Selasa, 15 September 2026 17:03 WIB

RS M Djamil Ajak Masyarakat Kenali Nyeri Punggung Bawah

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
44

Padang - RS M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat terhadap berbagai masalah kesehatan. Bertepatan dengan Pain Awareness Month, RS M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Neurologi menggelar kegiatan edukasi kesehatan dengan mengangkat tema “Mengenal & Mengatasi Nyeri Punggung Bawah” di Poliklinik Neuro RS M. Djamil, Selasa, 15 September 2026.

Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. dr. Restu Susanti, SpN, Subsp.NN (K), M.Biomed sebagai narasumber. Edukasi ini menjadi bagian dari upaya RS M. Djamil untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa nyeri, khususnya nyeri punggung bawah, tidak seharusnya dianggap sebagai keluhan sepele karena dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup apabila tidak ditangani dengan tepat.

Dalam pemaparannya, Dr. dr. Restu Susanti menjelaskan nyeri punggung bawah atau Low Back Pain merupakan rasa nyeri, pegal, atau tidak nyaman yang dirasakan di area pinggang, yaitu antara tulang rusuk bagian bawah hingga lipatan bokong. Keluhan tersebut dapat hanya dirasakan pada area pinggang, tetapi pada kondisi tertentu juga dapat menjalar hingga ke tungkai atau kaki.

“Nyeri punggung bawah bukan merupakan satu penyakit tunggal, melainkan sebuah gejala yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Keluhan bisa berkaitan dengan otot, ligamen, sendi tulang belakang, bantalan atau diskus, hingga saraf,” jelas Dr. dr. Restu Susanti.

Menurutnya, memahami lokasi dan karakteristik nyeri menjadi hal penting dalam menentukan langkah penanganan. Masyarakat perlu mengenali perbedaan antara area punggung, pinggang bagian bawah, dan pinggul karena masing-masing dapat memiliki sumber keluhan yang berbeda.

Nyeri punggung bawah merupakan keluhan yang cukup sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Penyebabnya pun beragam, mulai dari kondisi yang umumnya bersifat ringan hingga kondisi tertentu yang membutuhkan perhatian medis. Aktivitas fisik, posisi tubuh, kebiasaan sehari-hari, hingga kondisi kesehatan seseorang dapat berkontribusi terhadap munculnya keluhan tersebut.

Dr. dr. Restu Susanti menerangkan dalam memahami nyeri punggung bawah, tenaga kesehatan juga akan mempertimbangkan apakah nyeri yang dialami bersifat akut atau kronis. Nyeri akut umumnya berlangsung dalam waktu relatif singkat dan dapat berkaitan dengan kondisi tertentu, sedangkan nyeri kronis dapat berlangsung lebih lama dan membutuhkan evaluasi serta pendekatan penanganan yang lebih menyeluruh.

“Nyeri itu tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis. Kondisi psikologis dan lingkungan sosial seseorang juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan dan merespons nyeri,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, penanganan nyeri saat ini tidak cukup hanya melihat satu aspek. Pendekatan biopsikososial menjadi salah satu konsep penting dalam memahami nyeri, dengan memperhatikan tiga aspek yang saling berkaitan, yakni biologis, psikologis, dan sosial.

Aspek biologis dapat berkaitan dengan kondisi tubuh dan struktur yang mengalami gangguan. Sementara itu, faktor psikologis seperti stres, kecemasan, suasana hati, maupun kekhawatiran terhadap nyeri dapat turut memengaruhi persepsi seseorang terhadap rasa sakit. Di sisi lain, faktor sosial, termasuk dukungan keluarga, aktivitas pekerjaan, serta lingkungan tempat seseorang beraktivitas juga dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi dan proses pemulihan.

“Karena nyeri dipengaruhi banyak faktor, terapi juga perlu melihat pasien secara utuh. Kita tidak hanya mengobati sumber nyerinya, tetapi juga perlu memahami kondisi psikologis, aktivitas sehari-hari, pekerjaan, serta dukungan dari lingkungan pasien,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, peserta juga diberikan pemahaman tentang penyebab nyeri punggung bawah yang umumnya bersifat jinak serta kondisi-kondisi tertentu yang perlu mendapatkan perhatian medis. Masyarakat diimbau tidak melakukan diagnosis sendiri atau menganggap seluruh nyeri punggung sebagai keluhan biasa.

Menurut Dr. dr. Restu Susanti, dokter akan melakukan proses diagnosis melalui berbagai tahapan, mulai dari menggali riwayat keluhan, mengetahui lokasi dan karakteristik nyeri, aktivitas yang memicu atau memperberat keluhan, hingga melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan apabila memang diperlukan berdasarkan hasil evaluasi klinis.

“Tidak semua nyeri punggung bawah membutuhkan pemeriksaan penunjang seperti pencitraan. Pemeriksaan harus disesuaikan dengan kondisi dan indikasi medis pasien,” katanya.

Ia juga menjelaskan penggunaan obat-obatan dalam penanganan nyeri merupakan salah satu bagian dari terapi yang harus dilakukan secara tepat dan sesuai kondisi pasien. Pengobatan tidak sebaiknya dilakukan secara sembarangan, terutama dengan mengonsumsi obat secara terus-menerus tanpa mengetahui penyebab keluhan.

Selain terapi medis, perubahan aktivitas dan kebiasaan sehari-hari juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan nyeri punggung bawah. Pasien perlu mendapatkan edukasi mengenai aktivitas yang sesuai, menjaga kondisi fisik, serta menghindari kebiasaan yang dapat memperburuk keluhan.

Lebih lanjut, masyarakat juga perlu mengetahui kondisi yang menjadi tanda peringatan sehingga membutuhkan pemeriksaan segera. Nyeri yang memiliki karakteristik tertentu, disertai keluhan neurologis atau gejala lain yang mengkhawatirkan, perlu mendapatkan evaluasi medis agar penyebab yang lebih serius dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.

Dalam penanganan pasien dengan nyeri punggung bawah, keluarga dan lingkungan kerja juga memiliki peranan penting. Dukungan keluarga dapat membantu pasien menjalani proses pemulihan, sementara lingkungan kerja yang mendukung dapat membantu seseorang menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kesehatan yang sedang dialami.

“Penanganan nyeri bukan hanya tanggung jawab pasien dan dokter. Keluarga serta lingkungan kerja juga dapat berperan dalam mendukung proses pemulihan dan membantu pasien tetap dapat menjalankan aktivitas secara aman,” tutur Dr. dr. Restu Susanti. ***