Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Sabtu, 19 September 2026 07:41 WIB

Wamenkes Dorong Hilirasi IGRA dari RS M Djamil dan PDRPI Unand

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
42

Padang - RS M. Djamil terus memperkuat perannya sebagai rumah sakit rujukan sekaligus pusat pengembangan riset dan inovasi kesehatan. Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan yang dikembangkan melalui kolaborasi peneliti dari sejumlah institusi di Indonesia adalah Interferon Gamma-Release Assay atau IGRA, produk diagnostik untuk mendukung deteksi infeksi tuberkulosis.

Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR ke RS M. Djamil, Jumat, 18 September 2026. Pengembangan IGRA menjadi salah satu bagian dari riset yang tengah didorong untuk memperkuat kapasitas diagnosis berbasis penelitian sekaligus mempercepat hilirisasi hasil riset kesehatan.

Dalam pemaparannya di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil, Benjamin menekankan pentingnya pengembangan produk kesehatan buatan dalam negeri sebagai bagian dari arah pembangunan kesehatan nasional. Indonesia memiliki sumber daya manusia dan peneliti yang mampu menghasilkan inovasi di bidang kesehatan. Karena itu, hasil penelitian yang dikembangkan di perguruan tinggi maupun rumah sakit perlu terus didorong agar tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dilanjutkan hingga pemanfaatan dan produksi.

“Presiden ingin Indonesia itu kenapa harus selalu menggunakan alat kesehatan produksi luar negeri? Masa nggak ada sih buatan Indonesia,” ujar Benjamin.

Ia mengatakan penguatan ekosistem riset dan inovasi menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kemandirian kesehatan nasional. Produk hasil penelitian dalam negeri, menurutnya, perlu mendapat ruang untuk berkembang sehingga dapat memberikan manfaat langsung bagi sistem pelayanan kesehatan.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian dalam kunjungan tersebut adalah kit diagnostik Interferon Gamma-Release Assay atau IGRA yang dikembangkan oleh Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc.

Benjamin mengapresiasi pengembangan kit diagnostik tersebut karena IGRA menawarkan pendekatan pemeriksaan berbasis sampel darah untuk membantu mendeteksi infeksi bakteri penyebab tuberkulosis. “Saya kagum dengan inovasi riset diagnosis tuberkulosis yang lebih akurat, kit diagnostic Interferon Gamma-Release Assay (IGRA) yang dikembangkan Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc.,” katanya.

Menurut Benjamin, penggunaan sampel darah dalam pemeriksaan tersebut dapat mendukung proses deteksi infeksi. Pemeriksaan juga berkaitan dengan upaya skrining dan pencegahan karena hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar untuk melakukan tindak lanjut lebih awal terhadap seseorang yang teridentifikasi mengalami infeksi. “Dengan darah kita bisa mendeteksi infeksi bakteri penyebab tuberkulosis. Jika saat skrining positif maka kita dapat langsung melakukan pencegahan,” ujarnya.

Benjamin mengatakan Kementerian Kesehatan menargetkan tes IGRA tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung deteksi tuberkulosis pada tahun mendatang. Pengembangan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat deteksi TB sekaligus mendorong pemanfaatan produk diagnostik hasil riset dalam negeri.

“Inovasi seperti IGRA menjadi contoh bahwa rumah sakit tidak hanya berperan memberikan pengobatan kepada pasien, tetapi juga dapat menjadi tempat lahirnya penelitian yang memberikan kontribusi bagi sistem kesehatan nasional,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama RS M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua memaparkan transformasi rumah sakit, terutama dalam bidang pendidikan, riset, dan pengampuan. “Pengembangan riset menjadi salah satu bagian penting dalam transformasi RS M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan sekaligus institusi yang berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan,” tuturnya.

