Pneumonia adalah salah satu penyakit menular yang merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak di dunia. Diperkirakan ada 1,8 juta atau 20 persen dari kematian anak diakibatkan oleh pneumonia, melebihi kematian akibat AIDS, malaria dan tuberkulosis. Di Indonesia, pneumonia juga merupakan urutan kedua penyebab kematian pada balita setelah diare. Data WHO tahun 2021 menunjukkan pneumonia menyebabkan 740.000 kematian pada anak di bawah usia 5 tahun, atau setara dengan 14 persen dari total kematian balita di seluruh dunia. Berdasarkan data BPJS Kesehatan pada 2023, pneumonia menempati peringkat pertama sebagai penyakit dengan biaya pengobatan tertinggi, yaitu Rp 8,7 triliun, diikuti oleh tuberculosis (TB), penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, dan kanker paru.
Penyebab pneumonia adalah bakteri, virus, jamur, pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik dari paru-paru, maupun pengaruh tidak langsung dari penyakit lainnya. Bakteri yang biasa menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus dan Mycoplasma pneumonia, sedangkan virus yang menyebabkan pneumonia adalah adenoviruses, rhinovirus, influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV) dan para influenza virus yang menyebabkan infeksi. Infeksi ini diawali dengan mengganggu sistem pernapasan bagian atas (hidung dan tenggorokan) anak. Lalu, infeksi tersebut akan berpindah menuju paru-paru yang kemudian menghambat pergerakan udara dalam paru-paru. Kondisi ini akan membuat anak semakin mengalami kesulitan dalam bernapas, disebabkan kantung udara di paru-paru (alveoli) terisi dengan nanah serta cairan lainnya. Maka dari itu, oksigen pun sulit mencapai aliran darah
Sebagian besar pneumonia dapat ditangani hingga sembuh dalam waktu satu hingga dua minggu. Akan tetapi, pneumonia yang disebabkan oleh virus umumnya membutuhkan waktu penyembuhan yang lebih lama. Gejala penyakit ini pada anak mungkin berbeda-beda karena bergantung pada apa penyebabnya.
Apabila disebabkan oleh bakteri yang cenderung terjadi secara tiba-tiba, berikut beberapa gejala pneumonia pada anak:
Gejala awal pada pneumonia yang disebabkan oleh virus sama dengan yang disebabkan oleh bakteri. Akan tetapi, masalah pernapasan terjadi secara perlahan. Anak anda kemungkinan akan mengalami gejala seperti mengi dan batuk yang bertambah parah. Berikut beberapa gejala atau tanda lain yang mungkin terjadi, seperti:
Orang tua juga perlu memerhatikan apabila gejala pneumonia terlihat seperti masalah kesehatan lainnya. Maka dari itu, Anda perlu segera bertemu dengan dokter agar cepat didiagnosis. Penyakit ini dapat diobati jika terdiagnosa sedini mungkin serta dapat dicegah dengan imunisasi. Ini terbukti di negara-negara dimana imunisasi Pneumokokus Konyugasi atau PCV merupakan bagian dari program imunisasi rutin.
Untuk itu, WHO merekomendasikan agar PCV masuk dalam program imunisasi rutin bagi anak di seluruh dunia. Imunisasi PCV akan memberikan perlindungan yang efektif untuk bayi dan anak-anak terhadap penyakit pneumonia atau radang paru akibat infeksi bakteri pneumokokus. Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk melindungi seluruh anak Indonesia dari ancaman pneumonia melalui pemberian imunisasi PCV yang dilaksanakan secara bertahap dimulai pada tahun 2017. Tahun ini, seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali akan mendapatkan manfaat perlindungan dari vaksin PCV.
Melihat manfaatnya yang besar, Menkes berharap pemberian imunisasi PCV tidak hanya menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat pneumonia, namun juga dapat mencegah anak terkena Stunting. Sebab, pneumonia tidak hanya menyebabkan radang paru namun juga menganggu gizi penderitanya.
Pelayanan imunisasi PCV ini dilakukan di posyandu, puskesmas maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya seperti rumah sakit, klinik, praktik mandiri dokter, praktik mandiri bidan, dan fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan lainnya yang memberikan layanan imunisasi. lmunisasi PCV diberikan sebanyak 3 dosis. Dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis kedua usia 3 bulan dan dosis ketiga pada usia 12 bulan. Vaksin ini diberikan gratis. Vaksin yang digunakan aman dan telah direkomendasikan oleh WHO serta telah lulus uji dari BPOM.
Referensi:
Lia Amalia. (2020). Determinan Pneumonia Pada Anak Balita Di Puskesmas Pataruman III Kota Banjar Tahun 2018. Jurnal Medika Hutama, 1(1 Oktober), 8. Retrieved from https://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/16
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset kesehatan dasar 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2013.
Rudan I, Boschi-Pinto C, Biloglav Z, Mulholland K, Campbell H. Epidemiology and etiology of childhood pneumonia. Bulletin of the World Health Organization. 2008; 86 (5): 408-16. 22.
Sugihartono, Rashmatullah P, Nurjazuli. Analisis faktor risiko kejadian pneumonia pada baliota di wilayah kerja Puskesmas Kota Pagar Alam. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia. 2012; 11(1): 82-6.
Unicef/WHO. Pneumonia: the forgotten killer of children. Geneva: The United Nations Children’s Fund/World Health Organization; 2006.
Sumber Gambar
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170801213140-255-231794/sembilan-penyakit-yang-bisa-dicegah-lewat-imunisasi