Cek Kesehatan Rutin di Usia Muda: Perlukah Kalau Belum Ada Keluhan?
A. “Saya Masih Muda dan Sehat, Ngapain Periksa?”
Pertanyaan ini sangat wajar. Banyak anak muda sekitar usia 18 hingga 35 tahun merasa bahwa pergi ke dokter hanya perlu dilakukan sewaktu sakit. Tubuh terasa bugar, tidak ada nyeri, tidak ada keluhan yang mengganggu. Lalu untuk apa menghabiskan waktu dan uang untuk cek kesehatan? Jawabannya sederhana namun penting yaitu banyak penyakit berbahaya tidak menunjukkan gejala apa pun, bahkan selama bertahun-tahun. Ketika gejala akhirnya muncul, kerusakan pada organ seringkali sudah cukup parah. Inilah alasan mengapa cek kesehatan rutin atau yang kita kenal sebagai preventive screening, hal ini justru paling bermanfaat dilakukan sebelum ada keluhan.
B. Penyakit “Diam-Diam” yang Mengintai Usia Muda
1. Hipertensi: Si Pembunuh Senyap
Hipertensi atau tekanan darah tinggi sering disebut “silent killer” karena dalam banyak kasus tidak menunjukkan gejala apa pun, sementara diam-diam merusak pembuluh darah dan organ vital. Menurut World Health Organization (WHO, 2024), sekitar 600 juta orang dewasa di dunia hidup dengan hipertensi tanpa mengetahuinya.
Yang lebih mengkhawatirkan yaitu hipertensi tidak lagi hanya masalah lansia. Sebuah studi ilmiah (PMC, 2021) menyebutkan bahwa semakin muda seseorang mengalami hipertensi, semakin besar risiko terkena penyakit kardiovaskular. Orang dengan hipertensi yang muncul sebelum usia 45 tahun ternyata memiliki risiko lebih dari dua kali lipat mengalami penyakit jantung dan kematian dini.
Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi tekanan darah tinggi pada penduduk usia 18 tahun ke atas meningkat dari 25,8% menjadi 34,1%. Satu-satunya cara mengetahui tekanan darah Anda adalah dengan mengukurnya, bukan dengan menunggu gejala datang.
2. Diabetes: Bisa Bertahun-tahun Tidak Terasa
Diabetes tipe 2 sering berkembang perlahan. Kadar gula darah yang tinggi bisa merusak saraf, ginjal, dan mata selama bertahun-tahun sebelum seseorang menyadari ada yang tidak beres. Menurut American Diabetes Association (2021), dari 38,4 juta penderita diabetes di AS, sekitar 8,7 juta di antaranya tidak terdiagnosis dan mereka tidak tahu bahwa mereka sakit. Faktor risiko diabetes di usia muda ini makin meningkat seiring angka obesitas, pola makan tinggi gula, dan gaya hidup kurang gerak, hal-hal yang semakin umum di kalangan generasi muda Indonesia.
3. Kolesterol Tinggi: Tak Ada Tanda Fisik yang Jelas
Kadar kolesterol yang tinggi juga tidak menimbulkan gejala jelas. Namun dalam jangka panjang, kolesterol yang menumpuk di dinding pembuluh darah dapat menyebabkan aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah), yang berujung pada serangan jantung dan stroke. Pemeriksaan darah sederhana bisa mendeteksi kondisi ini sebelum terlambat.
C. Mengapa Usia Muda adalah Waktu yang Tepat?
Banyak orang salah kaprah berpikir bahwa cek kesehatan hanya penting di usia 40-an ke atas. Padahal justru sebaliknya mendeteksi risiko lebih awal memberi lebih banyak waktu untuk tindakan pencegahan yang efektif.
1. Penyakit Tidak Menular (PTM) Kini Menyerang Usia Produktif
Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa tren PTM di Indonesia semakin mengkhawatirkan karena mulai bergeser menyerang kelompok usia produktif. Dahulu, penyakit kronis seperti jantung koroner, stroke, dan diabetes identik dengan lansia. Kini, generasi muda pun tak luput dari ancaman ini akibat perubahan gaya hidup, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan stres.
PTM bahkan menyerap biaya terbesar dalam program JKN. Penyakit jantung saja menelan biaya BPJS hingga Rp10,28 triliun di tahun 2023. Ini menunjukkan betapa besarnya beban yang bisa dihindari bila deteksi dilakukan lebih awal.
