Padang - RS M. Djamil memperingati World Alzheimer’s Day melalui kegiatan edukasi kesehatan yang digelar di Poliklinik Saraf pada Selasa, 22 September 2026. Kegiatan yang diselenggarakan RS M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RS M. Djamil tersebut mengangkat tema “The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters”.
Peringatan tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Alzheimer dan demensia, khususnya pentingnya mengenali perubahan fungsi kognitif sejak dini. Edukasi tentang penyakit yang berkaitan dengan penurunan fungsi otak tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat dan keluarga untuk tidak menganggap perubahan daya ingat sebagai sesuatu yang selalu wajar akibat bertambahnya usia.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. dr. Yuliarni Syafrita, Sp N, Subsp. NGD (K), hadir sebagai narasumber dan memaparkan materi “Mengenal Penyakit Alzheimer dan Demensia”. Ia menjelaskan terdapat perbedaan mendasar antara pikun sebagai bagian dari proses penuaan, demensia sebagai suatu sindrom atau kumpulan gejala, dan penyakit Alzheimer sebagai salah satu penyakit yang dapat menyebabkan demensia.
“Pikun, demensia dan Alzheimer tidak sama. Pikun merupakan bagian dari proses penuaan, sedangkan demensia adalah kumpulan gejala akibat penurunan fungsi otak. Alzheimer merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan demensia,” jelas Prof. Dr. dr. Yuliarni Syafrita.
Menurutnya, demensia merupakan suatu sindrom atau kumpulan gejala yang dapat memengaruhi berbagai kemampuan kognitif seseorang. Kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan daya ingat, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, mengambil keputusan, menjalankan aktivitas sehari-hari, serta berinteraksi dengan lingkungan sosial.
Sementara itu, penyakit Alzheimer merupakan salah satu penyebab demensia yang paling sering ditemukan. Pada penyakit Alzheimer, perubahan di dalam otak berlangsung secara perlahan dan progresif. Karena prosesnya berjalan bertahap, perubahan pada seseorang terkadang tidak langsung disadari oleh keluarga maupun orang-orang terdekat.
“Lupa tidak selalu berarti demensia. Yang paling penting adalah melihat polanya dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia menjelaskan, lupa sesekali merupakan hal yang dapat terjadi pada siapa saja. Namun, apabila gangguan daya ingat semakin sering terjadi, terutama ketika mulai mengganggu aktivitas dan kemandirian seseorang, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Tanda-tanda demensia dapat muncul dalam berbagai bentuk. Salah satu tanda yang sering terlihat pada tahap awal adalah sering lupa terhadap informasi yang baru saja diterima. Seseorang mungkin berulang kali menanyakan hal yang sama atau tidak mampu mengingat percakapan yang baru berlangsung.
Tanda lainnya adalah kebingungan mengenai waktu atau tempat. Seseorang dapat mengalami kesulitan mengetahui hari, tanggal atau lokasi, bahkan dapat tersesat di tempat yang sebelumnya sudah dikenal.
Gangguan komunikasi juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Seseorang dapat mengalami kesulitan menemukan kata yang tepat, mengikuti percakapan atau menyampaikan sesuatu yang sebelumnya dapat dilakukan dengan baik.
Selain itu, kesulitan melakukan aktivitas yang biasa dikerjakan juga patut menjadi perhatian. Aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan secara mandiri bisa menjadi lebih sulit, bahkan membutuhkan bantuan dari orang lain.
Penurunan kemampuan mengambil keputusan juga dapat terjadi. Seseorang dapat mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan atau mengambil keputusan yang sebelumnya dapat dilakukan tanpa masalah. Gejala lain yang dapat muncul adalah sering salah meletakkan barang dan kesulitan mengingat atau menemukan kembali lokasi barang tersebut.
Perubahan suasana hati maupun perilaku juga dapat menyertai kondisi demensia. Seseorang yang sebelumnya aktif dan mudah berinteraksi dapat mengalami perubahan perilaku, menjadi lebih mudah marah, cemas atau menunjukkan respons yang berbeda dari kebiasaannya.
