Selasa, 12 Mei 2026 14:25 WIB

Stres Bikin Makan Terus Mindful Eating Bisa Jadi Solusinya

Responsive image
78
Amelia Ramadhani Irsga - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Tanpa disadari, kebiasaan mencari makanan saat stres sudah menjadi hal yang umum terjadi di lingkungan kerja. Dalam aktivitas sehari-hari, banyak pekerja yang menjadikan makanan sebagai “pelarian” saat menghadapi tekanan pekerjaan. Deadline yang menumpuk, pekerjaan yang tidak kunjung selesai, hingga kelelahan mental sering kali mendorong seseorang untuk makan secara berlebihan, bukan karena lapar, tetapi karena stres. Kebiasaan ini jika dibiarkan dapat membentuk pola makan yang tidak sehat, dan dapat mempengaruhi produktivitas pegawai maupun kondisi fisik.

Selama ini, penyakit akibat bekerja dianggap hanya disebabkan oleh risiko paparan infeksi, radiasi, posisi duduk terlalu lama, maupun tekanan stres yang tinggi. Padahal, pola makan yang tidak terkontrol pada pegawai juga menjadi salah satu faktor penting yang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti obesitas, gangguan pencernaan, hingga menyebabkan gangguan metabolik.

Kebiasaan menjadikan makanan sebagai “pelarian” saat stres seringkali terjadi tanpa adanya kesadaran terhadap sinyal lapar dan kenyang dari tubuh. Akan tetapi, ada satu sisi penting yang belum banyak diperhatikan dalam menjaga kesehatan pegawai, yaitu memunculkan kesadaran penuh saat makan atau yang dikenal sebagai mindful eating.

Mindful eating merupakan konsep yang berfokus pada kesadaran penuh terhadap pengalaman makan, mulai dari rasa lapar, emosi, hingga sensasi saat mengonsumsi makanan. Konsep ini berakar dari praktek mindfulness, yaitu kemampuan untuk hadir secara utuh pada momen saat ini.

Dalam praktiknya, mindful eating mengajak seseorang untuk:

-      Makan secara perlahan dan tanpa distraksi;

-      Mengenali perbedaan antara lapar fisik dan lapar emosional;

-      Menyadari rasa, aroma, dan tekstur makanan;

-      Berhenti makan ketika sudah merasa cukup.

Pendekatan ini penting karena banyak orang makan secara otomatis tanpa sadar, misalnya sambil bekerja, scrolling ponsel, atau menonton. Akibatnya, tubuh kehilangan kemampuan mengenali sinyal kenyang, sehingga cenderung makan berlebihan.

Disitulah peran mindful eating membantu individu untuk memahami hasrat ingin makan yang berasal dari emosi, seperti stres atau kebosanan. Dengan adanya jeda kesadaran, seseorang dapat memilih respons yang lebih sehat dibanding sekadar “melampiaskan” pada makanan.

Mindful eating bukan sekadar tentang apa yang dimakan, tetapi lebih kepada bagaimana dan mengapa kita makan.

Berikut beberapa langkah sederhana untuk menerapkan mindful eating bagi pegawai:

1.    Makan tanpa distraksi

Hindari makan sambil bekerja di depan laptop atau bermain ponsel. Fokus pada makanan dapat membantu otak mengenali rasa kenyang dengan lebih baik.

2.    Perlambat tempo makan

Luangkan waktu minimal 15-20 menit untuk makan. Mengunyah lebih lama membantu proses pencernaan dan memberi waktu bagi tubuh untuk mengirim sinyal kenyang.

3.    Kenali rasa lapar yang sebenarnya

Sebelum makan, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah saya benar-benar lapar, atau hanya stres?”.

4.    Melibatkan seluruh indera

Perhatikan warna, aroma, tekstur, dan rasa makanan. Hal ini meningkatkan kepuasan makan dan mengurangi keinginan makan berlebih.

5.    Atur jeda saat stres

Alih-alih langsung makan, coba lakukan alternatif seperti berjalan singkat, menarik napas dalam.

6.    Mulai dari target kecil

Pegawai dapat memulai dari target yang sederhana, misalnya:

-      makan tanpa distraksi selama 10 menit pada satu waktu makan setiap hari;

-      minum 1 gelas air setiap sebelum makan;

-       mengurangi konsumsi camilan saat stres dari setiap hari menjadi 2 kali dalam seminggu.

Pola makan yang tidak terkontrol akibat stres seringkali luput dari perhatian dalam kesehatan kerja. Padahal, kebiasaan ini dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan jangka panjang.

Mulai dari langkah dan target kecil, mindful eating dapat menjadi investasi penting untuk kesehatan yang lebih baik di masa depan.

 

Referensi :

Harvard   Health               Publishing.                (2011).               Mindful               eating. https://www.health.harvard.edu/healthy-aging-and-longevity/mindful-eating

Healthline.                  (2026).          Mindful        eating      101:     A beginner’s      guide. https://www.healthline.com/nutrition/mindful-eating-guide

World Cancer Research Fund. (2024). Mindful eating: A tool for a healthier you. https://www.wcrf.org/about-us/news-and-blogs/mindful-eating-a-tool-for-a-healthier-you/

Sumber gambar:
https://www.heart.org/en/-/media/Images/News/2024/September-2024/0927FoodBrainHealth_SC.jpg?sc_lang=en