Padang - RS M. Djamil terus berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan yang menyeluruh kepada pasien, tidak hanya melalui tindakan medis dan pengobatan, tetapi juga melalui edukasi yang mendukung proses penyembuhan dan peningkatan kualitas hidup pasien. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan kesehatan bagi pasien yang menjalani kemoterapi.
Pada Rabu, 16 September 2026 RS M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Instalasi Gizi mengadakan kegiatan penyuluhan kesehatan di Unit Kemoterapi. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Gizi pada Pasien Kemoterapi” dengan menghadirkan dua narasumber dari Instalasi Gizi, yakni Mukhairani Ferdi, S.Gz dan Suci Utari, S.Gz.
Dalam pemaparannya, Suci Utari, S.Gz menjelaskan masalah gizi merupakan salah satu kondisi yang cukup umum ditemukan pada pasien kanker. Beberapa di antaranya adalah penurunan berat badan, kekurangan nutrisi, sarcopenia atau berkurangnya massa dan kekuatan otot, serta berbagai gangguan pencernaan.
“Pasien kanker, khususnya yang sedang menjalani kemoterapi, dapat mengalami berbagai masalah gizi. Penurunan berat badan dan kekurangan nutrisi perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kondisi tubuh pasien selama menjalani pengobatan,” jelas Suci.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh penyakit kanker itu sendiri maupun efek samping pengobatan. Keluhan seperti mual, muntah, perubahan rasa dan aroma makanan, penurunan nafsu makan, kesulitan menelan, hingga gangguan pada saluran pencernaan dapat membuat pasien mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi menjadi bagian penting dalam mendukung pasien selama menjalani pengobatan. Pemberian makanan pada pasien kanker tidak semata-mata bertujuan untuk memenuhi rasa lapar, tetapi juga membantu mempertahankan kondisi tubuh agar tetap mampu menjalani proses pengobatan dengan baik.
Suci menyampaikan tujuan pemberian makan pada pasien kanker antara lain memperbaiki kekurangan nutrisi atau mencegah terjadinya malnutrisi. Asupan yang adekuat juga diperlukan untuk membantu mencegah komplikasi dan efek samping yang berkaitan dengan kondisi nutrisi pasien.
Selain itu, pemenuhan kebutuhan gizi juga berperan dalam mencegah berkurangnya massa otot, tulang, darah, organ, serta massa tubuh lainnya. Asupan makanan yang sesuai dapat membantu menyediakan kekuatan dan energi yang dibutuhkan tubuh dalam menjalani aktivitas maupun proses pengobatan.
“Pemenuhan gizi yang baik diharapkan dapat membantu memberikan kekuatan dan energi bagi tubuh, mendukung proses penyembuhan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Nutrisi juga berperan dalam membantu mempertahankan daya tahan tubuh sehingga pasien dapat terhindar dari risiko infeksi,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, pasien juga diberikan pemahaman bahwa tidak ada satu jenis makanan tertentu yang secara tunggal dapat menyembuhkan kanker. Namun, pola makan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pasien dapat menjadi bagian penting dalam menunjang proses pengobatan dan menjaga kondisi tubuh.
Makanan yang dikonsumsi selama menjalani kemoterapi perlu memperhatikan kondisi dan daya terima masing-masing pasien. Pasien dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi yang dapat diterima oleh tubuh serta tidak memperburuk keluhan atau efek samping yang sedang dialami.
Makanan yang bervariasi juga dianjurkan agar kebutuhan zat gizi tubuh dapat terpenuhi. Selain memperhatikan kandungan gizi, keamanan makanan juga menjadi hal penting, terutama bagi pasien yang kondisi daya tahan tubuhnya dapat mengalami perubahan selama menjalani pengobatan.
“Prinsipnya, makanan yang diberikan harus bergizi, sesuai dengan daya terima pasien, bervariasi, dan aman untuk dikonsumsi. Kondisi setiap pasien berbeda, sehingga pemilihan makanan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing,” ujar Suci.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa makanan dengan kandungan protein dan kalori yang cukup menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi pasien kanker. Protein diperlukan untuk membantu mempertahankan dan memperbaiki jaringan tubuh, termasuk membantu mempertahankan massa otot. Sementara itu, kebutuhan energi yang cukup diperlukan agar tubuh memiliki tenaga untuk menjalankan berbagai fungsi dan aktivitas.
Pasien juga dianjurkan mengonsumsi makanan yang bervariasi serta mengandung sumber antioksidan yang berasal dari bahan makanan seperti sayur dan buah dalam bentuk yang aman dan sesuai dengan kondisi pasien. Pemilihan jenis, tekstur, porsi, serta frekuensi makan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan daya terima pasien.
Dalam penyuluhan tersebut, narasumber juga memberikan pemahaman mengenai makanan yang perlu dibatasi. Pembatasan bukan berarti pasien harus menghindari seluruh jenis makanan tertentu secara mutlak, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, keluhan, kebutuhan gizi, serta anjuran tenaga kesehatan dan ahli gizi yang menangani pasien.
Mukhairani Ferdi, S.Gz turut menekankan pentingnya komunikasi antara pasien dengan tenaga kesehatan apabila mengalami kendala dalam pemenuhan makanan selama menjalani kemoterapi. Keluhan seperti nafsu makan menurun, mual, muntah, perubahan rasa, sulit menelan, diare, konstipasi, maupun keluhan lainnya sebaiknya disampaikan agar dapat dilakukan penyesuaian pola makan sesuai kondisi pasien.
“Jangan ragu untuk menyampaikan kepada tenaga kesehatan apabila ada keluhan yang membuat pasien sulit makan. Dengan mengetahui kondisi tersebut, ahli gizi dapat membantu memberikan alternatif makanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan daya terima pasien,” tutur Mukhairani.
Kegiatan penyuluhan berlangsung dengan interaksi antara narasumber dengan pasien dan keluarga yang hadir di Unit Kemoterapi. Selain mendapatkan informasi mengenai pentingnya gizi selama kemoterapi, peserta juga diberikan kesempatan untuk memahami lebih jauh tentang pemilihan makanan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh selama menjalani pengobatan. ***