Saat ini, sejumlah penelitian tengah berjalan di lingkungan RS M. Djamil. Salah satunya adalah penelitian IGRA mencakup berbagai bidang, antara lain panel sepsis, infeksi saluran kemih, meningitis, ulkus, dan saluran cerna. Berbagai penelitian tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan diagnosis serta menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan.

“RS M. Djamil juga telah melakukan sejumlah penelitian terkait pengembangan metode deteksi berbagai penyakit. Penelitian yang sudah dilakukan antara lain deteksi panel pneumonia, deteksi 17 bakteri, deteksi MRSA, deteksi TB, deteksi Hepatitis B Virus, deteksi HIV serta deteksi jenis kelamin,” tuturnya.

Dovy mengatakan pengembangan berbagai penelitian tersebut merupakan bagian dari upaya RS M. Djamil memperkuat kapasitas dalam bidang diagnosis berbasis riset. “Ke depan, pengembangan riset tidak hanya diarahkan pada metode diagnosis, tetapi juga mencakup berbagai aspek lain yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan,” sebutnya.

Menurutnya, kebutuhan penelitian ke depan mencakup evaluasi terapi, obat, vaksin, stem cell, dan biosimilar. Pengembangan tersebut diperlukan agar kegiatan riset dapat memberikan kontribusi yang lebih luas terhadap peningkatan mutu pelayanan dan pengembangan teknologi kesehatan. “Selain itu, terdapat pula kebutuhan untuk mengembangkan perencanaan herbal medicine yang dapat digunakan sebagai terapi komplementer,” ucap Dovy.

Untuk mempercepat pengembangan riset, RS M. Djamil juga mendorong penguatan kolaborasi dengan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Kolaborasi tersebut diarahkan pada penguatan fasilitas riset sehingga proses penelitian dapat berjalan lebih optimal.

“Kami berharap penguatan fasilitas riset tersebut dapat mempercepat hilirisasi hasil penelitian dan pengembangan berbagai produk yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pelayanan di RS M. Djamil,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc menyebutkan produk IGRA tersebut dikembangkan dari tahap awal oleh peneliti yang berasal dari lima institusi riset dan rumah sakit di Indonesia. Pengembangan secara bersama tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemampuan nasional dalam menghasilkan produk bioteknologi kesehatan.

Menurut Andani, sebagian besar bahan baku yang digunakan dalam pengembangan produk tersebut telah diproduksi di dalam negeri. Di antaranya protein induktor dan detektor yang menjadi bagian penting dalam proses pengembangan kit diagnostik. “Produk IGRA ini merupakan produk yang dikembangkan sendiri dari awal oleh peneliti dari lima institusi riset dan rumah sakit di Indonesia,” kata Andani.

Ia menjelaskan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN produk tersebut saat ini berada pada kisaran 70 hingga 75 persen. Angka tersebut masih berpotensi meningkat seiring dengan pengembangan kemampuan produksi bahan baku di dalam negeri. “Sebagian besar bahan baku sudah dibuat di dalam negeri seperti protein induktor dan detektor. TKDN saat ini sekitar 70 sampai 75 persen,” ujarnya.

Andani menargetkan tingkat komponen dalam negeri produk tersebut dapat terus ditingkatkan. Pada 2027, TKDN diharapkan dapat mencapai sekitar 85 persen apabila antibodi yang dibutuhkan dalam proses produksi sudah dapat dibuat sendiri di dalam negeri. “Diharapkan tahun 2027 TKDN bisa mencapai 85 persen jika antibodi sudah dapat dibuat sendiri,” tuturnya.

Menurut Andani, pengembangan IGRA tidak hanya berkaitan dengan satu produk diagnostik. Proses tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun kemampuan riset dan produksi bioteknologi kesehatan di dalam negeri. “Saya menilai kemampuan mengembangkan produk dari bahan baku, proses penelitian, hingga menghasilkan produk diagnostik menjadi tahapan penting dalam membangun ekosistem bioteknologi kesehatan nasional,” tegasnya.***