Senin, 21 September 2026 16:08 WIB

Wamenkes Kepala BRIN Tinjau PDRPI FK Unand Kolaborasi Riset RS M Djamil Perkuat Ketahanan Kesehatan

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
24

Padang - Kolaborasi antara RS M. Djamil dengan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas terus didorong untuk memperkuat ekosistem riset, diagnostik, dan inovasi kesehatan di Sumatera Barat. Sinergi tersebut dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung upaya membangun ketahanan kesehatan nasional.

Penguatan kolaborasi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arif Satria, SP, M.Si ke PDRPI FK Unand, Jumat (18/9).

Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau fasilitas PDRPI sekaligus melihat perkembangan penelitian dan pengembangan produk bioteknologi yang berpotensi mendukung kebutuhan kesehatan nasional.

Kegiatan tersebut turut didampingi Direktur Utama RS M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua serta Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi, Ph.D dan Kepala PDRPI FK Unand Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc.

Direktur Utama RS M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas mengatakan, kolaborasi RS M. Djamil dengan PDRPI FK Unand merupakan bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih erat antara pelayanan kesehatan dengan riset dan inovasi. Rumah sakit memiliki pengalaman dan kebutuhan klinis yang dapat menjadi sumber penting bagi pengembangan penelitian.

Di sisi lain, PDRPI memiliki kapasitas akademik dan penelitian yang dapat mendukung pengembangan solusi terhadap berbagai persoalan kesehatan yang ditemukan di lapangan. “Kolaborasi RS M. Djamil dengan PDRPI sangat strategis. Rumah sakit memiliki kebutuhan klinis dan berbagai persoalan nyata yang dihadapi dalam pelayanan, sementara PDRPI memiliki kemampuan riset dan diagnostik. Dua kekuatan ini harus kita satukan agar menghasilkan inovasi yang benar-benar memberikan manfaat,” ujar Dovy.

Ia mengatakan, kerja sama tersebut tidak seharusnya hanya berorientasi pada kegiatan penelitian. Tetapi perlu dikembangkan menjadi sebuah ekosistem yang menghubungkan pelayanan, pendidikan, penelitian, diagnostik, dan inovasi. “Yang kita bangun bukan sekadar kerja sama penelitian, tetapi ekosistem. Pelayanan memberikan persoalan yang bisa diteliti, penelitian menghasilkan pengetahuan dan inovasi, kemudian hasilnya dapat dikembangkan kembali untuk mendukung pelayanan,” katanya.

Menurut Dovy, pola kolaborasi seperti itu penting untuk memastikan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat. Rumah sakit dapat memberikan gambaran tentang persoalan kesehatan yang dihadapi pasien, sementara pusat riset dapat membantu mencari pendekatan ilmiah dan teknologi untuk menjawab persoalan tersebut.

“Riset harus dekat dengan kebutuhan pelayanan. Apa yang kita temukan di rumah sakit bisa menjadi bahan untuk penelitian. Kemudian ketika sudah ada hasil penelitian, kita bersama-sama melihat bagaimana hasil tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan,” ujarnya.

Selain aspek diagnostik dan penelitian, kolaborasi tersebut juga diarahkan pada pengembangan produk bioteknologi. Dovy mengatakan, Indonesia perlu terus memperkuat kemampuan menghasilkan produk kesehatan melalui penelitian dan inovasi di dalam negeri.

“Ketahanan kesehatan nasional tentu membutuhkan kemampuan dari dalam negeri. Kita tidak hanya berbicara tentang pelayanan, tetapi juga kemampuan melakukan riset, mengembangkan teknologi diagnostik, dan menghasilkan produk kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan kita,” ujarnya.

Dovy mengatakan RS M. Djamil siap menjadi bagian dari proses pengembangan tersebut, terutama dengan memberikan perspektif klinis dan kebutuhan pelayanan yang dapat menjadi masukan bagi para peneliti. “Rumah sakit memiliki data, pengalaman klinis, tenaga kesehatan dan berbagai persoalan yang dihadapi setiap hari. Ini merupakan modal yang dapat kita kolaborasikan dengan kemampuan riset PDRPI dan Universitas Andalas,” katanya.

Menurutnya, keterlibatan rumah sakit dalam riset juga penting agar produk atau inovasi yang dikembangkan memiliki kesesuaian dengan kebutuhan pengguna. Setiap inovasi kesehatan pada akhirnya harus dapat memberikan manfaat bagi pasien dan meningkatkan kualitas pelayanan.

“Jangan sampai kita menghasilkan inovasi yang bagus secara ilmiah tetapi tidak menjawab kebutuhan di lapangan. Karena itu, rumah sakit perlu dilibatkan sejak awal sehingga aspek kebutuhan klinis dan pelayanan dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan riset,” ujar Dovy.

Ia menambahkan, proses pengembangan produk bioteknologi membutuhkan tahapan panjang. Hasil penelitian perlu melalui proses pengujian, validasi, pemenuhan standar, serta tahapan lain sebelum dapat dimanfaatkan secara luas. Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas institusi agar hasil penelitian memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke tahap hilirisasi.

“Riset tidak berhenti pada penemuan. Ada tahapan panjang setelah itu, mulai dari validasi, pengujian, pemenuhan standar sampai bagaimana produk tersebut dapat digunakan. Semua membutuhkan kolaborasi,” katanya.

Dovy menilai keterlibatan pemerintah, BRIN, perguruan tinggi, rumah sakit dan berbagai mitra lainnya akan menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan ekosistem riset kesehatan. “Tidak ada satu institusi yang bisa bekerja sendiri. Kita membutuhkan pemerintah, lembaga riset, universitas, rumah sakit dan mitra lainnya untuk bersama-sama membangun ekosistem inovasi kesehatan,” tukasnya. ***