Tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, atau paramedis memiliki tugas untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada para warga masyarakat, khususnya kepada para warga di Negara kita Indonesia, Negara kita Indonesia dengan jumlah penduduk 300 juta lebih dengan mayoritas umat Muslim saat ini sedang menjalankan ibadah Puasa. Adapun setiap tahunnya juga dari mayoritas penduduk Indonesia yang akan berpuasa, terdapat juga penderita diabetes, khususnya penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah pada pasien kita yang akan melakukan ibadah puasa, harus mempersiapkan diri misal 1-2 bulan kepada dokter terutama yang memiliki penyakit Diabetes untuk dapat melaksanakan puasa dengan aman serta memperhatikan perihal berikut:
1. Manajemen Nutrisi dan Pola Makan. Pengaturan nutrisi harus difokuskan pada kualitas dan waktu makan. Penyandang DMT2 sangat disarankan untuk mengakhirkan sahur guna memperpendek durasi puasa dan menjaga cadangan energi lebih lama. Saat berbuka, hindari konsumsi karbohidrat sederhana berlebih (seperti sirup atau takjil yang terlalu manis) secara sekaligus untuk mencegah lonjakan glukosa darah post-prandial (hiperglikemia). Komposisi piring makan sebaiknya mengikuti prinsip gizi seimbang: karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik rendah (seperti nasi merah atau gandum), protein cukup, dan serat tinggi dari sayuran. Serat membantu memperlambat penyerapan gula sehingga kadar glukosa lebih stabil.
2. Hidrasi dan Aktivitas Fisik. Asupan cairan minimal 2 liter per hari harus dipenuhi selama rentang waktu antara berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi. Di sisi lain, aktivitas fisik tetap dianjurkan namun dengan intensitas ringan hingga sedang. Waktu terbaik untuk berolahraga adalah menjelang berbuka atau setelah salat Tarawih. Hindari olahraga berat di siang hari karena risiko hipoglikemia dan dehidrasi meningkat tajam saat suhu udara tinggi.
3. Monitoring Mandiri dan Kapan Harus Membatalkan Puasa. Pendekatan non-farmakologis yang paling penting adalah Self-Monitoring of Blood Glucose (SMBG) atau pemantauan gula darah mandiri. Pasien harus diedukasi bahwa memeriksa gula darah tidak membatalkan puasa secara syariat. Pemeriksaan rutin sebaiknya dilakukan saat sahur, pagi hari, siang hari, menjelang berbuka, dan 2 jam setelah berbuka.
Edukasi "Kapan Harus Berhenti" adalah harga mati. Pasien harus segera membatalkan puasa jika:
Dengan persiapan yang matang melalui pendekatan non-farmakologis yang disiplin, penyandang DMT2 di Indonesia dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman, sehat, dan tetap meraih keberkahan ibadah.
Referensi :
International Diabetes Federation (IDF) & DAR International Alliance (2021). Diabetes and Ramadan: Practical Guidelines 2021. Brussels, Belgium: International Diabetes Federation.
PERKENI (2021). Pedoman Pengelolaan Ibadah Puasa Ramadan pada Penyandang Diabetes. Jakarta: Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia.
Hassanein, M., et al. (2022). "Diabetes and Ramadan: A review of the current evidence and practical guidelines." Diabetes Research and Clinical Practice, Vol 185.
Ali, S., et al. (2023). "Management of Diabetes during Ramadan: A comprehensive review of non-pharmacological and pharmacological approaches." Journal of Clinical Medicine, 12(4).
Mohamed, S. F., et al. (2024). "Nutrition therapy in patients with type 2 diabetes fasting during Ramadan: A consensus statement." The Lancet Diabetes & Endocrinology.