Jakarta – Guna menekan angka kematian maternal dan neonatal di Indonesia, RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita kembali menyelenggarakan Pelatihan Teknik Ekokardiografi Dasar bagi Dokter Spesialis Anak Batch 2 yang telah sukses dirampungkan pada 19–20 September 2026. Pelatihan ini merupakan wujud nyata program pengampuan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) nasional, yang menargetkan peningkatan kompetensi dokter di ratusan Rumah Sakit Madya seluruh Indonesia.
Ketua Pengampuan KIA RSAB Harapan Kita, dr. Novitria Dwinanda, Sp.A., Subsp.N.P.M. (K), dalam penutupan acara menyampaikan bahwa tren penyebab kematian neonatal saat ini mulai mengalami pergeseran. Berdasarkan data Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) tahun 2024 dan 2025, angka kematian akibat kelainan kongenital—khususnya Penyakit Jantung Bawaan (PJB) dan kelainan saluran cerna—menjadi penyumbang tertinggi setelah faktor seperti sepsis dan asfiksia. Hal inilah yang mendorong percepatan pembekalan kompetensi skrining PJB bagi dokter spesialis anak.
Sistem Rujukan Baru yang Lebih Cepat (Fast Track) Dalam arahannya, dr. Novitria menekankan bahwa target utama pelatihan ini adalah agar dokter spesialis anak di tingkat Madya mampu melakukan skrining awal PJB dan menentukan jalur rujukan yang tepat. Menariknya, sistem rujukan untuk kasus PJB saat ini sudah tidak lagi kaku berjenjang dari RS Madya, ke RS Utama, lalu ke RS Paripurna.
"Kuncinya ada di Dokter. Begitu Dokter bilang ini harus operasi terbuka, maka pasien akan di-fast track menuju ke rumah sakit Paripurna. Kalau butuh kateterisasi, akan dikirim ke rumah sakit Utama. Jadi, di situlah pengampuan KIA berperan, kita bersama-sama membekali seluruh dokter spesialis anak di RS Madya untuk mampu melakukan skrining dan menentukan arah jalurnya," jelas dr. Novitria.
Dukungan Alat dari Kemenkes dan Pendampingan Jarak Jauh (Tele-mentoring) Menjawab kendala di lapangan terkait ketersediaan alat ekokardiografi beserta probe khusus neonatus, dr. Novitria membagikan kabar baik. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merencanakan distribusi bantuan alat ke rumah sakit di akhir tahun ini. Namun, distribusi ini mengutamakan rumah sakit yang dokter spesialis anaknya telah lulus pelatihan ini dan memiliki stabilitas listrik yang memadai.
Lebih lanjut, RSAB Harapan Kita juga berkomitmen tidak akan membiarkan para peserta kebingungan sendiri saat kembali bertugas ke daerahnya. "Kami menemani. Jika Dokter memiliki kasus dan kebingungan, tinggal sampaikan di grup WhatsApp, nanti kita akan fasilitasi Zoom bersama-sama. Dokter mengevaluasi pasien, fasilitator kami akan mengarahkan dari jarak jauh, persis seperti saat hands-on," tambahnya.
Selain itu, RSAB Harapan Kita akan melaporkan nama-nama dokter yang lulus bersertifikat ini kepada Direktorat Mutu Kemenkes, sehingga tindakan pemeriksaan ekokardiografi yang mereka lakukan di RS Madya nantinya dapat diklaim oleh BPJS. Dengan ditargetkannya separuh dari total 504 RS Madya se-Indonesia selesai dilatih pada tahun ini, akses penanganan PJB kritis bagi bayi baru lahir diharapkan dapat semakin cepat dan merata. ***