Padang - RS M. Djamil terus memperkuat transformasi budaya kerja dengan mendorong nilai-nilai BerAKHLAK tidak sekadar dipahami sebagai pedoman bagi aparatur, tetapi benar-benar diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Komitmen tersebut ditegaskan melalui Workshop Culture Matters: Menggerakkan Perubahan Melalui Nilai BerAKHLAK yang digelar di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M Djamil pada Jumat, 4 September 2026.
Mengusung tema “Dari Nilai Menjadi Perilaku, dari Perilaku Menjadi Budaya, dari Budaya Menjadi Kinerja Unggul”, workshop ini menjadi momentum bagi RS M. Djamil untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh sistem, prosedur dan kompetensi, tetapi juga oleh budaya kerja yang hidup dalam keseharian seluruh insan rumah sakit.
Direktur Layanan Operasional RS M. Djamil, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, mengatakan budaya organisasi tidak dapat dibangun hanya melalui slogan maupun dokumen. Budaya justru terbentuk dari perilaku yang dilakukan secara konsisten dan menjadi kebiasaan bersama. “Tema ini sangat penting. Karena pada akhirnya, budaya organisasi tidak dibangun hanya melalui slogan, dokumen, atau tulisan di dinding. Budaya dibangun dari perilaku yang kita lakukan setiap hari,” kata drg. Ade saat memberikan sambutan.
Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber dari Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur Kementerian Kesehatan RI. Yakni dr. Dora, M.K.M membawakan materi Leadership of Change. Muhammad Rifahah Aslam, S.Psi membawakan materi tentang Peran dan Fungsi Agen Perubahan atau Champion.
Materi Culture of Care: Early Detection & Compassionate Care disampaikan oleh Fitri Haryati, S.Pd. Dan Dr. Ahmad Muhidin, S.Psi., M.Psi menyampaikan materi Pengembangan Kompetensi.
Ia mengatakan nilai-nilai BerAKHLAK yang terdiri dari Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif sebenarnya sudah sangat dikenal oleh seluruh insan aparatur. Namun, tantangan yang lebih besar adalah bagaimana nilai tersebut diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam menjalankan tugas.
“Tantangan kita adalah bagaimana nilai itu benar-benar terlihat dalam perilaku kita ketika memberikan pelayanan kepada pasien, ketika berkomunikasi dengan keluarga pasien, ketika bekerja bersama rekan sejawat, ketika mengambil keputusan, ketika menghadapi masalah, dan ketika menjalankan tanggung jawab masing-masing,” ujarnya.
Ia menilai workshop Culture Matters memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kegiatan pembelajaran atau peningkatan pengetahuan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses membangun budaya kerja yang semakin kuat di RS M. Djamil, terutama dalam menghadapi tuntutan pelayanan kesehatan yang terus berkembang.
“Karena itu, saya melihat workshop ini bukan sekadar kegiatan pembelajaran, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun budaya kerja yang semakin kuat di RS M. Djamil,” tutur drg. Ade.
Sebagai rumah sakit rujukan, RS M. Djamil berada dalam lingkungan pelayanan yang kompleks. Setiap hari, rumah sakit menghadapi pasien dengan berbagai kondisi dan kebutuhan, tuntutan pelayanan yang tinggi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat, serta kebutuhan untuk terus meningkatkan mutu dan keselamatan pasien.
“Sebagai rumah sakit rujukan, kita bekerja dalam lingkungan yang kompleks. Kita berhadapan dengan pasien dengan berbagai kondisi, tuntutan pelayanan yang tinggi, perkembangan ilmu dan teknologi yang cepat, serta kebutuhan untuk terus meningkatkan mutu dan keselamatan pasien,” jelasnya.
Menurut drg. Ade, sistem yang baik harus berjalan bersama budaya kerja yang baik. Dengan demikian, kepatuhan terhadap standar pelayanan tidak semata-mata muncul karena adanya pengawasan, tetapi tumbuh dari kesadaran setiap individu untuk memberikan yang terbaik. “Dalam kondisi seperti itu, sistem dan prosedur memang sangat penting. Tetapi sistem yang baik akan menjadi lebih kuat apabila didukung oleh budaya kerja yang baik,” katanya.
