinta dan Obsesi

- Cinta itu memberi ruang.

- Obsesi menuntut kepemilikan.

Jika hubungan dipenuhi:

- Cek lokasi terus-menerus

- Cemburu tanpa alasan jelas

- Kontrol aktivitas

Itu bukan cinta sehat.

 

4. Jangan Abaikan Red Flags

Misalnya:

- Sering merendahkan.

- Gaslighting (“Kamu lebay.” “Itu cuma bercanda.”)

- Mengisolasi dari teman dan keluarga.

- Perilaku kekerasan verbal, fisik, dan seksual

Red flag yang diabaikan bisa menjadi masalah besar.

 

Peran Orang Tua dalam Membentuk Relasi Sehat

 

Relasi anak tidak muncul tiba-tiba. Fondasinya dibangun di rumah.

1. Menjadi Model Relasi Sehat

Anak belajar dari apa yang dilihat:

- Cara ayah - ibu menyelesaikan masalah dan konflik.

- Cara saling menghargai.

- Cara meminta maaf.

Anak yang tumbuh dengan komunikasi sehat cenderung mencari relasi yang sehat juga.

2. Bangun Komunikasi Terbuka Sejak Dini

Jika sejak kecil anak takut dihakimi, maka  mereka tidak akan bercerita saat ada masalah yg dihadapi

Orang tua perlu:

- Mendengar tanpa langsung menggurui.

- Bertanya, bukan menginterogasi.

- Menguatkan, bukan meremehkan.

3. Ajarkan Regulasi Emosi

- Bukan hanya berkata: “Jangan baper." Tetapi: “Ayah lihat kamu sedih. Mau cerita?”

- Validasi emosi membangun ketahanan psikologis.

4. Ajarkan Konsep Harga Diri

Anak dengan self-esteem yang sehat:

- Tidak akan membiarkan dirinya berada di hubungan yg abusif.

- Tidak mudah mengemis perhatian.

- Tidak mencari cinta untuk mengisi kekosongan.

Relasi yang sehat bukan tentang:

- Seberapa sering posting bersama.

- Seberapa posesif seseorang.

- Seberapa dramatis kisahnya.

Relasi sehat adalah tentang:

- Rasa aman

- Saling menghargai

- Bertumbuh bersama

- Tetap menjadi diri sendiri

 

Hai anak anak Gen Z, keterampilan relasi itu sama pentingnya dengan keterampilan akademikmu. Pelajarilah dan jalani sebaik mungkin.

Dan bagi orang tua, rumah adalah sekolah pertama tentang cinta dan relasi. Ajarilah sebaik mungkin agar anak muda tidak tersesat di masa depan.

 

Referensi:
Collins WA, Welsh DP, Furman W. Adolescent romantic relationships. Annu Rev Psychol. 2009;60:631–652.
Gross JJ. Emotion regulation: Current status and future prospects. Psychol Inq. 2015;26(1):1–26.
Steinberg L. We know some things: Parent–adolescent relationships in retrospect and prospect. J Res Adolesc. 2001;11(1):1–19.