Padang - RS M. Djamil terus memperkuat kesiapan tenaga kesehatan dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan melalui Pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) Batch 2. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring pada 21–23 September dan dilanjutkan secara luring pada 28–30 September.
Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya RS M. Djamil sebagai rumah sakit Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam memberikan pertolongan kepada pasien yang membutuhkan penanganan cepat, tepat, dan sesuai standar.
Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes., mengatakan kemampuan menghadapi kondisi kegawatdaruratan perlu terus diasah karena respons tenaga kesehatan menjadi salah satu faktor penting dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien.
“Pelatihan BTCLS ini merupakan salah satu upaya kita untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan. Kemampuan dalam memberikan pertolongan yang cepat, tepat, dan sesuai standar sangat diperlukan karena dalam kondisi kegawatdaruratan, setiap tindakan memiliki arti yang sangat penting bagi keselamatan pasien,” ujar dr. Maliana saat memberikan sambutan secara daring.
Ia menjelaskan, kemampuan tenaga kesehatan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teori, tetapi juga oleh keterampilan dalam menerapkan pengetahuan tersebut pada situasi pelayanan yang sebenarnya. Karena itu, perpaduan antara pembelajaran teori dan praktik menjadi bagian penting dalam pengembangan sumber daya manusia di lingkungan rumah sakit.
“Tenaga kesehatan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang terus diperbarui. Melalui pelatihan seperti BTCLS, kita berharap peserta tidak hanya memahami konsep kegawatdaruratan, tetapi juga mampu menerapkannya ketika menghadapi pasien di lapangan,” katanya.
Menurut dr. Maliana, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan juga perlu dilakukan secara berkelanjutan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Pembelajaran yang berkesinambungan diperlukan agar tenaga kesehatan tetap siap memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan standar yang berlaku.
“Kompetensi itu harus terus dijaga dan ditingkatkan. Kita ingin setiap tenaga kesehatan memiliki kesiapan dalam memberikan pelayanan, khususnya ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan respons segera. Pelatihan merupakan salah satu sarana untuk menjaga dan meningkatkan kompetensi tersebut,” tuturnya.
Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian pelatihan dengan serius dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam pengetahuan serta keterampilan. Ilmu yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan secara langsung dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
“Harapan kita, peserta dapat mengikuti pelatihan ini dengan baik dan nantinya mampu mengimplementasikan ilmu serta keterampilan yang diperoleh dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Pada akhirnya, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan akan bermuara pada peningkatan mutu dan keselamatan pasien,” tukas dr. Maliana. ***