2. Periode Emas Pencegahan
Menurut program Young Health Programme (Plan International Indonesia & AstraZeneca), rentang usia 10–24 tahun merupakan periode emas untuk mencegah PTM di masa depan. Kebiasaan dan pola hidup yang terbentuk di usia muda sangat menentukan kondisi kesehatan di usia lanjut.
Studi ilmiah internasional BETTER LIFE Guidelines (BMC Primary Care, 2024) menegaskan bahwa tindakan pencegahan dan skrining pada rentang usia 18–39 tahun adalah investasi kesehatan yang terbukti secara ilmiah, mencakup pemeriksaan kardiovaskular, diabetes, obesitas, hingga kesehatan mental.
D. Panduan Pemeriksaan Kesehatan untuk Usia Muda
Pemeriksaan kesehatan rutin sebaiknya mulai dilakukan sejak usia muda, bahkan ketika belum ada keluhan.
1. Rekomendasi Pemeriksaan
Berdasarkan rekomendasi USPSTF, WHO, dan Kementerian Kesehatan RI, berikut beberapa pemeriksaan yang dianjurkan:
2. Pemeriksaan Khusus Berdasarkan Jenis Kelamin
3. Panduan CERDIK dari Kementerian Kesehatan RI
Kemenkes RI merumuskan panduan hidup sehat yang mudah diingat. Huruf pertama, Cek kesehatan secara rutin, bukan tanpa alasan diletakkan di posisi pertama — tanpa mengetahui kondisi kesehatan sendiri, langkah pencegahan lainnya menjadi kurang terarah.
E. Mitos dan Fakta
Masih banyak orang yang ragu untuk melakukan cek kesehatan karena percaya pada berbagai anggapan yang belum tentu benar. Padahal, pemahaman yang tepat dapat membantu kita lebih peduli terhadap kesehatan sejak dini. Berikut beberapa mitos dan fakta seputar cek kesehatan rutin.
1. Mitos: “Saya merasa sehat, berarti saya sehat”. Faktanya, banyak penyakit kronis tidak menimbulkan gejala. Merasa sehat tidak berarti tidak ada masalah yang perlu ditangani.
2. Mitos: Cek kesehatan itu mahal. Faktanya, pemegang kartu BPJS Kesehatan berhak mendapatkan skrining dasar di Puskesmas secara gratis atau sangat terjangkau. Deteksi dini jauh lebih hemat daripada mengobati penyakit yang sudah lanjut.
3. Mitos:“Kalau ada masalah, pasti saya akan merasakannya”. Faktanya, hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi adalah tiga kondisi pemicu komplikasi serius yang umumnya tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun.
4. Mitos:Cek kesehatan hanya perlu kalau ada keluarga yang sakit. Faktanya, Riwayat keluarga memang meningkatkan risiko, namun gaya hidup modern (kurang gerak, pola makan tidak sehat, stres, kurang tidur) juga cukup memicu PTM meski tidak ada faktor keturunan.
Cek kesehatan rutin di usia muda bukan tanda bahwa Anda sakit, tapi justru sebaliknya, itu tanda bahwa Anda peduli dan bertanggung jawab atas kesehatan sendiri. Dalam dunia kesehatanmencegah selalu lebih baik, lebih murah, dan lebih efektif daripada mengobati.
Tubuh yang sehat adalah modal utama untuk menjalani hidup yang produktif, bermakna, dan panjang. Jangan tunggu sakit untuk mulai peduli.
Referensi :
World Health Organization. (2024). Hypertension Fact Sheet. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension
Wang, C., et al. (2020). Association of age of onset of hypertension with cardiovascular diseases and mortality. Journal of the American College of Cardiology, 75(24), 2921–2930.
American Diabetes Association. (2021). National Diabetes Statistics Report. ADA.
Combatting a silent killer – the importance of self-screening of blood pressure from an early age. PMC / European Journal of Preventive Cardiology. (2021).
Prevalence of Undiagnosed Hypertension in Young Adults: A Community-Based Study. PMC. (2023–2024).
Screening for Modifiable Risk Factors of NCDs in Urban Young Adults, Indore. PMC. (2023–2024).
Cooper, M., et al. (2024). BETTER LIFE – Guidelines for chronic disease preventive care for people aged 18–39 years. BMC Primary Care, 25.
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kemenkes RI. (2025). Pentingnya Edukasi Faktor Risiko PTM pada Remaja.
Kementerian Kesehatan RI. Penyakit Tidak Menular Kini Ancam Usia Muda. https://kemkes.go.id
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riskesdas 2018. Kementerian Kesehatan RI.
U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF). (2023). Clinical Preventive Services Guidelines for Young Adults.