Senin, 05 Oktober 2026 10:51 WIB

Hipertensi Sering Tidak Bergejala dan Dapat Berdampak Serius

Promosi Kesehatan Tim Kerja Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Hipertensi Sering Tidak Bergejala dan Dapat Berdampak Serius
15 kali dilihat

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas, tetapi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal.

Hipertensi terjadi ketika tekanan darah di dalam pembuluh darah berada pada tingkat yang terlalu tinggi secara menetap. Tekanan darah dinyatakan melalui dua angka, yaitu tekanan sistolik dan diastolik. Diagnosis hipertensi tidak ditentukan hanya dari satu kali pengukuran, tetapi perlu dilakukan pengukuran secara tepat dan, bila diperlukan, dikonfirmasi melalui pemeriksaan berulang sesuai penilaian tenaga kesehatan.

Hipertensi sering disebut sebagai “silent killer” karena seseorang dapat memiliki tekanan darah tinggi tanpa merasakan keluhan berarti. Akibatnya, sebagian orang baru mengetahui dirinya mengalami hipertensi setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan atau ketika telah muncul komplikasi.

Hipertensi dapat terjadi pada berbagai kelompok usia. Risiko dapat meningkat seiring bertambahnya usia dan adanya faktor keturunan, tetapi gaya hidup juga memiliki peran penting. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi antara lain merokok, kurang aktivitas fisik, konsumsi garam berlebihan, pola makan yang kurang sehat, berat badan berlebih atau obesitas, konsumsi alkohol, serta stres yang tidak dikelola dengan baik.

Pada perempuan, tekanan darah tinggi juga dapat terjadi selama kehamilan. Kondisi tersebut memerlukan perhatian dan pemantauan medis karena dapat membahayakan ibu maupun janin apabila tidak ditangani dengan tepat.

Mengenal Kondisi yang Berkaitan dengan Hipertensi

Hipertensi tidak hanya berkaitan dengan angka tekanan darah, tetapi juga dapat dibedakan berdasarkan penyebab dan kondisi klinis yang menyertainya.

1.    Hipertensi Primer atau Esensial

Sebagian besar kasus hipertensi pada orang dewasa termasuk hipertensi primer atau esensial. Kondisi ini tidak disebabkan oleh satu penyakit tertentu, tetapi merupakan hasil interaksi berbagai faktor, seperti faktor genetik, usia, pola makan, berat badan, aktivitas fisik, dan gaya hidup.

Hipertensi primer umumnya berkembang secara perlahan dan dapat berlangsung tanpa gejala selama bertahun-tahun.

2.    Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder terjadi akibat kondisi atau penyakit tertentu yang mendasarinya. Beberapa penyebabnya antara lain penyakit ginjal, gangguan hormon, gangguan pembuluh darah tertentu, gangguan tidur, maupun penggunaan obat-obatan tertentu.

Berbeda dengan hipertensi primer yang berkembang secara bertahap, hipertensi sekunder dapat muncul secara lebih mendadak atau sulit dikendalikan apabila penyebab dasarnya belum ditangani.

3.    Tekanan Darah Meningkat atau Kondisi Berisiko

Tekanan darah yang berada di atas rentang optimal tetapi belum memenuhi kriteria hipertensi perlu menjadi perhatian. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda meningkatnya risiko hipertensi di kemudian hari, terutama apabila disertai faktor risiko lain.

Karena batas dan kategori tekanan darah dapat berbeda berdasarkan pedoman yang digunakan, hasil pengukuran sebaiknya dinilai oleh tenaga kesehatan dengan mempertimbangkan usia, kondisi kesehatan, serta hasil pengukuran berulang.

4.    Krisis Hipertensi

Krisis hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah meningkat sangat tinggi, umumnya sekitar 180/120 mmHg atau lebih. Kondisi ini memerlukan perhatian medis segera, terutama apabila disertai tanda kerusakan organ.

Krisis hipertensi dapat dibedakan menjadi kondisi dengan dan tanpa bukti kerusakan organ akut.

Hipertensi emergensi merupakan kondisi tekanan darah yang sangat tinggi dan disertai kerusakan organ akut, misalnya pada otak, jantung, ginjal, atau pembuluh darah. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis dan membutuhkan penanganan segera.

Sementara itu, istilah hipertensi urgensi dahulu digunakan untuk menggambarkan tekanan darah yang sangat tinggi tanpa bukti kerusakan organ akut. Namun, istilah ini semakin jarang digunakan dalam beberapa pedoman karena penanganan tidak semata-mata ditentukan oleh angka tekanan darah, melainkan juga kondisi klinis dan ada tidaknya kerusakan organ.

5.    Hipertensi dalam Kehamilan

Tekanan darah tinggi dapat terjadi selama kehamilan dan memiliki beberapa bentuk, termasuk hipertensi kronis, hipertensi gestasional, preeklamsia, dan eklamsia.

Kondisi tersebut perlu mendapatkan pemantauan tenaga kesehatan karena tekanan darah tinggi selama kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu dan bayi.

