Rabu, 29 Juli 2026 17:42 WIB

RS M Djamil Ajak Pasien Kenali Cara Mengelola Gagal Jantung dengan Benar

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
29

Padang - RS M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui kegiatan edukasi yang berkelanjutan. Sebagai rumah sakit Kementerian Kesehatan RI, upaya promotif dan preventif menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan kualitas hidup pasien, termasuk mereka yang hidup dengan penyakit kronis. Salah satu langkah nyata tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan penyuluhan kesehatan bagi pasien dan keluarga di lingkungan rumah sakit.

Pada Rabu, 29 Juli 2026, melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan, RS M. Djamil menggelar penyuluhan kesehatan yang berlangsung di ruang tunggu Poliklinik Jantung. Kegiatan ini diikuti oleh pasien serta keluarga yang tengah menunggu pelayanan kesehatan dengan tujuan meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan penyakit gagal jantung agar kondisi pasien tetap stabil dan risiko perawatan ulang dapat ditekan.

Penyuluhan menghadirkan narasumber Ns. Yoza Nofera, S.Kep., yang menyampaikan materi bertajuk Pasien Gagal Jantung, Bagaimana Mengelolanya?. Dalam paparannya, ia menjelaskan gagal jantung merupakan kondisi kronis yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada obat-obatan, tetapi juga dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam menjalankan pola hidup sehat dan mengenali perubahan kondisi tubuh sejak dini.

Ns. Yoza menegaskan terdapat sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan pasien untuk mencegah kekambuhan hingga mengurangi risiko rawat inap kembali. Salah satu yang paling utama adalah patuh menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter dan tidak menghentikan konsumsi obat tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

"Pasien gagal jantung harus disiplin dalam menjalani pengobatan. Obat yang diberikan dokter berfungsi menjaga kerja jantung tetap optimal sehingga tidak boleh dihentikan sendiri meskipun kondisi sudah terasa membaik," ujarnya.

Selain kepatuhan terhadap terapi, ia juga mengingatkan pentingnya menerapkan pola makan rendah garam dan membatasi asupan cairan sesuai anjuran dokter. Menurutnya, konsumsi garam yang berlebihan dapat menyebabkan penumpukan cairan di dalam tubuh sehingga memperberat kerja jantung dan memicu munculnya sesak napas maupun pembengkakan.

"Batasi konsumsi garam dan cairan sesuai anjuran. Langkah sederhana ini sangat membantu mencegah penumpukan cairan yang dapat memperburuk kondisi gagal jantung," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Yoza turut mengedukasi peserta tentang pentingnya memantau berat badan setiap hari. Kenaikan berat badan secara tiba-tiba dapat menjadi tanda adanya penumpukan cairan dalam tubuh yang perlu segera dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan agar dapat ditangani lebih awal.

Ia juga mendorong pasien untuk tetap melakukan latihan dan aktivitas fisik ringan sesuai kemampuan serta rekomendasi dokter. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur dapat membantu menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan kualitas hidup, sekaligus memperkuat fungsi jantung apabila dilakukan dengan aman.

"Olahraga ringan tetap diperlukan, namun harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Jangan memaksakan diri dan segera beristirahat apabila muncul keluhan seperti sesak, nyeri dada, atau kelelahan berlebihan," katanya.

Ns. Yoza memperkenalkan konsep zona kondisi gagal jantung yang perlu dipahami setiap pasien. Melalui pembagian zona hijau, kuning, dan merah, pasien diharapkan mampu mengenali kondisi kesehatannya sendiri sehingga dapat menentukan kapan cukup melakukan perawatan mandiri di rumah dan kapan harus segera mencari pertolongan medis.

"Memahami zona kondisi gagal jantung sangat penting. Dengan mengenali tanda-tanda peringatan sejak awal, pasien dapat segera mengambil tindakan yang tepat sehingga risiko komplikasi maupun rawat inap kembali dapat diminimalkan," tukasnya. ***