Rabu, 30 September 2026 16:56 WIB

RS M Djamil Tekankan Pentingnya Deteksi Dini Hepatitis B

RS M Djamil Tekankan Pentingnya Deteksi Dini Hepatitis B
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 29 kali dilihat

Padang - Hepatitis B tidak selalu datang dengan gejala yang mudah dikenali. Infeksi virus hepatitis B (HBV) bahkan dapat berlangsung tanpa keluhan berarti, sementara kerusakan hati terus berkembang secara perlahan. Kondisi inilah yang menjadi perhatian RS M. Djamil dalam edukasi kesehatan yang digelar pada Rabu, 30 September 2026.

Melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan, RS M. Djamil menggelar edukasi kesehatan di Instalasi Diagnostik Terpadu dengan menghadirkan Ns. Gusnaini, S.Kep bersama tim. Edukasi mengangkat tema “Mengenal dan Mencegah Hepatitis B” sekaligus mengajak masyarakat lebih waspada terhadap penyakit yang dapat berkembang hingga menyebabkan sirosis hati dan kanker hati tersebut.

Ns. Gusnaini, S.Kep menjelaskan hepatitis B merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B atau HBV. Dalam perjalanannya, infeksi hepatitis B dapat berada dalam fase akut maupun berkembang menjadi infeksi kronis.

“Hepatitis B merupakan infeksi virus HBV. Infeksi ini memiliki dua fase, yaitu fase akut dan fase kronis. Yang perlu diwaspadai, pada sebagian orang infeksi dapat berlangsung tanpa gejala sehingga tidak disadari,” ujar Ns. Gusnaini.

Kondisi tanpa gejala tersebut membuat hepatitis B perlu mendapat perhatian serius. Seseorang dapat terlihat sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa, tetapi virus telah berada di dalam tubuh. Tanpa pemeriksaan, status infeksi dapat tidak diketahui hingga penyakit berkembang lebih jauh.

Karena itu, hepatitis B kerap menjadi ancaman yang disebut sebagai silent killer. Bukan karena penyakit tersebut selalu menimbulkan kematian, tetapi karena infeksi dapat berjalan diam-diam dan baru diketahui ketika kerusakan hati sudah terjadi.

“Hepatitis B bisa asimptomatik. Artinya, orang yang terinfeksi belum tentu merasakan gejala. Ini yang menjadi tantangan karena seseorang bisa tidak menyadari dirinya terinfeksi dan berpotensi menularkan kepada orang lain,” jelasnya.

Dalam edukasi tersebut, masyarakat juga diberikan pemahaman tentang jalur penularan hepatitis B. Virus HBV dapat menular secara perinatal, yaitu dari ibu yang terinfeksi kepada bayi. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan darah yang terinfeksi, hubungan seksual, maupun penggunaan barang pribadi secara bersama-sama yang berpotensi terkontaminasi darah.

“Penularan dapat terjadi secara perinatal, melalui kontak darah secara langsung, hubungan seksual, serta penggunaan barang pribadi secara bersama-sama,” katanya.

Pemahaman tentang cara penularan menjadi penting agar masyarakat tidak keliru dalam menyikapi hepatitis B. Pencegahan bukan hanya dilakukan ketika seseorang telah mengetahui dirinya terinfeksi, tetapi juga perlu diterapkan sebagai bagian dari perlindungan kesehatan sehari-hari.

Selain memahami jalur penularan, masyarakat perlu mengenali tanda dan gejala hepatitis B. Salah satu tanda yang dapat muncul adalah perubahan warna kulit dan mata menjadi kuning. Kondisi tersebut terjadi akibat meningkatnya kadar bilirubin dalam tubuh.

“Gejala klinis yang dapat muncul antara lain mata dan kulit menjadi kuning karena kadar bilirubin tinggi. Kemudian warna urine menjadi gelap dan pekat, menyerupai seduhan teh,” ungkap Ns. Gusnaini.

