Jakarta – Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita secara resmi meluncurkan inovasi Integrasi Sistem Rujukan, Telekonsultasi, dan Telementoring bertajuk TeleNICU dan TelePediatrics pada Rabu, 16 September 2026 di Auditorium Gedung Administrasi RSAB Harapan Kita. Inovasi ini diharapkan mampu mengatasi tantangan geografis dan mempercepat penanganan kegawatdaruratan pada pasien neonatus dan anak di seluruh Indonesia.
Hadir mewakili Kementerian Kesehatan RI untuk meresmikan peluncuran ini, Direktur Pelayanan Klinis Kemenkes RI, dr. Obrin Parulian, M.Kes. Dalam sambutannya, dr. Obrin menyampaikan apresiasi yang tinggi atas inovasi Proyek Perubahan yang digagas oleh Direktur Medik dan Keperawatan RSAB Harapan Kita, dr. Endah Citraresmi, Sp.A, Subsp.AI(K)., MARS.
"Ini merupakan inovasi yang sangat signifikan dalam pelayanan kesehatan neonatus maupun pediatrik. Kita masih memiliki target menantang di tahun 2029 untuk menurunkan angka kematian ibu menjadi 77 per 100.000 dan angka kematian bayi menjadi 9,96 per 1.000 kelahiran hidup," ungkap dr. Obrin. Tingginya angka kematian neonatus saat ini sebagian besar disebabkan oleh kasus bayi berat lahir rendah, prematuritas, Respiratory Distress Syndrome (RDS), serta infeksi dan sepsis.
Melalui TeleNICU dan TelePediatrics, RSAB Harapan Kita bersama RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) akan berperan sebagai pengampu utama (hub), sedangkan rumah sakit daerah jejaring di seluruh Indonesia akan menjadi rumah sakit yang diampu (spoke). Sistem ini tidak hanya berfokus pada telekonsultasi untuk membantu keputusan klinis, stabilisasi, dan persiapan rujukan, tetapi juga mencakup telementoring yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi tenaga medis di rumah sakit daerah.
dr. Obrin juga membagikan success story penerapan awal TeleNICU di RSUD Wamena sekitar dua bulan lalu. Saat itu, RSUD Wamena menghadapi kasus bayi baru lahir dalam kondisi kritis dan berniat merujuk pasien ke Jakarta. Melalui telekonsultasi intensif, tim RSAB Harapan Kita membimbing dokter di Wamena untuk menstabilkan kondisi bayi hingga dinilai layak untuk dirujuk ke fasilitas terdekat yang mumpuni, yakni RSUD Jayapura atau RS Wahidin.
"Dengan telekonsultasi ini, kita dapat meminimalkan rujukan yang tidak perlu (unnecessary referral) dan memastikan bahwa pasien yang dirujuk sudah stabil, layak dirujuk, dan rumah sakit penerima rujukan pun sudah siap," tegas dr. Obrin.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, Sp.A., Subsp.E.T.I.A. (K), memaparkan bahwa inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Setiap harinya, RSAB Harapan Kita menerima antrean rujukan 20 hingga 30 bayi dan anak.
"Sambil menunggu antrean rujukan, kita bisa melakukan komunikasi dengan rumah sakit perujuk, melihat apakah tatalaksana awal di fasilitas mereka yang umumnya lebih sederhana, sudah dilakukan secara optimal. Ke depannya, kami berharap sistem rujukan layanan berbasis kompetensi akan semakin kuat," jelas dr. Reni.
Dengan komitmen memberikan akses layanan yang adil dan merata, RSAB Harapan Kita berharap inovasi digital ini dapat menjangkau seluruh pelosok negeri.
"Kami bangga menjadi pusat pengembangan implementasi rujukan ini. Sesuai tagline kami: 'Satu Konsultasi, Selamatkan Ribuan Nyawa, Jembatan Kepakaran Tanpa Batas Jarak', kami berharap inovasi ini bisa semakin banyak menyelamatkan nyawa anak-anak Indonesia," tutup dr. Reni. ***