Padang - RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan langkah transformasi tata kelola layanan kesehatan berbasis efisiensi biaya melalui kegiatan benchmarking pengelolaan unit cost bersama PT Bundamedik Tbk (BMHS Group). Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat, 8 Mei 2026 di ruang pertemuan RSU Bunda Padang dan menjadi bagian dari upaya penguatan sistem pembiayaan rumah sakit yang lebih transparan, akuntabel, serta berorientasi pada mutu layanan pasien.
Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menegaskan rumah sakit yang dipimpinnya telah mulai menerapkan skema unit cost sejak awal November tahun lalu. Penerapan sistem ini menjadi langkah penting dalam menyederhanakan struktur tarif sekaligus meningkatkan kepastian biaya layanan bagi pasien.
“RSUP Dr. M. Djamil telah menerapkan unit cost awal November lalu dengan skema tarif paket standar. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan sistem pembiayaan yang lebih transparan, efisien, dan mudah dipahami oleh masyarakat,” ujar Dovy Djanas dalam sesi diskusi benchmarking tersebut.
Pada kesempatan itu, Direktur Perencanaan dan Keuangan RSUP Dr. M. Djamil Luhur Joko Prasetyo didampingi Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Maliana, M.Kes menyampaikan kata pengantar penerapan unit cost. Dilanjutkan Ketua Unit Cost dr. Ardiansyah, Sp.BTKV, MARS, FICS, FIATCVS memaparkan penerapan unit cost di RSUP Dr. M. Djamil dan Wakil Kepala Instalasi SIMRS Fena Amalia Untari, SKM.MPH memaparkan ekosistem digital unit cost.
Ia menambahkan penerapan unit cost tidak hanya berdampak pada aspek finansial, tetapi juga mendorong perubahan budaya kerja di lingkungan rumah sakit, khususnya dalam hal efisiensi layanan dan penguatan tata kelola berbasis data. "Dengan sistem ini, setiap layanan kesehatan dihitung berdasarkan komponen biaya yang lebih terstruktur, sehingga rumah sakit dapat mengendalikan pemborosan sekaligus menjaga kualitas pelayanan tetap optimal," tuturnya.
Sementara itu, Direktur PT Bundamedik Tbk, Cuncun Wijaya, menyampaikan apresiasi atas inisiatif RSUP Dr. M. Djamil yang telah lebih dahulu mengimplementasikan sistem unit cost dalam operasionalnya. Pengalaman rumah sakit ini menjadi rujukan penting bagi pihaknya dalam mengembangkan tata kelola keuangan rumah sakit di lingkungan BMHS Group.
“Kami ingin belajar banyak dari pengalaman RSUP Dr. M. Djamil dalam mengelola unit cost. Implementasi yang sudah berjalan tentu menjadi referensi berharga bagi kami dalam memperkuat sistem pengelolaan biaya di rumah sakit-rumah sakit kami,” ujar Cuncun Wijaya.
Hal senada juga disampaikan oleh Komisaris Independen PT Bundamedik Tbk, drg. Arianti Anaya, MKM, yang menilai bahwa kolaborasi dan benchmarking seperti ini sangat penting dalam mempercepat peningkatan kualitas manajemen rumah sakit di Indonesia. Tantangan utama industri kesehatan saat ini bukan hanya pada aspek pelayanan medis, tetapi juga pada efisiensi pembiayaan dan keberlanjutan sistem.
“Pengelolaan unit cost yang baik akan sangat menentukan keberlanjutan layanan rumah sakit. Karena itu, kami melihat RSUP Dr. M. Djamil sebagai salah satu rumah sakit pemerintah yang sudah cukup maju dalam implementasi sistem ini dan layak menjadi pembelajaran bersama,” ungkap Arianti Anaya.
Diskusi tersebut juga menjadi ruang pertukaran pengalaman terkait tantangan implementasi unit cost, mulai dari penyesuaian sistem informasi, perhitungan biaya layanan, hingga perubahan pola manajemen operasional rumah sakit.
Dengan semakin kompleksnya kebutuhan layanan kesehatan dan tekanan efisiensi di sektor publik maupun swasta, model pengelolaan berbasis unit cost dipandang sebagai salah satu pendekatan strategis yang dapat memperkuat keberlanjutan sistem kesehatan nasional ke depan. ***