Ia berharap budaya pelayanan yang dibangun di RS M. Djamil dapat mendorong setiap insan rumah sakit untuk memberikan pelayanan terbaik bukan karena takut diawasi, melainkan karena adanya kesadaran dan komitmen pribadi untuk memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. “Kita ingin membangun budaya di mana memberikan pelayanan terbaik bukan karena takut diawasi, tetapi karena memang menjadi kesadaran bersama,” tegasnya.
Hal tersebut juga berlaku dalam membangun budaya akuntabilitas. Setiap insan rumah sakit diharapkan mampu melihat tanggung jawab bukan sekadar sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai bagian dari integritas dalam menjalankan amanah dan memberikan pelayanan. “Kita ingin membangun budaya di mana akuntabilitas bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi menjadi bagian dari integritas setiap insan,” sambung drg. Ade.
Selain pelayanan dan akuntabilitas, penguatan kompetensi juga menjadi bagian penting dalam membangun budaya organisasi. Perubahan di sektor kesehatan berlangsung sangat cepat sehingga setiap insan rumah sakit perlu memiliki semangat untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan beradaptasi dengan perkembangan yang terjadi.
Di sisi lain, komunikasi dan kolaborasi juga menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Perbedaan yang muncul di dalam organisasi perlu dikelola dengan komunikasi yang baik dan sikap saling menghargai. Berbagai persoalan yang dihadapi juga perlu diselesaikan melalui kerja sama lintas profesi dan lintas unit.
“Kita ingin membangun budaya di mana kompetensi terus dikembangkan, komunikasi dilakukan dengan baik, perbedaan dapat dikelola secara harmonis, perubahan dapat dihadapi secara adaptif, dan setiap persoalan dapat diselesaikan melalui kolaborasi,” jelasnya.
Dalam proses perubahan budaya tersebut, drg. Ade menegaskan bahwa transformasi tidak dapat hanya mengandalkan peran pimpinan. Perubahan membutuhkan keterlibatan seluruh insan rumah sakit karena budaya organisasi pada dasarnya merupakan cerminan perilaku bersama.
Karena itu, keberadaan Champion of Change atau Agen Perubahan memiliki peran strategis dalam membantu menggerakkan transformasi budaya di lingkungan RS M. Djamil. Agen Perubahan diharapkan tidak hanya menjadi penyampai pesan organisasi, tetapi mampu menjadi teladan yang dapat dilihat secara langsung oleh rekan kerja.
“Agen perubahan bukan hanya seseorang yang memiliki tugas formal untuk menyampaikan nilai-nilai organisasi. Lebih dari itu, agen perubahan harus mampu menjadi contoh nyata dalam perilaku sehari-hari,” ungkapnya.
Menurut drg. Ade, keteladanan merupakan salah satu kunci dalam mendorong perubahan. Sebab, perubahan perilaku sering kali lebih mudah tumbuh ketika seseorang melihat contoh nyata di lingkungan kerjanya. “Karena sering kali orang tidak berubah karena mendengar apa yang kita katakan, tetapi mereka berubah karena melihat apa yang kita lakukan,” katanya.
Untuk itu, ia berharap para Champion of Change dapat mengambil peran aktif sebagai penggerak perubahan di unit kerja masing-masing. Mereka diharapkan mampu membangun komunikasi positif, memberikan contoh perilaku yang sesuai dengan nilai BerAKHLAK, mengajak rekan kerja untuk melakukan perbaikan, serta membantu menciptakan lingkungan kerja yang semakin kondusif.
“Oleh sebab itu, saya berharap para Champion of Change dapat menjadi penggerak yang mampu memberikan teladan, membangun komunikasi positif, mengajak rekan kerja untuk berubah, serta membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik,” harapnya. ***