6.    Hipertensi Resisten

Hipertensi resisten adalah kondisi ketika tekanan darah belum mencapai target meskipun telah mendapatkan kombinasi beberapa obat antihipertensi yang sesuai dan telah digunakan secara tepat.

Kondisi ini memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya, termasuk kepatuhan minum obat, pola hidup, penggunaan obat atau zat tertentu, maupun adanya penyakit lain yang mendasari.

Mengapa Hipertensi Perlu Diwaspadai?

Tekanan darah yang tinggi dan tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat memberikan beban terus-menerus pada jantung dan pembuluh darah. Jika tidak ditangani dengan baik, hipertensi dapat meningkatkan risiko :

1.      Penyakit jantung dan gagal jantung;

2.      Stroke;

3.      Penyakit ginjal kronis;

4.      Kerusakan pembuluh darah;

5.      Gangguan penglihatan akibat kerusakan pembuluh darah di mata; dan

6.      Gangguan kesehatan lainnya.

Karena itu, pengendalian tekanan darah bukan hanya bertujuan menurunkan angka pada alat pengukur tekanan darah, tetapi juga untuk melindungi organ tubuh dari kerusakan dalam jangka panjang.

Langkah Sederhana untuk Mencegah Hipertensi

Pencegahan hipertensi dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain :

1.      Menjaga Berat Badan

Berat badan berlebih dan obesitas dapat meningkatkan risiko hipertensi. Menjaga berat badan tetap sehat melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik dapat membantu mengendalikan tekanan darah.

2.      Aktif Bergerak Secara Rutin

Aktivitas fisik secara teratur dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Pilih aktivitas yang sesuai dengan kemampuan, seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau olahraga lainnya.

Bagi orang dewasa, aktivitas fisik intensitas sedang sekitar 150 menit per minggu dapat menjadi salah satu target yang dapat dicapai secara bertahap.

3.      Kurangi Konsumsi Garam

Asupan natrium yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah pada sebagian orang. Batasi penggunaan garam serta makanan tinggi natrium, seperti makanan instan, makanan olahan, makanan kemasan, dan makanan yang terlalu asin.

4.      Perbanyak Sayur dan Buah

Pola makan bergizi seimbang dengan memperbanyak sayur, buah, sumber protein yang sehat, serta membatasi makanan tinggi lemak jenuh, gula, dan garam dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

5.      Berhenti Merokok

Merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta stroke. Berhenti merokok merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

6.      Batasi atau Hindari Alkohol

Konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Membatasi atau menghindari alkohol dapat membantu menurunkan risiko hipertensi dan penyakit terkait.

7.      Kelola Stres

Stres yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Luangkan waktu untuk beristirahat, melakukan aktivitas yang menyenangkan, berolahraga, dan menerapkan teknik relaksasi yang sesuai.

8.      Tidur yang Cukup dan Berkualitas

Tidur yang cukup dan berkualitas merupakan bagian dari gaya hidup sehat. Gangguan tidur tertentu, termasuk sleep apnea, juga dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi sehingga perlu diperhatikan apabila terdapat keluhan yang sesuai.

9.      Periksa Tekanan Darah Secara Berkala

Karena hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan tekanan darah secara berkala sangat penting. Pemeriksaan menjadi semakin penting bagi seseorang yang memiliki faktor risiko hipertensi, seperti riwayat keluarga, berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, atau pola makan tinggi garam.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah tinggi secara berulang, konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat.

Jangan Menunggu Gejala untuk Memeriksa Tekanan Darah

Hipertensi dapat berkembang tanpa keluhan yang berarti. Seseorang dapat tetap merasa sehat meskipun tekanan darahnya sudah tinggi.

Karena itu, jangan menunggu sakit kepala, pusing, atau keluhan lainnya untuk memeriksa tekanan darah. Pemeriksaan secara berkala merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menemukan hipertensi lebih awal dan mencegah komplikasi.

Menjaga tekanan darah bukan hanya tentang angka pada alat pengukur, tetapi tentang menjaga jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah agar tetap sehat dalam jangka panjang.

Kenali tekanan darah, ubah kebiasaan, dan kendalikan sejak dini. Karena mencegah komplikasi hipertensi dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

 

Referensi :

Ayu, D. A., dkk. 2023. Faktor-faktor yang Menyebabkan Hipertensi di Kelurahan Medan Tenggara. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan.

Dewati, C. A., dkk. 2023. Literature Review : Faktor Risiko Hipertensi di Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Universitas Jenderal Soedirman.

Kinasih, A., Fretes, F., dkk. 2021. Hubungan Aktivitas Fisik dan Risiko Hipertensi pada Usia Produktif di Salatiga. Jurnal Keperawatan, Universitas Muhammadiyah Semarang.

Anwar, C., dkk. 2022. Upaya Promotif dan Preventif Pencegahan Hipertensi pada Masyarakat. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Universitas Ubudiyah Indonesia, Banda Aceh.