Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Sabtu, 19 September 2026 07:47 WIB

RS M Djamil Jalin Kerja Sama dengan BPOM Kimia Farma dan Bio Farma untuk Hilirisasi Riset

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
39

Padang - RS M. Djamil terus memperkuat peran sebagai rumah sakit pendidikan dan pusat pengembangan riset kesehatan. Upaya tersebut diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), PT Kimia Farma Tbk, dan PT Bio Farma (Persero) terkait hilirisasi penelitian dalam rangka pengembangan obat dan obat alami, pengembangan riset penelitian, serta hilirisasi hasil riset di lingkungan RS M. Djamil.

Penandatanganan kerja sama tersebut berlangsung di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan pada Jumat, 18 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk memperkuat ekosistem penelitian kesehatan, sekaligus mendorong agar hasil-hasil penelitian yang dilakukan di rumah sakit tidak berhenti pada tahap publikasi, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bersama masing-masing perwakilan dari BPOM, PT Kimia Farma Tbk, dan PT Bio Farma (Persero). Turut disaksikan oleh Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, serta Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah.

Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, mengatakan penandatanganan kerja sama tersebut merupakan bagian dari komitmen rumah sakit untuk meningkatkan kualitas penelitian sekaligus mendorong hasil penelitian agar dapat memberikan dampak nyata.

"Penandatanganan kerja sama ini merupakan langkah penting bagi RS M. Djamil dalam memperkuat ekosistem riset dan mendorong hilirisasi hasil penelitian. Kami ingin penelitian yang dilakukan di rumah sakit tidak hanya berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi dapat dikembangkan dan memberikan manfaat bagi pelayanan kesehatan serta masyarakat," ujar Dovy.

Menurutnya, RS M. Djamil memiliki sumber daya manusia, pengalaman pelayanan, serta lingkungan akademik yang dapat menjadi modal penting dalam pengembangan penelitian kesehatan. Dengan adanya kolaborasi bersama BPOM, Kimia Farma dan Bio Farma, potensi tersebut diharapkan dapat diarahkan secara lebih terstruktur menuju pengembangan produk yang memenuhi aspek keamanan, mutu dan manfaat.

"Untuk melakukan hilirisasi tentu tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara peneliti, rumah sakit, regulator dan industri. Karena itu, kerja sama dengan BPOM, Kimia Farma dan Bio Farma ini menjadi sangat strategis bagi kami," katanya.

Ia menambahkan, pengembangan obat dan obat alami menjadi salah satu ruang yang dapat dikembangkan melalui kerja sama tersebut. Berbagai hasil penelitian yang memiliki potensi akan diarahkan untuk melalui proses pengembangan sesuai dengan ketentuan dan standar yang berlaku.

"Harapan kami, melalui kerja sama ini akan semakin banyak hasil riset di RS M. Djamil yang dapat dikembangkan. Tentunya semua harus melalui proses penelitian, pengujian dan regulasi yang sesuai sehingga produk yang dihasilkan benar-benar memiliki kualitas dan dapat dipertanggungjawabkan," ujar Dovy.

Kerja sama tersebut, tutur Dirut, juga memperkuat posisi RS M. Djamil sebagai salah satu institusi pelayanan kesehatan yang memiliki fungsi pendidikan dan penelitian. β€œAktivitas pelayanan yang dilakukan setiap hari menjadi sumber pengalaman dan data yang dapat menjadi dasar bagi pengembangan berbagai penelitian di bidang kesehatan,” ucapnya.

Dovy mengatakan rumah sakit akan terus mendorong para tenaga kesehatan dan peneliti untuk menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pelayanan. "Kami ingin membangun budaya riset yang semakin kuat di RS M. Djamil. Penelitian harus menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu pelayanan. Ketika hasil penelitian bisa dihilirkan, manfaatnya tentu akan jauh lebih besar," katanya.

Ke depan, RS M. Djamil akan terus mengidentifikasi berbagai potensi penelitian yang dapat dikembangkan dan dihilirkan. Penelitian yang memiliki potensi untuk menghasilkan inovasi akan diarahkan melalui proses yang terukur, mulai dari penelitian awal, pengembangan, pengujian, pemenuhan aspek regulasi hingga kemungkinan pemanfaatan atau produksi secara lebih luas.

"Target akhirnya tentu adalah bagaimana riset-riset yang ada bisa memberikan manfaat. Kami ingin apa yang dilakukan oleh para peneliti di RS M. Djamil memiliki dampak, baik untuk peningkatan pelayanan maupun untuk pengembangan produk kesehatan yang dibutuhkan masyarakat," tutur Dovy.

Ia berharap kerja sama tersebut tidak hanya menjadi seremoni penandatanganan, tetapi dilanjutkan dengan program-program konkret. "Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan. Setelah ini harus ada tindak lanjut yang konkret, baik dalam pengembangan penelitian, pengembangan obat dan obat alami maupun proses hilirisasinya," tegas Dirut. ***