Jumat, 08 Mei 2026 10:59 WIB

RSUP Dr M Djamil Peringati Hari Asma Sedunia dengan Edukasi Asma

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
44

Padang - RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif melalui berbagai kegiatan edukasi kesehatan. Pada Kamis, 7 Mei 2026, RSUP Dr. M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi memperingati Hari Asma Sedunia dengan menggelar edukasi kesehatan bagi pasien dan keluarga pasien di Poliklinik Paru RSUP Dr. M. Djamil.

Peringatan Hari Asma Sedunia tahun ini mengusung tema “Akses terhadap Inhaler Antiinflamasi untuk Semua Penderita Asma: Masih Merupakan Kebutuhan Mendesak.” Tema tersebut menjadi pengingat bahwa akses terhadap pengobatan yang tepat, khususnya terapi inhalasi antiinflamasi, masih menjadi tantangan yang harus terus diperjuangkan agar seluruh penyandang asma dapat memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.

Kegiatan edukasi ini menghadirkan narasumber dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Dr. dr. Masrul Basyar, Sp.P, (K), FISR, FAPSR, yang memberikan pemahaman komprehensif tentang asma, mulai dari pengenalan penyakit, faktor risiko, gejala, diagnosis, hingga pengobatan dan upaya pencegahannya. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pasien dan keluarga yang aktif mengikuti sesi edukasi serta mengajukan berbagai pertanyaan terkait pengelolaan asma dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Dr. dr. Masrul menjelaskan asma merupakan penyakit saluran napas yang sensitif dan mudah mengalami peradangan, sehingga menyebabkan saluran napas menjadi lebih reaktif terhadap berbagai pencetus. Kondisi tersebut dapat membuat saluran napas menyempit dan mengganggu aliran udara, sehingga menimbulkan berbagai keluhan pada penderitanya.

“Gejala asma yang sering dirasakan antara lain sesak napas, napas berbunyi atau mengi, dada terasa berat, serta batuk terutama pada pagi hari atau malam hari. Gejala ini bisa datang dan pergi, bahkan intensitasnya dapat berubah-ubah tergantung kondisi masing-masing pasien dan faktor pencetus yang dialami,” jelas Dr. dr. Masrul.

Ia menambahkan terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami asma. Di antaranya riwayat keluarga dengan asma, riwayat alergi, obesitas, paparan asap rokok, serta berbagai faktor lingkungan. Selain itu, terdapat pula faktor pencetus yang dapat memicu kekambuhan, seperti tungau, debu rumah, asap rokok, udara dingin, debu, infeksi virus, aktivitas fisik berat, stres emosional, parfum menyengat, hingga polusi udara.

“Penegakan diagnosis asma dilakukan melalui evaluasi gejala klinis, riwayat kesehatan pasien, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan fungsi paru sesuai indikasi medis. Diagnosis yang tepat sangat penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai dengan tingkat keparahan penyakitnya,’ ucapnya.

Dalam aspek pengobatan, Dr. dr. Masrul menekankan terapi asma saat ini semakin berkembang dan salah satu yang paling efektif adalah terapi inhalasi, terutama inhaler antiinflamasi yang bekerja langsung pada saluran napas. Penggunaan inhaler secara tepat, rutin, dan sesuai anjuran dokter menjadi kunci utama dalam mengontrol gejala serta mencegah serangan berulang.

“Banyak pasien merasa sudah sembuh ketika gejalanya membaik, lalu menghentikan pengobatan sendiri. Padahal asma adalah penyakit kronis yang membutuhkan kontrol jangka panjang. Terapi inhalasi yang digunakan dengan teknik yang benar dapat membantu mengendalikan peradangan dan menurunkan risiko serangan,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya langkah pencegahan melalui penghindaran faktor pencetus, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga sesuai kemampuan. “Kemudian menghindari paparan asap rokok, menjaga kebersihan lingkungan, serta melakukan kontrol berkala ke dokter,” tuturnya.

Menutup sesi edukasi, Dr. dr. Masrul menegaskan bahwa asma bukanlah hambatan untuk menjalani hidup secara produktif apabila pasien memahami penyakitnya dan menjalani pengobatan dengan disiplin.

“Pesan yang paling penting adalah asma dapat dikontrol. Dengan diagnosis yang tepat, terapi yang sesuai, akses terhadap inhaler antiinflamasi, serta kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, penyandang asma tetap bisa hidup aktif, sehat, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” tukas Dr. dr. Masrul. ***