Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat gangguan sekresi insulin, gangguan kerja insulin, atau kombinasi keduanya. Penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan utama di dunia karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi, baik akut maupun kronis, apabila tidak dikelola dengan baik.
Pengelolaan DM tidak hanya bergantung pada terapi farmakologis, tetapi juga memerlukan perubahan gaya hidup yang berkelanjutan, terutama dalam pengaturan nutrisi dan pola makan. Pengaturan nutrisi yang tepat berperan penting dalam menjaga kestabilan kadar glukosa darah, mempertahankan berat badan ideal, serta mencegah komplikasi.
Dalam pengelolaan DM terdapat lima pilar utama, yaitu edukasi, terapi nutrisi medis, aktivitas fisik, terapi farmakologis, dan pemantauan glukosa darah mandiri. Dari kelima pilar tersebut, terapi nutrisi medis menjadi komponen penting karena berhubungan langsung dengan pengendalian kadar gula darah sehari-hari.
Konsep Dasar Nutrisi pada Diabetes Mellitus
Pada prinsipnya, kebutuhan nutrisi penderita DM hampir sama dengan individu sehat, yaitu menerapkan pola makan gizi seimbang sesuai kebutuhan energi harian. Namun, penderita DM perlu memperhatikan konsep 3J, yaitu:
Pengaturan pola makan tersebut bertujuan untuk menjaga kestabilan kadar glukosa darah, mencegah lonjakan gula darah, serta mempertahankan keseimbangan energi tubuh.
Komposisi Zat Gizi pada Diet Diabetes Mellitus
1. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Pada penderita DM, asupan karbohidrat dianjurkan sekitar 45–65% dari total kebutuhan energi harian, dengan penekanan pada konsumsi karbohidrat kompleks dan tinggi serat.
Karbohidrat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Karbohidrat sederhana
Contohnya gula pasir, glukosa, sukrosa, sirup, dan minuman manis.
b. Karbohidrat kompleks
Contohnya nasi, roti gandum, kentang, jagung, oatmeal, dan umbi-umbian.
Konsumsi gula sederhana dianjurkan dibatasi kurang dari 5% dari total kebutuhan energi harian.
Serat memiliki peran penting dalam pengelolaan DM karena dapat:
Anjuran konsumsi serat bagi penderita DM adalah sekitar 25–30 gram per hari.
2. Protein
Protein berfungsi sebagai zat pembangun dan perbaikan jaringan tubuh. Kebutuhan protein pada penderita DM berkisar antara 10–20% dari total kebutuhan energi harian.
Sumber protein meliputi:
a. Protein hewani
Ikan, telur, daging tanpa lemak, ayam, dan susu.
b. Protein nabati
Tempe, tahu, kacang-kacangan, dan produk olahan kedelai.
Pada kondisi tertentu, kebutuhan protein dapat disesuaikan, antara lain:
3. Lemak
Lemak merupakan sumber energi dan berperan dalam penyerapan vitamin larut lemak, yaitu vitamin A, D, E, dan K.
Rekomendasi konsumsi lemak pada penderita DM adalah:
Penderita DM dianjurkan membatasi konsumsi lemak jenuh dan menghindari lemak trans karena dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
4. Vitamin, Mineral, dan Air
Vitamin dan mineral berfungsi sebagai zat pengatur dalam berbagai proses metabolisme tubuh. Sumber utama vitamin dan mineral adalah buah-buahan dan sayuran.
Selain itu, kecukupan cairan juga sangat penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, membantu proses metabolisme, dan mencegah dehidrasi.
Perencanaan Kebutuhan Kalori
Kebutuhan energi pada penderita DM umumnya dihitung berdasarkan berat badan ideal (BBI).
Rumus kebutuhan kalori:
Kebutuhan Kalori = 25–30 kkal × Berat Badan Ideal (BBI)
Beberapa faktor yang memengaruhi kebutuhan energi antara lain:
Distribusi kebutuhan makan harian dapat dibagi sebagai berikut:
Standar Diet DM dan Sistem Penukar
Diet DM menggunakan sistem penukar bahan makanan untuk memudahkan pasien dalam memilih makanan sesuai kebutuhan kalori dan zat gizi.
Kelompok bahan makanan dalam sistem penukar meliputi:
Sistem penukar membantu penderita DM tetap dapat mengonsumsi makanan yang bervariasi dengan pengaturan nutrisi yang lebih terkontrol.
Carbohydrate Counting
Carbohydrate counting merupakan metode pengaturan makan dengan menghitung jumlah karbohidrat yang dikonsumsi dalam setiap waktu makan.
Prinsip dasar metode ini adalah:
Tujuan carbohydrate counting antara lain:
Pengaturan nutrisi merupakan bagian penting dalam pengelolaan Diabetes Mellitus. Penerapan pola makan seimbang dengan memperhatikan jadwal, jumlah, dan jenis makanan dapat membantu mengontrol kadar glukosa darah serta mencegah komplikasi. Edukasi mengenai pemilihan makanan, sistem penukar, dan carbohydrate counting juga sangat diperlukan agar penderita DM mampu menerapkan pola makan sehat secara mandiri dan berkelanjutan.
Referensi :
American Diabetes Association. (2024). Standards of Care in Diabetes 2024. Diabetes Care, 47(Suppl. 1).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
PERKENI. (2021). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2021. Jakarta: Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.
Almatsier, S. (2019). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2017). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth (Edisi 12). Jakarta: EGC.
Soegondo, S., Soewondo, P., & Subekti, I. (2018). Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Sumber gambar :
Freepik (High angle flexitarian diet food assortment) https://www.magnific.com/free-photo/high-angle-flexitarian-diet-food-assortment_13863452.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=ae61fa32-d35d-4b65-9061-92c2c2405a9b&query=nutrisi+diet+pada+diabetes+mellitus