Rabu, 30 September 2026 16:55 WIB

RS M Djamil Dukung RS Unand Jadi Rumah Sakit Pendidikan Utama 2027

RS M Djamil Dukung RS Unand Jadi Rumah Sakit Pendidikan Utama 2027
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 30 kali dilihat

Padang - RS M. Djamil memperkuat dukungan strategis terhadap rencana Rumah Sakit Universitas Andalas (RS Unand) menuju Rumah Sakit Pendidikan Utama pada 2027. Dukungan tersebut tidak hanya diarahkan pada penguatan pendidikan klinik, tetapi juga menyentuh aspek pelayanan, penelitian, mutu, tata kelola hingga hilirisasi hasil riset.

Komitmen itu ditegaskan Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, dalam paparannya pada Rapat Kerja RS Universitas Andalas, Rabu, 30 September 2026. Dalam forum tersebut, Dovy memaparkan materi bertajuk “Kolaborasi dan Dukungan RS Unand Menuju Rumah Sakit Pendidikan Utama Tahun 2027”.

Dovy mengatakan, perjalanan RS Unand menuju Rumah Sakit Pendidikan Utama membutuhkan kolaborasi yang tidak bersifat seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam kerja sama konkret dan berkelanjutan. Rumah sakit pendidikan tidak cukup hanya kuat dalam pelayanan atau pendidikan klinik, tetapi harus mampu mengintegrasikan pendidikan, pelayanan, dan penelitian dalam satu ekosistem.

“RS M. Djamil memberikan dukungan atas rencana RS Unand menuju Rumah Sakit Pendidikan Utama Tahun 2027. Kita ingin kolaborasi ini benar-benar mengintegrasikan pendidikan klinik, pelayanan dan penelitian dalam satu ekosistem kesehatan,” kata Dovy.

Menurut Dovy, integrasi tiga unsur tersebut menjadi kunci dalam membangun rumah sakit pendidikan yang mampu berkembang secara berkelanjutan. Pendidikan klinik membutuhkan dukungan layanan yang kuat, pelayanan membutuhkan pengembangan ilmu dan inovasi. “Sementara penelitian harus diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang ditemukan dalam pelayanan,” sebutnya.

Karena itu, RS M. Djamil menyiapkan sejumlah dukungan konkret bagi RS Unand. Dukungan tersebut mencakup mentoring klinik, berbagi keahlian, penguatan jejaring pendidikan, riset bersama, serta penguatan mutu dan tata kelola. “Mentoring klinik menjadi salah satu bentuk dukungan yang kita berikan. Kita ingin ada transfer knowledge dan pengalaman sehingga pengembangan RS Unand bisa dilakukan dengan fondasi yang semakin kuat,” ujar Dovy.

Tak berhenti pada pendidikan klinik, kolaborasi juga akan diarahkan pada berbagi keahlian dan penguatan jejaring pendidikan. Dengan jejaring yang lebih luas, RS Unand memiliki ruang untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia sekaligus memperluas kerja sama dalam bidang pendidikan dan pelayanan. Namun, salah satu aspek yang tidak boleh tertinggal dalam pembangunan rumah sakit pendidikan adalah penelitian.

Ia menilai penelitian harus ditempatkan sebagai mesin penggerak inovasi. Penelitian tidak boleh hanya berakhir sebagai dokumen akademik atau publikasi, tetapi harus mampu diterjemahkan menjadi inovasi yang memberikan dampak terhadap pelayanan dan masyarakat.

RS M. Djamil telah mengembangkan ekosistem riset yang berada di bawah koordinasi Clinical Research Unit atau CRU. Keberadaan CRU menjadi bagian penting dalam mengoordinasikan penelitian sehingga kegiatan riset dapat berjalan lebih terarah, terintegrasi dan memiliki target yang jelas.

“Di RS M. Djamil, ekosistem riset berada di bawah koordinasi Clinical Research Unit. Ini penting agar penelitian tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi terintegrasi dengan kebutuhan pendidikan dan pelayanan,” kata Dovy.

Ia berharap konsep serupa dapat menjadi perhatian RS Unand. Pendirian CRU di RS Unand dapat menjadi langkah strategis untuk mengonsolidasikan kegiatan penelitian sekaligus memperkuat posisi rumah sakit sebagai pusat pengembangan ilmu dan inovasi kesehatan.

“Mudah-mudahan RS Unand juga memfokuskan pada penelitian dengan mendirikan CRU. Dengan CRU, penelitian bisa dikelola lebih sistematis dan diarahkan untuk mendukung pendidikan, pelayanan, serta pengembangan inovasi,” ujarnya.

Dovy juga menekankan pentingnya kolaborasi triple helix dalam pengembangan riset. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah dan industri dinilai dapat membuka jalan lebih luas bagi hasil penelitian agar tidak berhenti di lingkungan akademik.

Tantangan terbesar dalam membangun ekosistem riset bukan sekadar menghasilkan penelitian, tetapi memastikan hasil penelitian dapat digunakan. Karena itu, hilirisasi penelitian dan riset kebijakan menjadi fokus yang harus diperkuat.

“Fokus utama kita adalah hilirisasi penelitian dan riset kebijakan untuk peningkatan hasil pelayanan. Jadi, penelitian harus memberikan manfaat yang nyata, bukan hanya berhenti pada publikasi,” tegas Dovy.

Dalam konteks tersebut, RS M. Djamil telah memperluas kerja sama dengan sejumlah pihak. Teranyar, RS M. Djamil menjalin kerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), PT Bio Farma, dan PT Kimia Farma. “Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring penelitian sekaligus membuka peluang hilirisasi inovasi. Keterlibatan unsur pemerintah dan industri diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan pelayanan dengan pengembangan produk, teknologi, kebijakan dan inovasi kesehatan,” ujar Dovy.

Menurutnya, pola kolaborasi seperti itu dapat dikembangkan pula oleh RS Unand. Rumah sakit pendidikan memiliki peluang besar untuk menjadi tempat bertemunya kebutuhan pelayanan, kekuatan akademik dan potensi industri. Di sisi lain, penguatan mutu dan tata kelola juga menjadi bagian dari dukungan RS M. Djamil.

Dovy menilai, status sebagai rumah sakit pendidikan utama harus dibangun dengan sistem yang kuat, terukur dan konsisten. “Pendidikan, pelayanan dan penelitian harus berjalan dalam tata kelola yang saling terhubung. Dengan demikian, setiap aktivitas yang dilakukan di rumah sakit dapat memberikan nilai tambah, baik bagi pasien, peserta didik, tenaga kesehatan, peneliti maupun institusi,” harapnya.

Dovy mengatakan, target Rumah Sakit Pendidikan Utama harus dilihat sebagai bagian dari perjalanan menuju kemandirian. Karena itu, langkah yang dilakukan saat ini harus memiliki orientasi jangka panjang. “Intervensi hari ini untuk kemandirian esok hari,” tegasnya. ***