Gejala lainnya dapat berupa kelelahan dan nyeri perut. “Namun, keberadaan gejala tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk memastikan seseorang terinfeksi hepatitis B. Sebab, tidak sedikit kasus yang berlangsung tanpa gejala,” tuturnya.

Inilah alasan pemeriksaan menjadi bagian penting dalam menghadapi hepatitis B. Masyarakat yang memiliki faktor risiko perlu mempertimbangkan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi kesehatannya, sehingga apabila ditemukan infeksi dapat dilakukan tindak lanjut sesuai kondisi medis.

RS M. Djamil melalui edukasi tersebut juga menjelaskan bahwa hepatitis B memiliki perjalanan penyakit yang perlu diwaspadai. Infeksi dapat bermula dari tahap akut. Pada kondisi tertentu, infeksi kemudian berkembang menjadi hepatitis kronis. Jika berlangsung dalam jangka panjang dan menyebabkan kerusakan hati, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sirosis hati dan pada tahap selanjutnya meningkatkan risiko kanker hati.

“Perjalanan penyakitnya dapat melalui beberapa tahap, mulai dari infeksi akut, kemudian hepatitis kronis, sirosis hati, hingga kanker hati,” jelasnya.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa hepatitis B tidak dapat dianggap sebagai penyakit yang hanya menimbulkan keluhan sementara. “Infeksi kronis dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap organ hati. Karena itu, upaya pencegahan dan pengendalian harus dilakukan sejak awal,” ucapnya.

Ia menegaskan vaksinasi menjadi salah satu pilar utama pencegahan hepatitis B. Perlindungan melalui vaksinasi penting dilakukan sesuai ketentuan dan rekomendasi kesehatan. Di samping vaksinasi, pencegahan juga harus dibarengi dengan penerapan gaya hidup sehat dan perlindungan diri dari berbagai aktivitas yang berisiko menyebabkan penularan.

“Pilar utama pencegahan adalah vaksinasi. Selain itu, perlu didukung dengan gaya hidup sehat dan proteksi diri agar risiko penularan dapat ditekan,” kata Ns. Gusnaini.

Namun, vaksinasi bukan satu-satunya langkah yang perlu dilakukan. Bagi mereka yang berisiko atau ingin mengetahui status infeksinya, pemeriksaan menjadi langkah penting. Dalam edukasi tersebut, masyarakat dikenalkan dengan pemeriksaan HBsAg dan Anti-HBs.

Pemeriksaan HBsAg dapat digunakan untuk mendeteksi adanya infeksi hepatitis B, sedangkan pemeriksaan Anti-HBs berkaitan dengan keberadaan antibodi terhadap hepatitis B. Hasil pemeriksaan selanjutnya perlu diinterpretasikan oleh tenaga kesehatan untuk menentukan langkah yang sesuai.

Jika seseorang terdiagnosis mengalami infeksi hepatitis B dan memenuhi kriteria untuk mendapatkan pengobatan, terapi dapat diberikan berdasarkan kondisi pasien. Salah satu bentuk penanganan yang dapat digunakan adalah terapi antivirus sesuai indikasi medis.

“Deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan HBsAg dan Anti-HBs. Jika ditemukan kondisi yang membutuhkan terapi, penanganan termasuk terapi antivirus dapat diberikan sesuai hasil pemeriksaan dan kondisi pasien,” tuturnya.

RS M. Djamil melalui kegiatan edukasi tersebut mengajak masyarakat untuk tidak menunggu hepatitis B berkembang menjadi komplikasi. Kesadaran, pencegahan, pemeriksaan, dan penanganan yang tepat perlu berjalan beriringan untuk melindungi fungsi hati dan menekan dampak penyakit.

“Lindungi hati dan satukan langkah bersama. Jangan menunggu munculnya gejala untuk peduli terhadap hepatitis B. Pencegahan dan deteksi dini merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan hati,” pungkas Ns. Gusnaini. ***