Menurut studi yang diterbitkan oleh Cureus Journal, sindrom Asperger ini ditandai dengan kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain, gangguan dalam keterampilan komunikasi, serta pola perilaku yang terbatas dan repetitif. Meskipun penyebab pasti dari sindrom Asperger masih belum diketahui, banyak penelitian menemukan bahwa faktor keturunan dan lingkungan kemungkinan besar berperan dalam perkembangan sindrom ini. Studi juga menunjukkan bahwa sindrom Asperger sering kali muncul bersamaan dengan gangguan neuropsikiatri lainnya, seperti perilaku obsesif-kompulsif, gangguan tidur, sindrom Tourette ADHD, dan gangguan kecemasan. Hal ini dapat mengakibatkan dampak psikologis yang lebih besar bagi individu yang mengalaminya, termasuk kesulitan dalam mengelola stres, berinteraksi dalam situasi sosial, serta menurunnya kemampuan intelektual dan tanggung jawab. Secara umum sindrom asperger adalah gangguan neurologis atau saraf yang tergolong ke dalam gangguan spektrum autisme. Gangguan spektrum autisme atau yang lebih dikenal autisme merupakan gangguan pada sistem saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Selain faktor keturunan, peneliti juga masih mengidentifikasi faktor lainnya, seperti infeksi virus, obat-obatan, komplikasi selama kehamilan, atau polusi udara yang mungkin juga berperan dalam perkembangan kondisi ini. Gejala sindrom Asperger pada anak dapat dilihat dari sikapnya yang pasif, sulit berbicara, dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain. Gejala ini perlu dikenali dan ditangani sejak awal. Bila tidak, anak dengan sindrom Asperger akan sulit mengembangkan potensinya dan sulit bersosialisasi.
Faktor Risiko dan Pemicu
Hingga saat ini, penyebab pasti sindrom Asperger belum diketahui secara jelas. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini memiliki keterkaitan dengan gangguan spektrum autisme, sehingga faktor penyebabnya diduga melibatkan kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Beberapa faktor yang sedang diteliti berkaitan dengan sindrom Asperger meliputi faktor keturunan, proses perkembangan sebelum kelahiran (prenatal), kondisi saat kelahiran (perinatal), serta kemungkinan pengaruh faktor biologis tertentu. Riwayat keluarga dengan gangguan spektrum autisme juga diduga berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya sindrom Asperger. Selain itu, beberapa faktor yang terjadi selama masa kehamilan dan sekitar waktu persalinan juga dapat menjadi faktor yang berhubungan dengan munculnya kondisi ini.
Memahami Ciri Khas / Gejala Sindrom Asperger dalam Kehidupan Sehari-hari
Sindrom ini memiliki gejala-gejala yang tidak terlalu berat dibandingkan dengan jenis penyakit autisme lainnya. Di balik kecerdasan yang dimiliki pengidap sindrom ini, ada beberapa tanda atau gejala yang khas, yaitu :
Penderita sindrom Asperger tidak mengalami gangguan kemampuan kognitif atau bahasa. Sebagian anak penderita sindrom ini bahkan bisa memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang tinggi dan menyimpan bakat di bidang tertentu, seperti matematika, sains, atau musik.
Penanganan Sindrom Asperger
Sebagian besar kasus sindrom Asperger memang tidak dapat dicegah dan disembuhkan, namun ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup anak.
1.Terapi perilaku
Terapi perilaku dilakukan untuk mendukung perubahan pola berpikir pada anak dengan sindrom Asperger, sehingga ia dapat mengontrol emosi dan perilaku tidak wajar yang kerap dilakukan berulang kali, misalnya menggoyangkan badan ke depan dan belakang ketika ia marah atau panik.
2.Latihan kemampuan sosial
Latihan ini dapat melatih kemampuan anak untuk berinteraksi dengan orang lain dan menunjukkan ekspresinya. Sesi latihan tersebut bisa diadakan secara perorangan atau berkelompok.
Melalui latihan kemampuan sosial, terapis akan melatih anak dengan sindrom Asperger untuk melakukan kontak mata ketika berbicara, menunjukkan rasa empati, atau melakukan kerja sama dalam kelompok.
3.Terapi wicara
Terapi wicara bertujuan untuk mengasah kemampuan komunikasi penderita sindrom Asperger, mulai dari cara menggunakan intonasi yang tepat saat berbicara hingga mengenali arti dari perilaku atau bahasa tubuh yang ditunjukkan lawan bicaranya.
4.Terapi okupasi
Terapi okupasi diperlukan dalam rangka meningkatkan kemampuan motorik anak dengan sindrom Asperger guna memperbaiki koordinasi tubuhnya. Dengan begitu, ia dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih efisien, misalnya cara berjalan dengan sikap yang benar dan cara menangkap bola.
5.Terapi keluarga
Keluarga menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan terapi sindrom Asperger. Dalam terapi ini, keluarga akan diajarkan bagaimana cara berinteraksi dengan anak penderita sindrom Asperger guna mendukung kemampuan sosialnya.
6.Terapi obat-obatan
Penggunaan obat-obatan dapat dipertimbangkan apabila terdapat gejala tertentu atau gangguan penyerta yang memengaruhi kondisi emosional, perilaku, maupun kesehatan mental pada individu dengan sindrom Asperger. Pemberian obat dilakukan sesuai evaluasi dan rekomendasi dokter.
Β
Referensi :
Lailatul Rahma, dkk. 2023. Peran Fasilitator dalam Upaya Meningkatkan Keterampilan Sosial Peserta Didik Sindrom Asperger di Sekolah Alam Saka Kediri. Jurnal Pendidikan Universitas Negeri Surabaya.
Nyoman Sumiati, dkk. 2022. Psikoedukasi Keluarga dalam Pengasuhan Anak Sindrom Asperger di DaycareΒ RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Jurnal Kesehatan Universitas Airlangga Surabaya.
Fombonne, E., Tidmarsh, L. 2015. Epidemiologic Data on Asperger Disorder. Child Adolesc Psychiatric Clin N Am.
Sadock, B.J., Kaplan H.I. 2010. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid Dua. Binarupa Aksara Publiser.
Coleman, P. K., Karraker, K. H. 2013. Maternal Self-Efficacy Beliefs, Competence in Parenting, and Toddlers Behavior and Develompental Status. Infant Mental Health Journal.
Selvapandiyan, J. 2023. Adolescents, Asperger Syndrome, Depression, and Cognitive Behavioral Therapy. In Handbook of Lifespan Cognitive Behavioral Therapy.