Rabu, 23 September 2026 17:27 WIB

RS M Djamil Dorong Masyarakat Kenali Gejala dan Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
32

Padang - RS M. Djamil terus mendorong peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan jantung melalui kegiatan edukasi kesehatan. Pada Rabu, 23 September 2026, RS M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan menggelar edukasi kesehatan di Poliklinik Jantung RS M. Djamil.

Kegiatan edukasi tersebut mengangkat tema “Penyakit Jantung Koroner, Bagaimana Skrining dan Gejalanya”, dengan menghadirkan narasumber dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, yakni dr. Tuti Irma Rahayu dan dr. Desi Paramitha Manelly.

Edukasi diberikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman pasien dan masyarakat tentang penyakit jantung koroner. Mulai dari pengertian, penyebab, faktor risiko, tanda dan gejala, pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit, pola makan, hingga langkah pertolongan pertama ketika muncul gejala yang mengarah pada serangan jantung.

dr. Tuti Irma Rahayu menjelaskan penyakit jantung koroner merupakan kondisi ketika pembuluh darah koroner yang memasok darah dan oksigen ke otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan. “Kondisi tersebut umumnya berkaitan dengan proses aterosklerosis, yaitu penumpukan plak yang terdiri dari lemak, kolesterol, dan berbagai material lain pada dinding pembuluh darah,” sebutnya.

Seiring waktu, tuturnya, plak dapat menyebabkan saluran pembuluh darah semakin menyempit sehingga aliran darah menuju otot jantung berkurang. “Apabila plak tersebut pecah, tubuh dapat membentuk bekuan darah yang kemudian menyumbat aliran darah secara tiba-tiba. Sumbatan inilah yang dapat menyebabkan serangan jantung,” ucap dr. Tuti.

Ia menjelaskan penyakit jantung koroner perlu mendapatkan perhatian karena seseorang dapat mengalami penyempitan pembuluh darah tanpa merasakan gejala yang jelas. Kondisi tersebut membuat pemeriksaan dan pengendalian faktor risiko menjadi bagian penting dalam pencegahan.

“Penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah yang memberikan suplai darah ke otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan dan pada sebagian orang baru diketahui ketika sudah muncul keluhan atau bahkan terjadi serangan jantung,” tegasnya.

Serangan jantung pada umumnya terjadi ketika aliran darah ke bagian otot jantung terhenti atau sangat berkurang. Penyebab yang paling sering berkaitan dengan penyakit jantung koroner adalah pecahnya plak aterosklerosis yang kemudian memicu terbentuknya bekuan darah atau trombus pada pembuluh darah koroner.

Karena itu, masyarakat diingatkan agar tidak menganggap sepele keluhan yang muncul, terutama nyeri atau rasa tidak nyaman di dada yang berlangsung beberapa menit, terasa seperti ditekan, tertindih, diremas, atau terasa berat. “Keluhan tersebut dapat disertai sesak napas, keringat dingin, mual, muntah, pusing, tubuh terasa lemas, maupun rasa tidak nyaman yang menjalar ke lengan, bahu, punggung, leher, rahang, atau bagian atas perut,” ungkapnya.

Pada sebagian orang, khususnya perempuan, orang lanjut usia, serta penderita diabetes, gejala serangan jantung dapat muncul secara tidak khas. Keluhan dapat berupa sesak napas, mudah lelah, mual, rasa tidak nyaman di dada atau bagian tubuh lainnya, bahkan tanpa nyeri dada yang sangat jelas.

“Gejala penyakit jantung koroner tidak selalu sama pada setiap orang. Karena itu, nyeri atau rasa tidak nyaman di dada yang muncul terutama saat aktivitas dan membaik dengan istirahat perlu diperhatikan. Bila keluhan menjadi lebih berat, berlangsung lebih lama, atau muncul bersama sesak dan keringat dingin, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis,” ujar dr. Tuti.

Selain mengenali gejala, tambah dr. Desi, skrining dan pemeriksaan kesehatan juga menjadi bagian penting dalam mengetahui kondisi jantung. Pemeriksaan awal dapat dimulai dengan wawancara medis untuk mengetahui keluhan dan riwayat penyakit, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan fisik, serta penilaian terhadap faktor risiko yang dimiliki seseorang.

Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan penunjang sesuai kondisi pasien. Salah satunya adalah elektrokardiogram atau EKG untuk melihat aktivitas listrik jantung. Pemeriksaan laboratorium, termasuk pemeriksaan kadar kolesterol dan gula darah, juga dapat digunakan untuk menilai faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Pada pasien tertentu, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, seperti ekokardiografi, uji latih jantung, CT scan jantung atau CT coronary angiography, maupun pemeriksaan angiografi koroner sesuai indikasi klinis. Pemilihan pemeriksaan tidak dilakukan secara sama pada setiap orang, tetapi disesuaikan dengan usia, gejala, faktor risiko, hasil pemeriksaan awal, dan pertimbangan dokter.

“Deteksi penyakit jantung tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami keluhan berat. Pemeriksaan kesehatan secara berkala penting dilakukan, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko. Dengan mengetahui kondisi lebih awal, faktor risiko dapat dikendalikan dan penanganan dapat diberikan sesuai kebutuhan,” sebutnya.

Sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit jantung koroner. Faktor tersebut antara lain merokok, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tidak terkontrol, diabetes melitus, kelebihan berat badan atau obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, serta stres yang tidak dikelola dengan baik.

Usia dan riwayat keluarga juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Risiko penyakit kardiovaskular cenderung meningkat seiring pertambahan usia. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit jantung koroner juga perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatannya.

Merokok menjadi salah satu faktor risiko yang penting karena berbagai zat dalam rokok dapat merusak pembuluh darah, meningkatkan kecenderungan pembentukan bekuan darah, serta memberikan dampak buruk terhadap sistem kardiovaskular. Karena itu, berhenti merokok merupakan salah satu langkah penting untuk menurunkan risiko penyakit jantung.

Pengendalian tekanan darah, gula darah, dan kolesterol juga tidak kalah penting. Ketiga kondisi tersebut sering kali tidak menimbulkan keluhan yang jelas pada tahap awal sehingga seseorang dapat merasa sehat meskipun memiliki faktor risiko yang belum terkontrol.

Dari sisi pola makan, masyarakat dianjurkan menerapkan diet yang mendukung kesehatan jantung. Pola makan tersebut antara lain mengutamakan sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein yang lebih sehat. Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, lemak trans, garam, gula tambahan, serta makanan ultra-proses perlu dibatasi.

Pengaturan pola makan juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Pasien yang telah didiagnosis memiliki penyakit jantung koroner dapat memerlukan pengaturan diet yang lebih spesifik, terutama apabila disertai diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit ginjal, atau kondisi medis lainnya.

“Pola makan merupakan salah satu bagian dari perubahan gaya hidup yang perlu dilakukan secara konsisten. Bukan hanya menghindari makanan tertentu, tetapi juga membangun kebiasaan makan yang lebih seimbang, memperhatikan jumlah dan kualitas makanan, serta menyesuaikannya dengan kondisi kesehatan masing-masing,” papar dr. Desi

Dalam kesempatan tersebut, peserta juga diperkenalkan kembali dengan prinsip CERDIK sebagai salah satu upaya menjaga kesehatan dan mencegah penyakit tidak menular. CERDIK merupakan singkatan dari Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet yang sehat dan seimbang, Istirahat yang cukup, serta Kelola stres.

“Penerapan CERDIK dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pemeriksaan kesehatan secara berkala membantu seseorang mengetahui kondisi tekanan darah, gula darah, kolesterol, berat badan, dan faktor kesehatan lainnya. Menghindari rokok membantu menjaga kesehatan pembuluh darah, sedangkan aktivitas fisik secara rutin membantu menjaga kebugaran dan mengendalikan berbagai faktor risiko,” tegasnya.

Pola makan seimbang perlu diikuti dengan istirahat yang cukup serta kemampuan mengelola stres. Keseluruhan kebiasaan tersebut saling berkaitan dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

“Pencegahan penyakit jantung koroner tidak hanya bergantung pada pengobatan ketika penyakit sudah terjadi. Gaya hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta pengendalian faktor risiko merupakan bagian penting yang dapat dilakukan sejak dini,” ucap dr. Desi. ***