Rabu, 16 September 2026 09:46 WIB

RS M Djamil Selenggarakan Pelatihan PPI Wujudkan Budaya Keselamatan Pasien

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
33

Padang - Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien terus diperkuat RS M. Djamil. RS M. Djamil secara berkelanjutan mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia, termasuk dalam aspek Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui pelaksanaan Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang dilaksanakan secara blended learning. Rangkaian pembelajaran daring berlangsung pada 16–18 September 2026, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran secara luring pada 21–22 September 2026 di Gedung Diklat RS M. Djamil.

Materi yang diberikan dalam pelatihan mencakup berbagai aspek penting dalam program PPI. Peserta mendapatkan pembelajaran tentang keselamatan pasien, kebijakan PPI, strategi pengendalian infeksi, mikrobiologi dan virologi dasar, epidemiologi Health Care Associated Infections (HAIs), kewaspadaan isolasi, surveilans HAIs, Infection Control Risk Assessment (ICRA), bundles HAIs, hingga monitoring program PPI.

“Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan untuk memenuhi persyaratan kompetensi atau menambah pengetahuan. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mutu pelayanan dan keselamatan pasien,” kata Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes saat memberikan sambutan.

Ia menjelaskan risiko infeksi merupakan bagian dari tantangan yang dihadapi setiap hari dalam lingkungan rumah sakit. Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan pasien, tetapi juga dapat berdampak pada tenaga kesehatan, keluarga pasien, pengunjung, serta seluruh orang yang beraktivitas di lingkungan rumah sakit.

“Di rumah sakit, kita berhadapan dengan berbagai risiko infeksi setiap hari. Risiko tersebut tidak hanya dihadapi oleh pasien, tetapi juga oleh tenaga kesehatan, keluarga pasien, pengunjung, maupun seluruh orang yang berada di lingkungan rumah sakit,” ujarnya.

Karena itu, penerapan PPI harus menjadi bagian dari budaya kerja seluruh insan rumah sakit. Pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam setiap proses pelayanan. “Karena itu, PPI harus menjadi cara kita bekerja, bukan hanya menjadi materi yang kita pahami di ruang pelatihan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Maliana juga mengingatkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi bukan hanya menjadi tanggung jawab Tim atau Instalasi PPI. Upaya menciptakan lingkungan pelayanan yang aman membutuhkan keterlibatan seluruh profesi dan unit kerja di rumah sakit.

“Setiap tenaga yang bekerja di rumah sakit memiliki peran dalam mencegah dan mengendalikan penularan infeksi. Dokter, perawat, bidan, tenaga laboratorium, radiografer, tenaga gizi, farmasi, tenaga kesehatan lingkungan, serta seluruh unsur pendukung pelayanan memiliki kontribusi dalam penerapan prinsip PPI,” tegasnya.

Ia berharap para peserta dapat membawa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan untuk diterapkan di lingkungan kerja masing-masing. Peserta juga diharapkan mampu membagikan pengetahuan tersebut kepada rekan kerja sehingga penerapan PPI dapat berjalan secara lebih konsisten dan menyeluruh.

“Apa yang diperoleh selama pelatihan ini jangan berhenti setelah sertifikat diterima. Pengetahuan dan keterampilan tersebut harus dibawa kembali ke unit kerja, diterapkan, dikomunikasikan kepada rekan kerja, dan menjadi bagian dari budaya pelayanan kita,” jelasnya.

RS M. Djamil, tuturnya, terus mendorong agar budaya keselamatan tidak hanya menjadi kebijakan yang tertulis, tetapi benar-benar menjadi bagian dari perilaku seluruh sumber daya manusia. Setiap tindakan yang dilakukan tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung pelayanan memiliki kontribusi terhadap terciptanya pelayanan yang aman.

“RS M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan memiliki tanggung jawab yang besar untuk memastikan pelayanan diberikan dengan standar keselamatan yang tinggi,” ujar dr. Maliana.

Menurutnya, kualitas pelayanan tidak dapat hanya diukur dari kecepatan pelayanan maupun kecanggihan teknologi yang tersedia. Aspek keamanan dalam setiap proses pelayanan juga menjadi bagian penting dalam menentukan mutu layanan rumah sakit.

“Pelayanan yang bermutu bukan hanya tentang seberapa cepat kita memberikan pelayanan atau seberapa canggih teknologi yang kita gunakan. Pelayanan yang bermutu juga ditentukan oleh seberapa aman pelayanan tersebut diberikan. Dan PPI merupakan salah satu fondasi utama dari keamanan tersebut,” pungkasnya. ***