Sukoharjo - RSO R. Soeharso Surakarta kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pelatihan medis terkemuka di Indonesia dengan menggelar workshop Basic Orthopaedic Skill Course (BOSC) tahun 2026. Workshop intensif ini diselenggarakan sebagai wadah bagi para dokter umum, dokter residen, dan tenaga medis untuk menguasai keterampilan dasar penanganan kasus-kasus muskuloskeletal (otot dan tulang).
Acara yang berlangsung di Ruang Auditorium Lantai 3 Gedung Perkantoran RSO Soeharso ini memadukan pendalaman materi teoretis secara komprehensif dengan sesi praktik langsung (hands-on workshop). Kombinasi ini dirancang agar para peserta dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang didapat pada skenario klinis yang nyata.
Workshop tahun ini berfokus pada penanganan awal kegawatdaruratan ortopedi dan teknik pembedahan dasar yang aman. Beberapa materi inti yang diajarkan langsung oleh tim dokter spesialis senior RSO Soeharso meliputi Prinsip Penanganan Trauma Otot dan Tulang: Deteksi dini kompartemen sindrom dan stabilisasi awal pasien trauma, Teknik Splinting & Casting: Tata cara pemasangan bidai dan gips yang tepat untuk mencegah cedera lebih lanjut pada patah tulang, dan Keterampilan Dasar Kamar Operasi: Pengenalan instrumen ortopedi, teknik menjahit tendon/jaringan, serta dasar-dasar fiksasi internal dan eksternal.
Daya tarik utama dari workshop ini adalah sesi hands-on yang intensif. Setelah menerima pemaparan materi, para peserta langsung diarahkan ke laboratorium keterampilan untuk melakukan simulasi tindakan.
Menggunakan sawbones (model tulang buatan), peserta dilatih untuk mengasah kepekaan tangan (tactile feedback) dalam melakukan pemasangan pen (screw dan plate), teknik pengeboran tulang yang presisi, hingga pemasangan fiksasi luar (external fixation).
Direktur Utama RSO Soeharso Surakarta, Dr. dr. Tito Sumarwoto, Sp.OT(K), M.Kes, MH, MARS menyampaikan bahwa workshop ini merupakan agenda strategis untuk meratakan standar pelayanan ortopedi di Indonesia.
"Sebagai rumah sakit rujukan nasional, kami bertanggung jawab memastikan para dokter di lini terdepan — baik di Puskesmas maupun RS Daerah — memiliki kepercayaan diri dan skill yang mumpuni saat menerima pasien patah tulang sebelum dirujuk ke faskes lanjutan. Khususnya untuk para peserta didik RSPPU," ujarnya dalam sambutan pembuakaan.
Yang terpenting adalah kesalahan atau keterlambatan dalam stabilisasi awal patah tulang dapat meningkatkan risiko cacat permanen bagi pasien. Oleh karena itu, keterampilan dasar ini wajib dikuasai oleh tenaga medis di fasilitas kesehatan primer.
Dengan berakhirnya workshop ini, diharapkan para peserta didik RSPPU RSO Soharso dapat membawa keahlian taktis yang siap diterapkan di fasilitas kesehatan masing-masing, demi menurunkan angka morbiditas serta meningkatkan kualitas hidup pasien trauma di masyarakat. ***