“Tidak hanya itu, penderita juga dapat mulai menarik diri dari aktivitas sosial. Keengganan mengikuti kegiatan yang sebelumnya disenangi dapat menjadi salah satu perubahan yang perlu diperhatikan, terlebih jika terjadi bersamaan dengan perubahan kemampuan mengingat dan berpikir,” tuturnya.
Prof. Yuliarni menjelaskan pada penyakit Alzheimer terjadi perubahan di dalam otak yang berlangsung perlahan dan progresif. Karena itu, pengenalan gejala sejak dini menjadi bagian penting agar kondisi seseorang dapat dinilai dan ditangani sesuai kebutuhannya.
Dari sisi faktor risiko, terdapat faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang masih dapat dimodifikasi. Usia menjadi salah satu faktor risiko yang tidak dapat diubah. Selain itu, faktor genetik dan riwayat keluarga juga dapat berperan.
Sementara itu, terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup dan pengelolaan kondisi kesehatan. Faktor tersebut antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, kadar kolesterol dan penyakit pembuluh darah, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, kurang aktivitas fisik dan obesitas.
Gangguan pendengaran, gangguan tidur dan depresi juga menjadi hal yang perlu mendapatkan perhatian. Demikian pula kurangnya aktivitas sosial dan kurangnya stimulasi kognitif. “Karena sebagian faktor risiko dapat dimodifikasi, upaya menjaga kesehatan otak tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami gangguan daya ingat. Menjaga kesehatan sejak usia lebih muda menjadi bagian penting dalam upaya mempertahankan fungsi otak sepanjang kehidupan,” sebutnya.
Menurut Prof. Yuliarni, masyarakat dapat menjaga kesehatan otak dengan tetap aktif bergerak dan menerapkan pola makan sehat. Kesehatan pembuluh darah juga perlu dijaga dengan mengendalikan berbagai faktor risiko seperti tekanan darah, diabetes dan kolesterol.
Selain menjaga kesehatan fisik, otak juga perlu tetap aktif digunakan. Aktivitas yang memberikan stimulasi kognitif dapat menjadi bagian dari keseharian. Interaksi sosial juga penting karena tetap terhubung dengan orang lain dapat membantu seseorang mempertahankan aktivitas dan fungsi sosialnya.
Kualitas tidur turut menjadi perhatian. Tidur yang cukup dan berkualitas merupakan bagian dari pola hidup yang mendukung kesehatan secara keseluruhan. Fungsi pendengaran dan kesehatan mental juga perlu dijaga dan diperiksa apabila ditemukan gangguan.
“Menjaga otak tetap aktif, tetap bergerak, mengonsumsi makanan sehat, menjaga kesehatan pembuluh darah, tetap aktif berpikir dan terhubung dengan orang lain merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan otak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan apabila mulai menemukan perubahan yang menetap atau semakin mengganggu kehidupan sehari-hari. Pemeriksaan perlu dipertimbangkan ketika daya ingat semakin menurun, seseorang mulai sering bingung atau tersesat, maupun ketika mengalami kesulitan mengurus aktivitas sehari-hari.
Demikian pula apabila kemampuan berbicara atau berpikir mulai mengalami perubahan, terjadi perubahan perilaku, atau keluarga mulai melihat adanya perubahan yang berbeda dari kondisi sebelumnya.
Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan tersebut. Dalam banyak kondisi, orang terdekat justru menjadi pihak pertama yang menyadari adanya perubahan pada kebiasaan, perilaku atau kemampuan seseorang. Karena itu, komunikasi keluarga dan perhatian terhadap perubahan sehari-hari menjadi bagian penting dalam proses deteksi dini.
Tema “The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters” yang diangkat dalam peringatan World Alzheimer’s Day di RS M. Djamil menekankan arti penting diagnosis. Mengenali kondisi lebih awal memberikan kesempatan bagi pasien dan keluarga untuk memahami apa yang sedang terjadi, mendapatkan penanganan yang sesuai, serta merencanakan berbagai kebutuhan ke depan.
Prof. Yuliarni menjelaskan hingga saat ini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer secara sepenuhnya. Namun, kondisi tersebut bukan berarti tidak ada yang dapat dilakukan. “Belum ada terapi yang dapat menyembuhkan Alzheimer sepenuhnya. Akan tetapi, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk memperlambat dampak penyakit dan mempertahankan kualitas hidup,” jelasnya. ***